"Lo apaan sih? Tiba-tiba telfon gue? Terus nyuruh gue kesini? " cerocos Putra kepada Dania yang tiba-tiba meminta nya ke alamat yang dia kirimkan.
"Maaf repotin." lirih Dania. Seketika Putra merasa iba dengan sahabat sekaligus bosnya ini.
"Ada apa?" serius putra.
"Bawa gue pergi, gue enggak mau di sini lagi. Bawa gue pergi jauh. Gue mohon." tangisan pilu Dania kembali hadir. Dengan air mata yang sangat deras.
"Masalah rumah tangga?"
Dania mengangguk, dan mengalirlah cerita darinya.
Putra geram setelah tau apa yang sudah di lakukan suami sahabatnya ini.
"Tolol! Anjing! Tua bangka!!" maki Putra
"Ayo pergi!" ajak Dania.
Putra mengehentikan langkahnya, ini bukan lah keputusan yang bagus, ini sama saja Dania lari dari masalah tanpa berniat memperbaiki.
"Tidak.. "
"Apa maksud lo? Ayo pergi!" menarik tangan Putra untuk segera melangkahkan kaki pergi dari sini.
"Ini bukan keputusan yang bagus, apalagi dengan keadaan lo yang lagi hamil tua."
"Tapi... Lo tau kan gimana sikap suami gue tadi." kini Dania sudah sesegukan menahan tangisnya. Ia teringat dengan perlakuan suaminya. Dan tamparan suaminya masih terasa sampai sekarang.
"Diam! Ya lo gak perlu pergi, cukup mendiamkan suami lo biar dia kapok!!" saran Putra.
"Udah pernah! Berhasil memang, tapi dia ngulang kesalahan lagi. Lebih parahnya dia main tangan!"
"Sabar dan ikhlas. Gue akan selalu ada di belakang lo, menyemangati lo."
Dania menangis ia merasa frustasi tapi memang benar apa yang dikatakan Putra. Ia tak seharusnya lari dari masalah ini.
"Terima kasih lo udah sadarin gue."
"Dengan senang hati." tersenyum, memeluk Dania sayang membiarkannya menumpahkan segala keluh kesah dan amarahnya.
******
"Nyesel kan kamu?!!!" bentak Ratih kepada anaknya setelah menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Kamu itu belum tau apa-apa udah main salahin istri kamu. Padahal istri kamu lebih mentingin Denaya biar enggak lecet sedikitpun!"
Danu menunduk, ia kalut dan tidak bisa berpikir jernih tadi hingga main tangan kepada istrinya.
Menyugar rambut nya kasar, menatap sang ibu yang sedang berapi-api menatapnya.
"Arghh!!" teriak Danu.
"Ibu kecewa sama kamu!" setelah mengatakan itu Ratih pergi menuju kamarnya meninggalkan anaknya di ruang keluarga bersama suaminya.
"Maaf ayah.. " lirih Danu, ia tau ayahnya pasti kecewa dengan apa yang ia perbuat. Melihat ayahnya yang sedari tadi hanya diam tidak mau mencaci atau memaki dirinya.
Rahmat berdiri dari duduknya, menarik nafas panjangnya. Sekarang Rahmat berada di hadapan anaknya.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
KAMU SEDANG MEMBACA
DuDa (COMPLETED)
AléatoireDanuarta Putra Wijaya, Danu resmi menyandang status duda dengan satu orang anak ketika usianya menginjak 37 tahun. penghianatan, dan perselingkuhan itulah yang membuat pernikahan nya hancur. Mantan istri yang menjadi wanita karier membuat pernikahan...
