44. Perasaan Yang Berubah

134K 18.8K 9.7K
                                        

Yang belum tau karena mungkin nggak baca pengumuman di wall aku atau karena belum ngikutin akun aku jadi nggak dapat notifnya. Jadi setelah aku mempertimbangkan selama lebih satu bulan terakhir ini, aku putusin buat mengubah beberapa bagian cerita garis luka yang dimulai dari bagian 44 ini. 

Alasannya karena aku rada kurang srek sama bagian yang lama. Ini juga buat mood nulis aku rada kurang baik karena nggak enak aja pas mau ngelanjutinnya. Jadi mulai bagian 44 ini kalian harus ngelupain bagian yang sebelumnya ya. Di bagian yang terbaru ini Zeta enggak hilang ingatan. 

Karena aku udah lama nggak update pasti ada dari kalian yang lupa sama cerita ini. Boleh banget sebelum lanjut baca bagian 44 ini kalian baca dulu bagian sebelumnya ya. Biar nggak bingung atau sebagainya.

Setelah lama nggak update.

Mana yang kangen Agra? Ayo absen dulu!

Happy reading 💙

***

Dua tahun yang lalu, jika dia tidak pernah memiliki keinginan untuk bersenang-senang di luar rumah, menghabiskan waktu di luar bersama teman-teman. Mungkinkah yang sedang terjadi sekarang tidak akan pernah terjadi kepadanya. Jika dia tidak pernah melanggar peraturan yang sudah disusun rapi ayahnya, mungkinkah dia tidak akan berakhir seperti ini. Jika dia tetap menjadi Agra seperti dua tahun yang lalu, mungkinkah saat ini dia masih bisa melihat Zeta yang berjalan ke arahnya.

Kenapa sekarang rasanya sangat menyiksa. Seakan tidak ada lagi orang yang mau peduli dengan dirinya. Mungkinkah ini karma untuknya karena telah menyakiti perasaan banyak orang, terutama seorang gadis yang selalu baik kepadanya. Jika memang iya, dia tidak akan mengeluh untuk semua ini.

Sudah dua bulan berlalu semenjak kejadian malam itu. Zeta hanya koma berapa hari, syukurnya cewek itu tidak mengalami luka-luka yang serius pasca kecelakaan. Kondisi Zeta cepat membaik, hanya tiga minggu berselang setelah kecelakaan itu, Zeta sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

Lalu dua bulan ini tidak ada kemajuan untuk hidup Agra. Semenjak kejadian malam itu, di rumah yang bak istana dia menjadi seperti orang asing. Dulunya Agra hanya punya dukungan dari ibunya yang setiap kali ayahnya marah, wanita itu siap menjadi perisai untuknya. Kapan pun tangan ayahnya ingin melayang menampar wajahnya, ibunya akan siap mencegah, memohon agar ayahnya berhenti marah.

Tapi, semenjak kejadian itu, tidak ada lagi sosok ibunya yang seperti itu. Wanita itu hanya berbicara seadanya kepadanya, satu hari bisa dihitung sebanyak apa ibunya mengeluarkan suara untuknya. Setiap kali ayahnya marah, tidak pernah ada lagi ibunya yang akan mencegah. Pasti langsung pergi dan membiarkan dia berdua saja dengan ayahnya.

Agra kini tidak tahu, untuk hidup yang seperti itu dia akan sanggup bertahan berapa lama. Dia seperti hidup bak boneka yang diberikan napas, pergi sekolah pagi hari, pulang ke rumah tepat waktu, lalu menghabiskan waktu hanya untuk belajar semalaman di dalam kamar. Satu-satunya udara luar yang bisa dia hirup hanya melalui balkon kamar.

***

Sudah sejak lama Agra memiliki kebiasaan baru, mungkin tepatnya saat Zeta kembali usai koma. Agra selalu ingin mengajak cewek itu berbicara, dia ingin bertanya apa benar setelah kecelakaan itu Zeta baik-baik saja. Namun, Agra sadar diri, cewek itu tidak pernah mau berbicara kepadanya. Dia tidak ingin memaksakan kehendak seperti dulu, selalu memaksa Zeta untuk memaafkannya. Padahal terlalu banyak perbuatan jahatnya yang tidak bisa dimaafkan. Dia juga tidak ingin membuat Zeta merasa tidak nyaman lagi dengan keberadaannya. Jadi dia selalu menahan diri dan hanya memandang dari kejauhan saja.

Agra senang duduk di balkon kamarnya untuk memandangi kamar Zeta. Kapan pun di sekolah Agra selalu mencari sosok itu untuknya pandangi. Sekarang satu-satunya yang membuatnya senang hanya ketika melihat Zeta tersenyum. Perasaannya begitu damai melihat Zeta tersenyum walaupun bukan untuknya, melainkan saat berbicara dengan Sakha.

Garis LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang