Toko herbal Erwati hari ini ramai. Banyak sekali yang membeli jamu-jamuan untuk obat alternatif. Dia benar-benar kualahan. Tepat tengah hari, pelanggan sudah agak berkurang. Dia memutuskan untuk menutup tokonya sebentar untuk istirahat, dan akan buka lagi pukul satu siang nanti.
Di ruang istirahatnya, Erawati membaringkan dirinya di atas sofa. Dia membujurkan kakinya yang kaku. Wanita yang juga ahli memijat itu mulai mengoleskan minyak tawon dan memijat kakinya dengan lembut. Rasanya kaki-kaki kaku itu mulai terasa lebih baik. Dia berdiri dan pergi ke dapur untuk membuat minuman. Beras kencur dingin sangat cocok untuk cuaca yang seterik ini. Setelah minuman itu jadi, Erawati mendengar ada suara lonceng depan pintu yang biasanya menjadi pertanda adanya pelanggan. Sambil menggerutu, dia berjalan ke depan untuk melihat orang macam apa yang nyelonong masuk toko yang jelas-jelas sudah dipasang tanda tutup.
"Maaf, kami sedang istir ...," Erawati tak melanjutkan kata-katanya. Saat ini ada dua orang berdiri di hadapannya. Satu wanita dan satu pria. Mereka adalah Katriyani dan Gaja, "eh, kalian di sini?" sapa Erawati. "Kalian butuh jamu?"
"Ah, tidak. Kami hanya mampir untuk melihat-lihat," Katriyani berkeliling. Tangannya memegang-memegang beberapa herbal-herbal kering yang ada dalam boks kayu berjajar.
"Kalian mau es beras kencur? Ini cocok sekali untuk udara yang sedang terik seperti hari ini. Tunggu sebentar, aku akan membuatkannya. Tidak akan lama." Erawati menawarkan minuman yang sama dengan yang sedang dia munum saat ini.
Erawati pergi ke dapur. Pertama dia menghubungi ibunya, tapi tidak ada jawaban. Dia kemudian menghubungi Daksin, tidak ada jawaban juga. Terang saja tidak ada yang menjawab panggilan Erawati, karena Daksin, Chandrika, dan Erlangga sedang di mandir untuk melakukan suatu ritual. Erawati tak patah harapan, dia mencoba menghubungi kakaknya. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tersambung. Namun sayangnya, belum sempat dia memberitahukan apa yang terjadi pada Arima, dia mendengar suara Katriyani dan Gaja datang memasuki dapur. Erawati dengan gugup memasukkan ponselnya yang masih terhubung ke dalam saku. Jauh di Universitas Niskaladriya, Arima terus menghalo Erawati. Berhubung Erawati tak menyahut, jadi dia mematikan ponselnya dan melanjutkan mengajar mahasiswanya.
"Bagaimana Erawati? Apa mereka akan datang?" Katriyani bicara seolah dia tahu apa yang telah Erawati lakukan. "Dari wajahmu, jawabannya pasti tidak."
Erawati tahu ini tidak wajar. Ada yang tidak beres dengan kedatangan Katriyani dan Gaja ke tempat ini. Dia juga tahu kalau hidupnya dalam bahaya. Erawati menyingkur tangan kirinya ke belakang, lalu merapal mantra dalam hati untuk memanggil senjata pusakanya yang bernama keris ilat kilat—sebuah keris berukuran tujuh belas sentimenter dengan pamor mega mendung dan pegangan ukiran vajra.
"Kau tahu, Erawati, kami sebenarnya datang bukan untuk menyapamu. Apalagi minum beras kencur bersamamu. Kami datang dengan tujuan yang lebih besar. Aku bukan tipe orang yang suka basa-basi, jadi aku akan langsung ke intinya saja." Suasana hening sesaat. "Kami datang untuk menghabisimu. Bukan hanya kamu, tapi semua keluargamu. Karena apa? Sebab, Keluarga Mandraguna, keluargamu itu, sudah berkuasa terlalu lama. Kalian sudah terlalu lama memimpin. Sudah saatnya pergantian pemimpin. Dan, aku rasa, tidak ada yang lebih pantas selain diriku. Kini giliran Katriyani Aswamuni yang memimpin para vadika. Aku akan menjadi mahavadika menggantikan Chandrika."
"Kau tidak bisa menjadi mahavadika dengan cara menobatkan dirimu sendiri. Kau tidak memiliki garis darah dari Dyah Manasa. Mustahil untukmu menjadi mahavadika. Semua yang menjadi mahavadika, dari Dyah Manasa hingga Dyah Chandrika, ibuku sendiri, semuanya memiliki darah yang sama dan kekuatan yang selalu diturunkan. Jika kau berkeinginan menjadi mahavadika, maka artinya kau melawan keabsolutan mahavadika Dyah Chandrika. Yakinlah, tidak akan ada yang mendukungmu, kecuali putramu itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
MANDRAGUNA
Fantasy"Saat purnama mengembang di langit malam, datanglah ke tanah lapang. Tanggalkan ketakutan dan keraguan dalam hatimu. Jangan takut pada kegelapan, sebab ada Sang Dewi di sana."
