Danu menatap kosong ke depan, mengamati ruang rawat istrinya. Menunggu dokter yang menangani istrinya keluar untuk memberi kabar.
"Duduk Nu." perintah Rahmat kepada anaknya yang sedari tadi berdiri di depan pintu.
Rahmat dan Ratih sudah tiba sejak tadi, mereka di buat khawatir akan keadaan menantunya.
Danu luruh di lantai rumah sakit yang dingin, ia tidak akan bisa, ia tidak rela jika harus kehilangan istrinya. Tidak.
"Dania bu... hiks hiks." tangis Danu pecah, Ratih yang merangkul anaknya menenangkan itu pun juga ikut menangis. Bukan kabar ini yang ingin mereka dengar.
Orang tua Dania sudah di hubungi tadi, dan akan tiba sebentar lagi padahal mereka baru saja pulang kemarin karena ada rapat yang tidak bisa diwakilkan.
"Kuat Nu." tutur Rahmat kepada Danu untuk menguatkan anaknya.
Jujur saja Rahmat tidak tega melihat anak laki-laki nya seperti ini, keadaan yang memprihatinkan juga istrinya yang belum juga sadar dari komanya.
Cklek
Semua terfokus pada pintu ruang rawat Dania yang terbuka, dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Saya mohon beri saya kabar yang membuat saya tenang." tanya Danu terburu buru karena sudah menunggu lama sekali di luar ruangan.
Dokter menatap Danu prihatin akan keadaan nya. Ia tau betul betapa suami pasien nya ini benar-benar mencintai istrinya yang terbaring lemah satu bulan ini.
Dokter menghela nafas panjang, "Alhamdulillah suatu keajaiban, istri Pak Danu sudah jauh lebih baik." di akhiri dengan senyuman tulusnya.
Danu bersujud syukur di sana, ini yang ingin ia dengar sedari tadi, kabar bahwa istrinya baik-baik saja. Istrinya kuat, Dania tidak akan meninggalkan nya.
"Terima kasih dok." dengan senyum mengembang di wajah tampan nya.
Dokter mengangguk, ia ikut tersenyum. Dokter juga merasa bahagia dengan kondisi pasien nya yang jauh lebih baik.
"Kita tinggal menunggu Bu Dania siuman. Semoga hari ini." jelas dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Ratih mengucap terima kasih lagi kepada dokter yang telah menangani menantunya. Ia sangat bersyukur dan sangat bahagia dengan kabar ini. Keluarga kecil anaknya akan lengkap.
"Ibu... " lirih Danu memeluk erat Ratih yang sedari tadi berada di sebelahnya.
Ratih menyambut pelukan anaknya, menepuk punggung anaknya pelan.
"Alhamdulillah." ujar Rahmat menepuk pundak anaknya.
"Alhamdulillah Pak." memeluk Ayah nya tidak kalah erat, menyalurkan rasa bahagianya.
"Temui sana"
Danu mengangguk, berjalan menuju pintu ruang rawat. "sayang." bisik Danu di telinga Dania.
"Bangun ya... Mas tadi benar-benar kalut dengan keadaan kamu. Mas enggak mau kamu pergi dari sisi Mas. Mas mohon bangun. Mas nunggu kamu, anak-anak kita nunggu kamu."
Tidak ada sahutan apapun dari si empunya, Dania masih tenang dalam tidurnya. Belum ingin membuka mata.
"Bangun ya." lirih Danu di telinga Dania lagi.
Lelah karena tidak ada sahutan dari si empunya Danu ikut memejamkan mata karena lelah. Seharian ia di buat khawatir.
Cukup lama Danu tertidur hingga tidak menyadari kalau telapak tangan istrinya bergerak.
KAMU SEDANG MEMBACA
DuDa (COMPLETED)
De TodoDanuarta Putra Wijaya, Danu resmi menyandang status duda dengan satu orang anak ketika usianya menginjak 37 tahun. penghianatan, dan perselingkuhan itulah yang membuat pernikahan nya hancur. Mantan istri yang menjadi wanita karier membuat pernikahan...
