Cuardach : 02. blonde

2.7K 273 7
                                        


Dunia sangat indah bagi sebagian orang. Tapi tidak dengan gadis cantik satu ini, dari kecil ditinggalkan oleh orang tuanya di panti asuhan dengan iming iming akan di belikan mainan setelah orang tuanya menjemput, namun sampai sekarang orang tuanya tidak pernah menjemput. Kim jisoo, marga "kim" dia ambil dari ibu angkatnya yang telah meninggal bebarapa tahun lalu.

Jisoo juga sangat berterimakasih pada ibu angkatnya karena jisoo mempunyai tempat tinggal sekarang ini. Ya, apartemen kumuh milik ibunya itu tidak ia tinggalkan walau ibu angkatnya sudah meninggal. walaupun harus membayar, tapi tak apa.

Dengan langkah gontai namun pasti jisoo mengangkat box box ikan itu dari kapal menuju ke mobil pengangkut yang letaknya tak jauh dari situ.

Walau letaknya jauh tak di pungkiri bahwa kini jisoo merasakan pegal yang teramat dari lengan hingga punggungnya. Entah sudah berapa box di angkutnya. Bak manusia super yang tidak pernah lelah, walau rasa sakit dan pegal ia rasakan jisoo akan tetap berjuang demi menyambung hidupnya.

"Ya! Kau mimisan!" Jisoo tersentak mendengar teriakan dari rekannya itu jisoo segera memegang hidungnya. Dan benar saja, cairan kental berwarna merah ada disana.

"Tenang lah Unnie, ini masalah biasa." Dengan sigap merogoh kantong celananya mengambil sebuah tissue dan mengelap darah yang keluar dari hidungnya itu.

"Aku akan bilang pada atasan, kau istirahat saja."

"Tidak unnie, ini rahasia." jisoo mengedipkan matanya sebelah setelah itu segera mengangkat box box ikan itu lagi.
"Dasar penggila kerja." rekannya itu di buat geleng geleng oleh tingkahnya

............

"Arghh sial! Kenapa aku harus bekerja kalau aku sudah punya banyak uang!" Mengacak rambutnya prustasi jennie menghempaskan kertas kertas yang bertuliskan tentang kerja sama antarperusahaan itu.

Berdiri meninggalkan ruang kerjanya, membuat seluruh karyawan membungkuk hormat padanya.

Jika kalian mengira kalau perusahaan yang dia pimpin saat ini adalah milik keluarga angkatnya kalian salah besar. Perusahaan ini adalah perusahaan yang jennie rintis dari bawah. Mengetahui bahwa dirinya hanya lah anak angkat di keluarga itu, jennie sedikit tahu diri dan tak mau memimpin perusahaan ayahnya yang sudah jaya. Dia memilih membangun perusahaan sendiri. Walau tak mudah jennie berhasil membuat perusahaan kosmetik miliknya hampir menyamai ke kayaan perusahaan ayahnya.

Lelah dengan pekerjaannya, Jennie memilih berjalan jalan di sekitar kantornya. Di belakang kantornya itu memang ada sebuah bukit yang sangat indah. niat hati ingin kesana dan memanjakan mata, namun niat jennie terbatalkan karena seorang gadis cantik dengan rambut blondenya menabrak tubuhnya sehingga membuatnya terhuyung beberapa langkah kebelakang

"Jeosonghamnida, kau tak apa?" Ucap gadis blonde itu lembut, suara lembutnya membuat hati jennie menghangat, mereka baru bertemu hari ini namun hati jennie se akan mengatakan bahwa mereka sangat dekat.

"Aku tak apa, kau tidak perlu meminta maaf. Kau sepertinya sedang buru buru, kalau boleh tau kau ingin kemana?" jennie menjawab hubungan gadis itu dengan senyumsn tipis di mulutnya

"Sebenarnya aku tak ingin kemana mana, hanya saja tadi ada beberapa preman yang mengejar ku sehingga aku berlari dan tak sengaja benabrakmu, maaf." gadis itu membungkuk sekali lagi, sepertinya rasa bersalahnya pada jennie sangatlah besar sehingga ia terus saja meminta maaf.

"Ingin berkenalan?"Tanpa di sangka sangka jennie mengulurkan tangannya. Ini adalah ke ajaiban dunia, karena tak ada satu orang pun yang pernah jennie ajak berkenalan, biasanya dirinya lah yang di ajak berkenalan.

"Tentu. Namaku chaeyoung." Segera menjabat tangan jennie setelah menyebutkan namanya. Memberi seringaian lebar yang membuat jennie gemas sendiri akan tingkahnya.

.......

Kini keduanya tengah duduk bersantai sembari menikmati semilir angin yang menyejukan. Memandangi danau yang menurutnya sangat indah. Jennie dan Chaeyoung serta sebuah kaleng soda yang ada di tangan masing masing.

Duduk terdiam tanpa berkata apapun. Keduanya merasakan canggung yang teramat. Ini pertemuan pertama mereka, keduanya belum mengenal satu sama lain.

"Chaeyoung-ssi, boleh aku bertanya?" Jennie mmebuka suaranya memecahkan keheningan. Chaeyoung bersyukur dalam hati karena akhirnya Jennie mengeluarkan suaranya.

Bukan hanya Jennie yang tak tahan dengan keheningan ini, Chaeyoung pun juga. Sedari tadi kepalanya berusaha keras untuk mengeluarkan suara. Namun pada dasarnya Chaeyoung adalah seseorang yang memiliki rasa gengsi yang cukup tinggi.

"Tentu."

"Apa kau tinggal sendirian?" Chaeyoung kembali menyandarkan badannya pada bangku yang di dudukinya. Matanya teralih menatap Jennie.

"Ani. Aku tinggal bersama bayiku." Jennie membelalak mendengar ucapan Chaeyoung. Chaeyoung hampir saja meledakan tawanya melihat ekspresi terkejut Jennie.

"Mwo? Bayi? Kau sudah menikah?" Chaeyoung melepaskan tawanya. Kali ini benar-benar tidak bisa menahannya lagi.

"Ya! Apa kau pikir aku benar benar memiliki bayi?" Jennie mengangguk. Tawa Chaeyoung semakin menggelegar. Tak terasa hari mulai sore, mereka menghabiskan waktu dengan canda dan tawa

Palembang, 12 oktober 2021

Halo, berjumpa lagi denganku. Bagaimana kabarmu?

Cuardach Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang