43. Harus tetap hidup

141K 19.9K 12.1K
                                        

Apa kabar readers Luka?

Sebelum baca yang belum follow aku, silakan di follow dulu khairanihasan

Ayo absen dulu, kamu baca jam berapa nih?

Seperti biasa votenya jangan bolong-bolong ya!

Sama yang rajin commentnya

Happy reading 💙

***

Agra tidak tahu dia pantas berada di rumah sakit menanyakan kabar Zeta atau tidak. Mengingat dia juga sadar diri, Zeta tidak akan mungkin mengalami semua itu kalau bukan karena dirinya. Tapi dia ingin sekali melihat cewek itu, dia ingin tahu bagaimana kondisi Zeta, dan dia sangat berharap dokter memberikan kabar baik untuk cewek itu.

Kepala Sakha menoleh ketika menyadari kedatangan Agra, cowok itu tidak sendiri karena Nevan, Ojan dan Jagad juga ada bersama sepupunya itu.

Sakha memperhatikan Agra dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menatap tiga temannya yang lain secara bergantian. Dia sangat khawatir saat tahu Agra tetap pergi ke tempat Barry sendirian, ingin menyusul sepupunya itu, tapi di satu sisi dia juga khawatir dengan keadaan Zeta, makanya dia menghubungi Nevan dan yang lainnya untuk menyusul Agra. Melihat Agra dan ketiga temannya dalam kondisi baik-baik saja, dia bisa sedikit lega. Beruntunglah tidak ada yang terluka lagi.

Sakha berjalan ke tempat teman-temannya.

“Ka, gimana kondisi Zeta?” Agra bertanya tak sabar.

Pertanyaan itu membuat Sakha kembali mengingat kejadian yang menimpa Zeta satu jam yang lalu.

Saat di jalan menuju tempat Barry, Sakha tidak sengaja melihat seorang gadis yang mirip seperti Zeta sedang berlari dari kejaran tiga orang berbadan kekar. Sakha langsung menepikan motornya saat itu, dia membuka helm agar bisa melihat lebih jelas.

Saat dia belum menyadari dengan betul kalau gadis yang sedang ketakutan itu ialah Zeta, dia harus menyaksikan gadis itu menyeberang jalan tanpa melihat kiri dan kanan. Rasa ketakutan untuk tidak tertangkap membuat cewek itu mengambil langkah yang terburu-buru, sebuah mobil yang sudah dekat tidak mampu mengerem di waktu yang tepat. Mobil itu menghantam Zeta, hingga membuat tubuh Zeta terpental sejauh lima meter.

Detik saat Sakha menyadari gadis itu ialah Zeta. Semuanya sudah terlambat. Kepala Zeta yang membentur aspal mengeluarkan banyak darah. Saat Sakha memangku tubuh itu, memanggil nama Zeta berulang kali. Mata itu tidak mampu terbuka lagi. Zeta sudah ditemukan dalam kondisi tubuh yang sekarat.

“Masih ditangani dokter.” Sakha akhirnya menjawab. Dia menatap Agra. “Kepalanya banyak ngeluarin darah, semoga aja nggak ada hal serius yang terjadi. Kita tunggu aja kabar dari dokter,” ucap Sakha. Ada rasa bersalah saat dia mengatakannya. Kalau saja dia bisa menyadari lebih cepat, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Dia bisa saja membuat Zeta lebih tenang karena melihat keberadaannya, jadi cewek itu tidak akan terlalu merasa takut dan tidak perlu menyeberang jalan dengan terburu-buru.

Agra menjadi diam, karena kenyataan itu membuatnya tidak berani berkomentar apa pun. Orang yang menjadi kunci dari semua masalah itu terjadi mana mungkin punya hak berkomentar. Dia menatap nanar pintu ruang UGD yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kenapa harus Zeta yang mengalami itu semua. Ada baiknya dia saja yang merasakan itu semua, toh pada awalnya maksud Barry dan Vano melakukan ini semua karena ingin menyerangnya, jadi lebih baik dia saja yang berada di dalam sana, agar semua orang-orang  yang ingin melihatnya terluka bisa senang.

Garis LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang