Bingkisan Berdarah

161 12 1
                                        

Hari ulang tahun Pitaloka dan Nilam tiga hari lagi. Chandrika, Daksin, Arima, dan Erawati mulai sibuk menyiapkan dekorasi, katering, dan lain-lain. Sedangkan Pitaloka dan Nilam mulai menyebarkan undangan kepada semua teman dekat mereka dan juga teman satu angkatan. Ini adalah kali pertama Pitaloka dan Nilam merayakan ulang tahunnya dengan sebuah pesta. Tahun-tahun lalu mereka hanya merayakannya bersama keluarga dengan pesta kecil-kecilan. Sebenarnya, pesta ulang tahun ini adalah gagasan dari Daksin. Saat itu juga, Pitaloka dan Nilam kompak setuju dengan gagasan neneknya itu. Chandrika, Arima, dan Erawati tak kuasa untuk mengatakan tidak, jadi mereka setuju saja.

Sayangnya, hubungan yang tidak baik antara Pitaloka dan Nilam masih belum membaik dan mereka masih merahasiakannya. Kemungkinan, ini akan menjadi ulang tahun paling buruk bagi Nilam juga Pitaloka yang mana Nilam masih belum mendapatkan maaf dari Pitaloka dan Pitaloka merasa jijik harus merayakan ulang tahun bersama Nilam. Jika Nilam hilang dari hidup Pitaloka, mungkin itu akan jadi hadiah ulang tahun terbaik untuknya. Di sisi lain Nilam mengharapakan maaf dari Pitaloka sebagai hadiah ulang tahun terbesarnya.

Hari H-nya pun datang, pukul setengah tujuh malam tamu undangan sudah berdatangan. Berhubung rumah Keluarga Mandraguna lumayan besar, jadi Pitaloka dan Nilam mengundang semua teman satu angkatannya. Kurang lebih ada dua ratusan tamu undangan yang datang. Semuanya membawa kado untuk Nilam dan Pitaloka. Dari sekian banyak tamu undangan yang datang, Nilam tak mendapati Anggara ada di antara mereka. Melihat Nilam tampak gelisah, Daksin menghampiri dan menanyakan siapa yang sedang dia tunggu. Malu-malu Nilam menjawab kalau yang dia tunggu adalah orang yang spesial baginya.

Wajah Nilam sontak tampak berbinar, dari kejauhan Anggara memasuki ruangan dengan kado di tangannya. Nilam meminta izin pada Daksin untuk menyambut Anggara, dan Daksin hanya bisa mengangguk lalu berlalu menghampiri Pitaloka yang tampak agak berbeda malam ini. Daksin yang bisa melihat aura merasa kalau aura Pitaloka malam ini dominan merah dan biru. Berbeda dengan Nilam yang kuning dengan bintik-bintik biru.

"Apa yang mengganggumu?" Daksin membuyarkan lamunan Pitaloka.

Pitaloka sedikit terkejut, "Ah, nenek, tidak ada apa-apa. Aku hanya kepikiran Sasa."

"Tenanglah, dia pasti baik-baik saja," hibur Daksin.

"Bagaimana bisa tenang?" ujar Pitaloka dengan nada putus asa. "Ini pertama kalinya dia hilang dari rumah dan tidak pulang selama dua hari."

"Kau benar-benar mirip dengan ibumu," Daksin tersenyum.

"Oh ya?" pikiran Pitaloka pada Sasa sedikit teralihkan.

"Dulu saat dia lima tahun, dia mendapatkan hadiah ulang tahun berupa kucing hitam, namanya Kali. Ibumu sangat menyayanginya. Suatu hari Kali hilang beberapa hari, ibumu murung selama itu, tidak mau makan. Jadi aku dan Erawati pergi mencari Kali sampai ke hutan. Entah bagaimana, kami menemukan Kali terjebak di dalam lubang. Beruntung saat itu musim kemarau, jadi lubang itu kosong. Kami membawa pulang Kali dan ibumu sangat senang. Dia kembali ceria," Daksin mengisahkan sedikit kisah masa kecil Arima, ibu Pitaloka.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, pesta ulang tahun pun dimulai. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama-sama. Karena hanya ada satu kue ulang tahun, mau tak mau Pitaloka harus memotongnya berdua dengan Nilam. Sebenarnya Pitaloka merasa jijik harus melakukan ini bersama Nilam, sedangkan Nilam merasa sangat gembira bisa memotong kue ulang tahun bersama Pitaloka. Potongan kue pertama Nilam diberikan pada Erawati, sedangkan Pitaloka memberikannya pada Arima. Potongan berikutnya adalah untuk nenek. Nilam memberikan potongan kedua untuk Chandrika sedangkan Pitaloka memberikan pada Daksin. Dan yang paling ditunggu adalah potongan ketiga milik Nilam yang akan diberikan kepada orang yang spesial untuknya.

"Dan, potongan ketiga ini adalah untuk ...," Nilam melirik Anggara dan tersenyum manis, tapi dia tidak berjalan mendekati Anggara untuk menyerahkan kue tersebut. Dia malah melangkah menuju Pitaloka dan menyodorkan kue, lalu berkata, "Pitaloka. Saudaraku, sahabatku, pahlawanku, panutanku. Aku minta maaf dengan tulus atas semua kesalahan yang kulakukan dan terima kasih sudah membuat pesta ulang tahun ini terasa sempurna." Nilam masih menunggu Pitaloka untuk menerima potongan kue ketiga itu. Nilam tahu Pitaloka akan menolak, kemudian dia memasang mata kucing dan mengisyaratkan agar Pitaloka mengambilnya.

MANDRAGUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang