Di hari minggu yang cerah ini semua anggota keluarga Danu sedang berkumpul di teras rumah. Mereka menghabiskan waktu pagi mereka untuk bercengkrama dengan satu sama lain. Dania sudah mulai membuka suara kepada suaminya. Walaupun terpaksa. Sedangkan Danu kini menjadi sangat manja kepada istrinya. Danu juga lebih berhati-hati dalam berucap atau bersikap, ia tidak ingin kehilangan istrinya. Sudah cukup satu kali dirinya gagal dalam kehidupan rumah tangga.
"Mau kemana?" tanya Danu yang sedang menyugar rambut basahnya, karena selesai mandi tadi.
"Mau pergi keluar sebentar." ujar Dania melirik suaminya sebentar.
"Sama siapa?" tanya Danu penasaran.
"Sama Mbak Siska, tadi di ajak ke pasar." mulai memasukan dompet dan handphone nya ke dalam tas.
"Berdua?"
"Iya, Mbak Siska katanya mau ada acara arisan. Jadi aku di ajak buat nemenin beli bahan makanan," jelas Dania.
"Mas ikut ya?"
"Enggak!" tolak Dania langsung.
"Mas ikut!" paksa Danu tidak ingin di tolak.
"Jangan maksa kenapa?!" marah Dania kepada Danu dengan muka jutek nya.
"Ikut!" setelah mengatakan itu, Danu berlalu pergi ke bawah.
"Pemaksa!" gerutu Dania.
Dania mendudukan dirinya di ranjang, ia merasakan perutnya sedikit nyeri.
"Kenapa sayang? Udah enggak sabar keluar ya? Hm?" mengusap perutnya naik turun.
Dania mendial salah satu nomer di handphone nya. 'Mbak Siska' sepertinya ia akan membatalkan acaranya hari ini. Karena kondisi perutnya yang sedang tidak enak.
"Syukurlah, Mbak Siska enggak marah." mengusap pelan perutnya yang semakin terasa nyeri.
"Huh, kenapa sakit sekali," rintih Dania dengan keringat yang sudah membanjiri wajahnya.
Cklek
"Loh, kamu enggak jadi keluar sama Mbak Siska?" tanya Danu setelah berada di depan istrinya. Ia tau hal ini sebenarnya karena tadi Mbak Siska sudah memberitahu, tapi Danu ingin memastikan.
Dania mendongak menatap wajah suaminya dengan wajah yang sudah di penuhi oleh keringat dingin.
"Sayang?" Danu mendudukan dirinya di sebelah istrinya khawatir.
"Mas... Huh! Perut aku!" memegang perutnya yang terasa sakit sedari tadi.
"Kita ke rumah sakit." Danu menggedong istrinya ala bridal style.
Semua orang di lantai bawah dibuat panik oleh mereka berdua. Ratih yang buru-buru mengambil perlengkapan persalinan menatunya yang jauh hari sudah ia dan menantunya siapkan. Sedangkan Rahmat bergegas menuju garasi untuk mengeluarkan mobil untuk mereka kendarai nanti.
"Yang tenang ya Nak, semoga di lancarkan," ujar Ratih kepada menantunya.
Dania mengangguk, ia tidak bisa berkata apa-apa. Karena rasa sakit yang ia rasakan kali ini.
Sampai di rumah sakit, Dania segera di bawa ke ruang bersalin. Usia kehamilan yang memang sudah cukup untuk melahirkan.
"Bagaiamana keadaan istri saya? Apa memang sudah saatnya melahirkan?"
"Bu Dania masih sadar, usia kehamilan istri bapak sudah cukup untuk melahirkan sekarang. Hanya saja kita tinggal menunggu pembukaannya. Karena air ketuban sudah pecah." terang dokter kandungan yang menangani Dania.
Danu mengangguk, "lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anak saya." lirih Danu menatap dokter tersebut berharap.
"Saya akan melakukan tugas saya sebaik mungkin Pak, Bapak dan keluarga bisa membantu dengan doa. Kalau begitu saya permisi."
Tanpa menunggu jawaban dari Danu, dokter tersebut masuk ke dalam ruang bersalin lagi untuk mempersiapkan semuanya.
Selang beberapa menit, suster keluar dari ruang bersalin untuk memanggil suami dari pasien.
Danu yang memang ingin menemani istrinya melahirkan buah hati mereka itu pun segera ikut masuk ke dalam ruangan.
"Sayang.. " ujar Danu di samping telinga istrinya yang nampak meringis menahan sakit.
"Mas.. "
"Kuat ya, istri Mas yang cantik ini pasti bisa." ujar Danu menguatkan istrinya. Dengan mengelap keringat di dahi istrinya.
Mangandung, melahirkan bukan hal yang mudah. Itu lah yang sedang di rasakan oleh Dania sekarang. Bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan buah hatinya, anaknya, penerusnya nanti.
Senyum terbit di bibir Danu dan Dania ketika bayi mungil telah hadir di tengah-tengah keluarga mereka.
Dania berhasil melahirkan anaknya.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu menangis dengan keras membuat semua orang yang berada di luar ruangan merasa sedikit lega.
Bayi itu di dekatkan ke arah Danu untuk di gendong, dan Danu menaruh anaknya di sebelah istrinya berbaring. Dania terlihat lemah. Setelah berjuang melahirkan anaknya.
"Tampan," lirihnya yang diangguki oleh Danu.
"Dia sangat tampan." Danu menangis ia terharu. Tangis bahagia.
Bayi mungil itu sepertinya merasa kehausan, karena sedari tadi tidak mau diam. Dania dengan inisiatif ke ibuan nya ia mulai mengeluarkan payudara nya untuk makanan anaknya.
Dan benar, bayi itu mulai tenang. Dania menatap haru. Ia masih belum menyangka.
Danu hanyut dalam situasi di depan nya hingga tidak menyadari kalau istrinya telah memejamkan matanya.
Saat sadar tidak ada pergerakan dari istrinya Danu mendongak, ia panik.
Dengan segera memangil dokter tadi untuk memeriksa keadaan istrinya. Beruntung dokter tersebut belum keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan anak dan istri kamu?" tanya Rahmat setelah melihat putranya keluar dari ruang bersalin.
"Tadinya semua baik Yah, tapi_ Dania... " belum selesai Danu berbicara ia merasa badan nya terhuyung ke depan. Kegelapan menhampirinya. Ia pingsan.
Semua orang di sana panik dan khawatir, mereka segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Danu.
"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ratih khawatir.
"Pak Danu hanya kelelahan saja, di tambah kurang darah. Sebentar lagi juga akan segera sadar. " jelas dokter.
"Baik dok, terima kasih sebelumnya."
Rahmat mendekat ke arah istrinya mulai menenangkan istrinya.
"Semua akan baik-baik saja."
"Anak sama menantu kita Yah." lirih Ratih. Ia berusaha tegar dan kuat karena siapa nanti yang akan merawat cucunya kalau bukan dia.
"Dania wanita yang kuat, Danu juga pasti segera sembuh. Ibu jangan terlalu banyak pikiran."
Ratih dan Rahmat keluar dari ruangan Danu menuju ruangan menantunya. Sedangkan Siska dan suaminya berada di ruangan Danu untuk menjaganya.
Dania sudah di pindah ke ruang rawat, hanya saja dia belum sadar sampai sekarang. Dokter belum dapat memastikan Dania akan sadar secepatnya atau tidak karena kondisi nya yang masih kurang stabil.
Denaya dan Keyna memang tidak di ajak ke rumah sakit karena memang tidak boleh, mereka di titipkan ke Bu Tini tadi.
Terima kasih, maaf kalau feel nya kurang dapat. 🙏🤗
Vote dan komen ya.
Vote bab kemarin tembus 1k.
Komen next yang banyakk!
Bye!
KAMU SEDANG MEMBACA
DuDa (COMPLETED)
AcakDanuarta Putra Wijaya, Danu resmi menyandang status duda dengan satu orang anak ketika usianya menginjak 37 tahun. penghianatan, dan perselingkuhan itulah yang membuat pernikahan nya hancur. Mantan istri yang menjadi wanita karier membuat pernikahan...
