"Semua masalah kebun sudah selesai Mas?" tanya Dania kepada suaminya.
Selama dua hari suaminya itu tidak pulang dengan alasan ada masalah dengan kebun. Dan itu memang benar karena ayah mertuanya juga ikut mendampingi.
Danu mengangguk sebagai jawaban, memijat keningnya pelan. Akhir-akhir ini Danu di paksa untuk berpikir keras dengan semua masalah yang terjadi di kebun nya.
Kerutan di dahinya juga semakin jelas terlihat di tambah lagi dengan kantung matanya yang menghitam karena kurang tidur.
"Kamu tidur di mana Mas dua hari kemarin?"
Danu tidak berniat menjawab, ia lelah. Tubuhnya butuh istirahat. Mulai merebahkan dirinya tanpa menjawab pertanyaan istrinya. Membuat Dania tersenyum kecut.
Dania turun ke lantai bawah membantu Ratih untuk memasak makan malam nanti.
"Danu di kamar Nak?"
"Iya bu, kecapean jadi tidur." jelas Dania mengalihkan perhatiannya untuk menatap lawan bicaranya.
"Biarin istirahat dulu ya." menepuk pelan bahu menantunya. Dania paham dengan situasi saat ini.
"Jangan naik turun tangga terus ya Nak, ibu takut soalnya." memperingati Dania.
"Iya bu, ini mau ke atas bawa teh hangat buat Mas Danu kalau sudah bangun."
Dania menghela nafas ketika sudah masuk ke dalam kamar mendapati suaminya masih tertidur dengan nyenyak.
Menaruh gelas yang tadi ia bawa ke atas nakas. Duduk tepat di samping suaminya. Mengusap peluh di dahi suaminya. Mengelus puncak kepala suaminya sayang.
"Kamu capek banget ya Mas?"
"Sehat-sehat ya, jaga kondisi. Jangan terlalu di forsir tenaganya." gumam Dania lirih.
Danu yang memang tidak benar-benar tidur itu pun membuka matanya. Menatap wajah cantik istrinya.
"Saya enggak capek."
"Cuma butuh istirahat aja." imbuhnya.
Dania menitikan air mata, memeluk erat tubuh kekar suaminya.
"Kenapa?" menangkup kedua pipi istrinya yang sudah berlinang air mata.
"Kangen.. " dengan sesegukannya.
"Sstss, udah jangan nangis. Saya udah di sini. Udah kamu peluk."
Lama Dania menangis membuatnya tanpa sadar tidur di dada suaminya membuat Danu tersenyum menatap istrinya yang menggemaskan ini.
Danu meregangkan otot-otot nya yang kaku setelah menidurkan istrinya di atas ranjang. Melihat ke samping mendapati gelas berisi teh hangat di atas nakas.
Memandang wajah istrinya dan segera meraih gelas tersebut untuk ia teguk hingga tandas. Sebelum keluar dari kamar.
"Sudah lebih enakan?" tanya Rahmat kepada anaknya.
"Sudah Yah, ayah gimana?"
"Lebih enakan."
"Maaf Yah." sesal Danu menatap takut-takut ke arah ayahnya.
"Tidak perlu minta maaf, namanya juga usaha, pasti ada pasang surutnya." menatap wajah anaknya menenangkan.
"Rugi besar?" tanya Ratih ikut nimbrung.
"Lumayan bu, tapi enggak apa. Kita masih bisa gaji orang-orang yang kerja sama kita."
"Tapi tetap rugi Yah." ujar Danu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DuDa (COMPLETED)
AcakDanuarta Putra Wijaya, Danu resmi menyandang status duda dengan satu orang anak ketika usianya menginjak 37 tahun. penghianatan, dan perselingkuhan itulah yang membuat pernikahan nya hancur. Mantan istri yang menjadi wanita karier membuat pernikahan...
