"Bunda.. " panggil Denaya kepada Dania yang sedang memasak di dapur.
"Ada apa Den? Udah ganti baju? Cuci tangan?"
Denaya baru pulang dari sekolah, sekolah taman kanak-kanak. Sekarang ini Denaya sangat dekat dengan Dania. Mungkin ia merasa cocok dengan ibu sambungnya.
Mengenai Dini, setiap wekeend ia akan menelfon Denaya lewat handphone nya sendiri tetapi jarang di angkat oleh Denaya. Karena bagi Denaya bunda nya itu hanya Dania tidak ada yang lain. Yang merawat nya akhir-akhir ini juga Dania. Dania yang selalu ada untuknya.
"Sudah semua Bunda, aku lapar." memegang perutnya.
"Sebentar ya, bentar lagi matang masakan nya."
Denaya berjalan menuju meja makan duduk di salah satu kursi menunggu masakan Bunda nya matang.
"Tara! Udah siap." menyerahkan sepiring makanan untuk Dania.
"Makasih Bunda." segera melahap makanan kesukaan nya.
Dania sengaja mengambil kan terlebih dahulu makanan untuk Denaya karena kalau menunggu makan siang bersama Denaya pasti akan uring-uringan.
"Loh anak Ayah udah makan duluan?" tanya Danu yang sudah berada di samping putrinya.
"Denaya makan siang duluan lapar soalnya, Ayah ayo makan. Bunda harus nunggu Ayah makan dulu baru Bunda makan."
"Sebentar Ayah bersih-bersih dulu, mau sholat jumat juga." Danu beranjak menuju anak tangga untuk ke kamarnya.
"Bunda siapin bajunya Ayah dulu ya."
"Iya Bunda." jawab Denaya setelah mengelap bibirnya.
"Panen lagi Mas?" tanya Dania ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar.
"Heem, besok nanam bibit baru di kebun sebelah rumah."
"Aku siapin baju, kamu langsung mandi aja." berlalu pergi menuju almari pakaian untuk menyiapkan baju suaminya.
Danu menurut ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan nya.
"Nanti sehabis jumatan mau pergi keluar lagi Mas?" tanya Dania ketika mengantar suaminya sampai di teras.
"Istirahat, capek kerja terus." dengan kekehan nya.
"Aku kira kamu enggak bisa capek."
"Saya manusia bukan robot."
"Iya tau, tapi kamu selalu kerja gak pernah di rumah." keluh Dania tanpa sadar.
"Mau liburan?"
"Eh Mas udah sana berangkat, nanti telat." usir Dania membuat suaminya tersadar.
"Astagfirullah, Saya berangkat dulu Assalamualaikum." berjalan cepat keluar Rumah menuju masjid di dekat rumah.
Malam harinya Dania menidurkan Denaya terlebih dahulu di kamarnya sebelum pergi ke kamar suaminya. Denaya sudah berani tidur sendiri. Putrinya sudah mandiri sejak dini.
Setelah di rasa putrinya sudah lelap tertidur, Dania mencium pelan dahi putrinya. Membenarkan selimut yang menutupi tubuh putrinya. Setelah itu keluar tanpa meninggalkan suara. Takut Denaya terbangun dari tidurnya.
"Udah tidur Denaya?" tanya Danu ketika melihat sang istri masuk ke dalam kamar.
"Udah Mas." berjalan menuju almari pakaian untuk mengambil baju. Dania merasa gerah dengan one set celana pendek nya.
Keluar dari kamar mandi dengan lingerie satin nya berwarna hitam yang terbuka itu. Danu yang membelakangi pintu kamar mandi belum menyadari hal itu. Jika sudah mungkin Dania akan di terkam atau sebentar lagi mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
DuDa (COMPLETED)
DiversosDanuarta Putra Wijaya, Danu resmi menyandang status duda dengan satu orang anak ketika usianya menginjak 37 tahun. penghianatan, dan perselingkuhan itulah yang membuat pernikahan nya hancur. Mantan istri yang menjadi wanita karier membuat pernikahan...
