Hola~
Dan seperti judulnya, latar waktu disini lompat jauh dari abstrak chapter sebelumnya ◖⚆ᴥ⚆◗
Happy reading y'all my favorites~
.
.
.
Wangji mengecek arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Jarum pendeknya sudah menunjuk ke angka sebelas.
Ia mendesah, karena lagi-lagi dirinya tidak bisa pulang cepat.
Lagi-lagi dirinya harus terkurung di ruang operasi sampai larut malam, dan kembali mengecewakan putranya karena tidak bisa datang di perayaan hari ayah di sekolahnya.
Padahal Shizui sudah mewanti-wanti dirinya dari jauh-jauh hari, memintanya untuk meluangkan waktu barang sehari saja agar bisa menghabiskan waktu dihari spesial itu.
Tapi seperti tahun sebelumnya, hari inipun Wangji tidak bisa memenuhi keinginan putranya itu.
Tentu ia merasa sangat bersalah, tapi disisi lain dirinya juga tidak bisa melalaikan sumpahnya sebagai dokter yang telah ia ucapkan untuk selalu memprioritaskan pasien.
Perasaan dilema yang malah semakin membuatnya frustasi.
Ia mengusap wajahnya yang kusut oleh rasa lelah dan bersalah yang kini membumbung dikepalanya.
Takut jika Shizui akan merajuk padanya.
Wangji melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, membelah jalanan yang untungnya sepi agar segera sampai rumah.
Ia ingin segera membersihkan diri dan beristirahat.
.
.
.
Mobil sedan hitamnya ia parkir dihalaman rumah besar miliknya. Sebelah tangannya penuh oleh paper bag berisi cake juga bucket bunga yang untungnya sempat ia beli disela-sela waktu istirahatnya.
Dengan langkah gontai ia memasuki rumahnya dan langsung disambut oleh kegelapan.
Hampir semua lampu telah padam.
Namun lamat-lamat ia dapat mendengar suara percakapan juga kedipan cahaya di ruang keluarganya. Buru-buru ia membereskan sepatunya ke dalam rak yang ada disamping pintu masuk dan segera menuju sumber keributan.
Wangji tidak bisa menahan sudut-sudut bibirnya untuk tidak tersenyum ketika mendapati sosok menawan yang sepertinya sudah stand by menunggu kepulangannya.
Pria itu duduk dengan tangan bersilang, wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun melainkan hanya menatapnya dalam diam. Jemari lentiknya memberi gestur dipergelangan tangannya, seolah mempertanyakan waktu yang sudah merangkak jauh dari janji yang sudah ditentukan.
"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa Wangji katakan. Ia tak memiliki pembelaan apapun.
Kedua tangannya meraih Wei Wuxian kedalam pelukannya, mendekap tubuh kurus itu erat-erat, seolah tengah merestorasi energinya yang terkuras habis seharian ini.
Berjibaku dengan pasien-pasien di ruang operasi bukan hal mudah, ia mempertaruhkan nyawa seseorang dimeja operasi diantara tangan dan pisau bedah.
Dan bahkan meski ia telah memiliki jam terbang tinggi dalam bidang ini, namun tetap saja dirinya tak bisa memungkiri bahwa terselip rasa takut yang terkadang membayanginya ketika ujung pisau bedahnya menyentuh epidermis pasien-pasien tak berdaya itu.
"Apa semuanya berjalan baik?" Tanya Wei Wuxian didalam pelukannya, telapak tangannya yang hangat menepuk-nepuk punggung gagah Wangji.
"Mn, semuanya berjalan dengan baik. Pasienku sudah melewati waktu kritisnya." Jawab Wangji, ia menumpukan dagunya di atas puncak kepala sang istri, sesekali menyesap aroma menyegarkan dari rambut halus Wei Wuxian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chateau de Wangxian
Short Storypenggalan kisah pendek Wangxian di era modern. Alternative Universe. disclaimer: I own nothing, whole characters inside are belong to MXTX
