Dania berusaha menenangkan hatinya, ia berada di halaman belakang dengan Arta di pangkuan nya yang menatap Bundanya dengan penasaran.
"Arta.. " lirih Dania.
"Bunda tiba-tiba kangen sama Mamah nya Bunda." airmata lolos dari matanya.
Drt drt drt
Dania melihat siapa yang memanggil nya, nomor Mamah nya.
"Halo, Assalamualaikum. Mamah!" teriak nyaring Dania di akhir.
"Waalaikumsalam, kamu sepertinya bahagia sekali Mamah telfon." gurau Cessie.
Ya, Dania memang merasa bahagia karena sepertinya keadaan sedang berpihak padanya.
"Mah.. " panggil Dania lirih, membuat Cessie khawatir dengan keadaan putrinya.
"Dania kenapa? Ada apa sayang?" tanya Cessie lembut penuh perhatian.
"Dania mau pulang, Dania kangen sama Mamah. Dania juga kangen sama Papah."
Cessie yang merasa ada yang tidak beres pun menghela nafas panjang.
"Lagi berantem?"
Jleb, ternyata Cessie sudah menebak.
"Aku boleh pulang?" tanya Dania ragu.
"Boleh, biar nanti Papah yang telfon suami kamu. Biar sekalian di marahin!" Cessie mengelap air matanya yang sudah jatuh ke pipinya.
"Enggak Mah! Enggak usah di marahin, Dania siap-siap dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati ya nanti."
Panggilan terputus, Dania tersenyum tipis. Merasa lega dan yakin akan keputusan nya.
Di dalam kamar tidak ada obrolan dari keduanya, Dania yang sibuk memasukan pakaian serta semua barang nya. Kalau boleh meminta Dania tidak ingin lagi menginjakkan kaki di sini.
Dania sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah di depan suaminya.
"Aku mau pulang ke rumah Mamah sama Papah, tadi Papah udah telfon Mas, 'kan?" ujar Dania ketika sudah selesai membereskan semuanya.
Danu tidak bergeming di tempatnya ia masih duduk di atas ranjang dengan tatapan yang entah tidak bisa di artikan.
"Kita lagi ada masalah, dan kamu malah pergi tanpa berniat menyelesaikan?" tanya Danu.
"Mau selesai in apa Mas? Aku cuma butuh ketenangan."
"Jangan menghindar!" bentak Danu membuat Dania berjingat kaget begitu juga dengan Arta yang berada di gendongan nya.
"Aku enggak menghindar!"
"Bersikap dewasa bisa? Jangan membawa orang tua kamu ikut campur dalam rumah tangga kita!"
"Aku enggak bawa-bawa mereka Mas!"
"Stop it!!" Danu memegang pergelangan Dania kasar. Membuat Dania takut.
"Aku mau nenangin diri di rumah Papah sama Mamah, kamu juga bisa tenangin diri kamu di sini... "
"Atau mungkin, kamu lebih nyaman nantinya tanpa aku atau Arta di sini. Aku capek Mas.. Aku capek.. Aku sudah berusaha semaksimal aku buat jadi ibu yang baik buat Denaya tapi selalu saja salah di mata kamu. Aku sangat yakin kamu jauh lebih bisa jadi Ibu dan Ayah buat Denaya. Sebelum ada aku kan seperti itu. Dan mungkin memang akan seperti itu lagi."
"Aku enggak pernah beda in mana anak kandung aku atau anak tiri aku, aku sayang sama Denaya walau dia bukan lahir dari rahimku. Tapi kamu selalu mencari celah untuk menyalahkan aku Mas!"
"Aku tanya sekarang sama kamu, apa pernah kamu tanya gimana perkembangan Arta anak kamu? Enggak Mas! Kamu sama sekali enggak pernah tanya soal itu, yang kamu tanya in pasti selalu soal Denaya. Aku takut nanti kalau Arta sudah besar ia sadar akan ketidak adilan kamu."
"Kamu pernah bilang kalau Denaya anak kamu kan? Itu artinya kamu memang sangat pantas menjadi ibu serta ayah untuknya. Dan sekarang aku yang akan bilang ke kamu, kalau Arta itu anak aku."
"Arta kuat kok, dia kan udah biasa sama aku. Ada atau tidak nya kamu enggak berarti untuknya."
"Rawat Denaya dengan baik, aku tidak yakin akan kembali ke sini lagi."
"Terima kasih untuk semua kebahagian, semua luka, dan terima kasih sudah menghadirkan Arta untuk aku. Maaf Mas.. " Dania mencium tangan suaminya sebelum pergi dari sana.
Kekecewaan itulah yang di rasakan Dania sekarang, sudah beberapa kali memaafkan, berlapang dada menerima semuanya. Tapi ternyata semua seakan terasa sia-sia.
Lika-liku kehidupan pernikahan, pasti akan selalu ada, mau menyebut Dania egois? Tidak, Danu yang egois? Tidak juga.
Dania salah, ia mengira semakin dewasa usia pria maka semakin dewasa pula pemikiran nya. Tapi ternyata semuanya salah.
Lebih baik ia menghindar dan pergi daripada setiap saat selalu tertekan karena masalah yang sama. Niat suaminya memang bagus, menyayangi putrinya dengan sangat besar hingga tidak menyadari ada hati dari anaknya yang lain yang akan sakit nantinya.
"Biar Bunda saja yang merasakan sakit ini, kamu jangan ya Nak."
Dania bertekad untuk membesarkan putranya sendiri. Tapi ia juga akan selalu mengingat cintanya, suaminya. Danuarta Putra Wijaya.
Hukuman-hukuman dari Dania sama sekali tidak mempengaruhi apapun semua akan sama, Danu yang keras kepala dan tidak ingin kalah.
Sudah beberapa kali Dania memaafkan suaminya. Dengan kesalahan yang berbeda atau pun sama.
Dania menyadari sesuatu sekarang, suaminya sudah terbiasa merawat Denaya sendiri jadi ia akan mengutamakan yang terbaik untuk putrinya.
Danu belum terbiasa akan kehadiran Arta. Dan sekarang ia akan terbiasa tanpa kehadiran nya.
Danu menatap kosong ke depan, memperhatikan istrinya yang berjalan semakin menjauh dari jangkauan nya.
"Maaf.. "
"Maafin Ayah, Maafin Mas, Dan."
Danu memijat pelipisnya yang terasa amat sakit. Hingga ia merasa penglihatan nya berkunang kunang dan... Bruk.
Danu jatuh pingsan di lantai dingin kamar.
Terima kasih
Maaf part ini sedikit menguras emosi kalian😭
KAMU SEDANG MEMBACA
DuDa (COMPLETED)
De TodoDanuarta Putra Wijaya, Danu resmi menyandang status duda dengan satu orang anak ketika usianya menginjak 37 tahun. penghianatan, dan perselingkuhan itulah yang membuat pernikahan nya hancur. Mantan istri yang menjadi wanita karier membuat pernikahan...
