Keluarga Wijaya dan Holver sangat bahagia dengan kabar kehamilan Dania. Saat ini di rumah keluarga wijaya sedang ramai berdatangan tetangga sebelah rumah mereka. Ratih ibu mertua Dania akan membagikan sembako dan beberapa lembar uang karena ingin menyalurkan rasa bahagia nya yang sebentar lagi akan mendapatkan cucu lagi.
Dania senang dengan ke antusiasan ibu mertuanya yang sangat senang dengan kehamilan nya, ayah mertuanya juga ikut andil dalam hal ini. Sedangkan Danu mendukung apa yang akan di lakukan orangtuanya.
"Denaya bakal punya adik." seru Denaya dengan wajah girang nya.
"Denaya senang?" tanya Danu kepada putrinya.
"Sangat senang, nanti Denaya ada teman main."
Setelah acara bagi-bagi sembako selesai semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah, seperti malam-malam biasanya. Tidak terkecuali Siska dan suaminya.
"Selamat ya Dan."
"Makasih Mbak.. " tersenyum ramah ke arah kakak iparnya.
Mereka semua larut dalam obrolan ringan hingga larut malam membuat semuanya undur diri satu persatu.
"Ibu, makasih ya." ujar Dania sebelum mertuanya masuk ke dalam kamar.
"Enggak perlu berterima kasih Nak, ibu seneng e pol." tersenyum lebar menatap menantunya.
Dania tersenyum dan beralih menatap ayah mertuanya.
"Ayah terima kasih."
"Sudah tak anggap anak dewe." mengelus kepala Dania sayang.
Dania beruntung dan senang berada di keluarga ini.
"Dari mana?" tanya Danu ketika baru mendapati istrinya masuk ke dalam kamar.
"Tadi ke kamar ayah sama ibu, buat bilang makasih." menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum melakukan ritual malamnya yaitu skincare an.
"Makasih ya Mas, aku sangat senang."
"Saya yang harusnya berterimakasih sama kamu, terima kasih sudah mau mengandung darah daging saya." memeluk erat istrinya yang sekarang sudah berada di ranjang.
"Sama-sama."
"Maaf untuk kesalahan saya yang kemarin." masih merasa bersalah dengan kesalahan nya yang kemarin.
"Kamu juga enggak sengaja Mas, aku juga enggak tau. Kita sama-sama salah dan lalai. Tapi alhamdulillah masih di beri kepercayaan untuk menjaga dia. Semoga nanti sampai lahiran semua sehat dan aman." harap Dania dengan senyum hangat yang terpancar jelas di wajahnya membuat Danu juga ikut tersenyum.
"Terima kasih, dan maaf."
Dania mengangguk, memejamkan matanya untuk menuju ke alam mimpi. Sepertinya mulai malam ini suaminya harus puasa. Karena saran dari dokter dan mungkin suaminya takut terjadi apa-apa yang tidak di inginkan.
"Udah rapi aja Mas?" ketika baru bangun tidur mendapati Danu yang sudah rapi dengan baju kemejanya.
"Ada urusan di pasar. Doakan semoga laku tinggi sayuran nya."
"Aamiin." menangkupkan kedua telapak tangan nya ke muka.
Danu berjalan mendekat ke istrinya, mengelus perut istrinya sayang. Sepertinya Danu tidak sabar dengan kehadiran calon anak keduanya.
"Pergi dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati ya Mas."
Berbalik menuju ke pintu kamar, Dania berniat untuk mengikuti suaminya.
"Mau kemana?"
"Anter Mas sampai teras."
"Di sini aja, salim." menyondorkan tangan nya untuk di cium.
"Hati-hati Mas."
Danu benar-benar hilang dari balik pintu, sedangkan Dania berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Jadwal Dania hari ini adalah mengantarkan putrinya Denaya untuk sekolah.
*****
Sudah larut malam dan suami Dania belum juga terlihat batang hidungnya. Membuat Dania khawatir.
Sedari sore Dania sudah menunggu di teras rumah menahan dingin nya angin karena tadi sempat hujan deras dan sekarang masih rintik-rintik.
"Tunggu di dalam saja Nak."
"Di sini saja Bu, tapi sampai malam kok belum pulang ya Bu?"
"Tadi ibu sempat telfon katanya ada masalah di pasar." lirih Ratih. Ia sebenarnya tidak ingin membebani menantunya dengan hal ini, apalagi sekarang menantunya sedang hamil. Tapi Ratih juga tidak bisa menyembunyikan hal ini.
"Masalah apa Bu?" khawatir Dania semakin menjadi jadi.
Akhir-akhir ini memang usaha perkebunan mereka sedang ada masalah. Entah itu gagal panen, kemalingan, dan sekarang sayuran mereka mendapat harga paling rendah di pasaran. Sebenarnya hal itu hal yang wajar, hanya saja memang membutuhkan waktu, pikiran, dan tenaga esktra untuk menyelesaikan masalah.
"Dapat harga rendah panen nya, wes gapopo jenenge wae wong usaha." mencoba menenangkan dirinya dan juga menantunya. Bohong jika Ratih tidak memikirkan hal ini. Apalagi sebagian besar penduduk di desa mereka ikut bekerja dengan Danu.
Setelah beberapa bujukan dan karena alasan kehamilanya akhirnya Dania mau di ajak menunggu di dalam rumah. Denaya yang sedari tadi di kamarnya belajar itu pun turun ke bawah. Mendapati Bunda dan Nenek nya ada di ruang makan.
"Bunda belum tidur? Nenek juga?" menatap bergantian.
"Kok belum tidur sayang?" tanya Dania kepada putrinya padahal ini sudah cukup larut.
"Tadi haus Bun, mau minum."
"Bunda ambilin." menuangkan air putih di gelas kosong. Menyerahkan nya ke Denaya.
"Makasih Bunda."
"Langsung tidur ya."
"Mau di kelonin Bunda." rengek Denaya manja. Membuat Ratih geleng-geleng kepala melihat tingkah manja cucunya.
"Biasanya juga tidur sendiri." goda Ratih ke cucunya.
"Biarin, Bunda juga mau kok. Iya kan Bun?"
"Enggak Bunda gak mau." mengalihkan pandangan.
"Bunda!" teriak nya nyaring membuat Dania dan Ratih terkekeh karena berhasil membuat Denaya kesal.
"Ayo, langsung tidur ya." berdiri dari duduknya menuju ke arah tangga terlebih dahulu.
"Siap!" mengikuti Dania menaiki tangaa dengan pelan.
Dania menatap jam dinding yang bertengger di kamar Denaya. Setelah menidurkan Denaya, Dania tidak ada niat untuk kembali ke kamarnya. Karena pasti suaminya itu tidak pulang. Tadi Danu mengabari lewat telfon kalau tidak bisa pulang hari ini karena sedang ada sedikit masalah. Dan menurut Dania ini bukan masalah sedikit tapi mungkin lumayan banyak.
Dania berharap urusan suami dan mertuanya berjalan lancar. Usaha suaminya dan mertuanya juga lancar seperti sedia kala.
Terima kasih😊
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Follow juga akun wp ku, thxyouu🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
DuDa (COMPLETED)
AcakDanuarta Putra Wijaya, Danu resmi menyandang status duda dengan satu orang anak ketika usianya menginjak 37 tahun. penghianatan, dan perselingkuhan itulah yang membuat pernikahan nya hancur. Mantan istri yang menjadi wanita karier membuat pernikahan...
