Empat puluh satu

68K 4.4K 351
                                        

Setelah beberapa hari berperang dengan hati dan juga pikiran nya Dania memutuskan untuk kembali ke kampung halaman suaminya.

Jujur saja Dania mengakui jika dirinya bersalah karena pergi dari rumah suaminya dan membawa putranya hanya saja Dania juga perlu menenangkan hatinya, bukan cuma Dania. Danu juga sama.

Dania berharap dengan situasi itu, semoga mereka berdua semakin lebih bijak lagi dalam mengatasi masalah rumah tangga yang akan terjadi.

Bukan perihal mudah untuk mempertahankan rumah tangga, apalagi dengan dua kepala yang memiliki pikiran yang berbeda. Satu sampai lima tahun pernikahan akan diuji dengan berbagai masalah tinggal bagaimana nantinya kita menyikapi. Bertahan atau mengakhiri.

Dania mengenakan dress berwarna pink membuat dirinya terlihat lebih muda dari umurnya, ia menggendong Arta menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang rawat suaminya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dania mengenakan dress berwarna pink membuat dirinya terlihat lebih muda dari umurnya, ia menggendong Arta menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang rawat suaminya.

"Arta senang mau ketemu Ayah?" tanya Dania kepada sang putra.

Arta mengangguk sebagai jawaban, Dania tau putranya itu sangat senang sekali ingin bertemu Ayahnya, bisa di lihat dari saat mereka akan berangkat ke sini senyum nya selalu mengembang dengan sangat lebar.

Ruang VIP 1, Dania berhenti tepat di depan pintu. Menarik nafas dalam sebelum mengetuk pintu dan membukanya.

Di ruangan itu tidak hanya Danu, semua keluarga Wijaya berkumpul di sana. Denaya yang melihat kedatangan adik dan juga Bundanya, segera turun dari pangkuan sang nenek.

"Bunda!" teriak girang Denaya menuju ke arah Dania.

Dania yang melihat antusias putrinya itu pun berjongkok dan tersenyum lebar.

"Denaya kangen.. " memeluk erat Dania.

Dania mengelus surai hitam putrinya, "Denaya apa kabar?"

Sebelum menjawab pertanyaan Bundanya Denaya melepas pelukan nya untuk melihat wajah Bundanya.

"Denaya baik... Tapi Ayah sakit." ujar Denaya menunjuk ke atas brankar rumah sakit.

Dania mengikuti, ia melihat suaminya yang duduk di atas brankar. Danu menatap Dania dengan sangat intens tidak berkedip sekalipun.

"Kita keluar dulu ya, biar Bunda di dalam dulu sama Ayah." ujar Ratih mengerti dengan keadaan menantu juga anaknya.

Setelah semua orang keluar dari ruang rawat Danu, Dania berjalan menuju samping brankar suaminya.

"Mas sakit apa?" menatap teduh suaminya. Yang di tatap hanya diam memperhatikan.

"Kenapa enggak mau minum obat? Mas enggak mau sembuh?"

"Buat apa saya sembuh kalau kamu enggak mau di samping saya."

Dania menghela nafas panjangnya, ia menatap wajah tampan suaminya. Mengusap rahang suaminya yang sekarang di penuhi bulu.

DuDa (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang