The Wind Blows

3.6K 473 52
                                        

Aloha!

Akhir-akhir ini suasana hati lagi gak terlalu bagus, susah banget mau lanjutin work yang lain tapi malah kepikiran cerita dengan plot 'mendung'.

So yeah, happy reading :D

.
.

"Hah."

Entah kali keberapa h3laan napas itu kukeluarkan.

Orang bilang, jika satu kali saja menghela napas itu sama saja dengan menghilangkan satu kebahagiaan,

Dan aku melakukannya berulang-ulang.

Mungkin saja benar, karena hari ini, aku melihat tak ada cahaya dilangit.

Mendung.

Mungkin saja hal itu benar, bahwa kebahagiaan akan segera menghilang seiring dengan awan hitam yang mulai menyelimuti.

Aku mengeratkan mantelku seiring angin yang berhembus semakin kuat, menatap deburan ombak yang kian tinggi dan menakutkan.

"Wei Ying."

Suara berat seseorang memanggil dengan lembut, sanggup mematik senyum kecil disudut-sudut bibirku.

Entah kenapa, tapi aku benar-benar menyukai ketika suara itu memanggil namaku.

Aku melirik pria tinggi yang berjalan kian mendekat, lalu tertawa kecil ketika ia meraih tanganku dan menggosoknya hingga terasa hangat, "ini bukan hari yang bagus untuk bermain dipantai." Katanya yang kini menangkup kedua pipiku, menghilangkan hawa dingin yang sejak tadi menyerang dengan brutal.

"Lan Zhan." Panggilku, sedikit memejamkan mata merasakan kehangatan yang mengalir dari tangannya.

"Mn?"

Satu kali lagi aku menghembuskan napas, kali ini dengan lebig berat.

Aku membuka mataku, menatap iris emasnya lekat-lekat.

Kepingan emas yang selalu menatap dengan penuh cinta, aku tak yakin akan ada orang lain yang menatapku dengan begitu tulus dan dalam seperti pria dihadapanku ini.

Lan Wangji, adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan itu.

"Mari kita akhiri semuanya disini."

Tepat setelah kalimatku berakhir, ia memberikan reaksi yang sudah kuprediksi.

Meski ia jarang menunjukan ekspresi berlebihan, namun kali ini benar-benar terlihat jelas.

Raut terkejut juga gurat kesedihan, aku hampir tak sanggup melihatnya.

"Apa maksudmu?"

"Kau tau aku akan melanjutkan pendidikanku di luar negeri, kan?"

Tangan yang masih berada dipipiku terasa gemetar, namun dia masih mempertahankan posisinya.

"Apa itu sebuah alasan yang cukup untuk mengakhiri hubungan kita?"

Ia menarikku semakin mendekat, menatap bola mataku semakin lekat dan terkesan tajam, "kau tau aku akan menunggumu-"

"Tidak."

Aku memutus kalimatnya, melepaskan tangkupannya dipipiku perlahan lalu mundur satu langkah menjauhinya.

"Lan Zhan, kau tau seberapa sulitnya itu? Aku akan bertemu banyak orang baru, melewati hari-hariku bersama mereka sedangkan kau berada sangat jauh dariku. Aku tidak bisa menjamin bahwa perasaanku padamu akan tetap sama."

Chateau de WangxianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang