Holaaa~
Ketika Lan Wangji turun dari mobil yang dikendarainya, udara panas langsung menghantamnya dengan telak. Seakan udara dingin dari AC yang menemani sepanjang perjalanannya tadi hanya sekedar angin lalu.
Kemeja putih yang dia kenakan sudah agak basah di bagian kerah, begitupun kulitnya yang seputih porselen sudah agak memerah akibat sengatan matahari yang ganas.
Pertengahan musim panas tahun ini memang berlangsung gila-gilaan. Sampai-sampai wejangan untuk tidak lupa mengaplikasikan tabir Surya dan mengurangi aktivitas di luar ruangan dari presenter acara forecast weather sudah seperti alarm yang disetel default setiap harinya.
Wangji menepuk bagian lengan kemejanya yang entah sejak kapan dihinggapi pappus* dan baru sadar jika udara di sekitarnya sudah dipenuhi benda menyerupai kapas-kapas halus yang berterbangan, ikut tertiup angin yang memang berhembus cukup kencang.
*Pappus, bagian putih bunga dandelion yang berbentuk seperti bulu.
Tanpa sadar Wangji menolehkan kepalanya ke segala arah untuk mencari dari mana sumber benda itu berasal, lalu tak lama sebuah sepeda hitam dengan keranjang depan yang dipenuhi berbagai macam bunga termasuk dandelion melintas tepat dihadapan Wangji, dikendarai oleh sosok pemuda yang tertawa riang sambil mengayuh sepedanya dengan semangat.
Sejenak Wangji memperhatikan sosok itu, namun hanya sebentar karena seseorang sudah lebih dulu menariknya dari lamunan sesaat. Seorang pria paru baya tiba-tiba turun dari sepeda dan menghampirinya, "Nak, apa ada masalah? Mobilmu mogok?" Tanya pria itu ramah. Mungkin penasaran karena Wangji berhenti di tempat yang tidak biasa.
Wangji menggeleng kecil, "Aku sedang menuju penginapan, tapi navigasi nya terhenti. Sepertinya internet disini terputus." Jelas Wangji sopan. Dia memang sedang kebingungan, dihadapannya ada persimpangan sementara Wangji kehilangan petunjuk arah menuju penginapan. Jadilah dia keluar dari mobil untuk sekedar mencari seseorang yang bisa ia tanyai.
Pria itu mengangguk mengerti, "Yah, memang sudah hampir tiga hari ini sinyal di desa ini terputus setelah badai petir. Kepala desa kami sedang berusaha memperbaikinya dengan memanggil teknisi dari kota. Tapi yah, seperti yang kau tau, akses menuju desa ini cukup jauh, jadi membutuhkan lebih banyak waktu untuk sampai ke sini. Eh, aku jadi banyak bicara, maaf ya, haha. Sudah lama sekali sejak ada orang asing yang masuk ke desa ini. Jadi, kau menuju penginapan?"
"Ya, penginapan Yun Jing Zhan, anda tau dimana?"
Pria paru baya itu mendecakan lidah, "Tentu saja, itu penginapan yang paling terkenal di desa ini. Dulu saat desa ini ada di puncak kejayaan, para wisatawan sering memilih tempat itu untuk menginap karena pemandangannya yang sempurna. Selain pemandangannya, anak pemilik penginapan itu juga salah satu yang memikat para pengunjung untuk datang. Wajahnya seperti pahatan Dewi, sifatnya juga ceria, bisa membuat siapa saja tersenyum saat melihatnya." Katanya membangga kan, apalagi ketika membicarakan si anak pemilik penginapan. Namun tak lama raut wajahnya berubah agak lesu, "Yah, tapi keadaan tidak akan selalu sama. Ya tuhan, lagi-lagi aku banyak bicara. Ambil jalan ke kanan kalau kau mau ke penginapan itu. Dari sana lurus saja, nanti ada batu besar dengan pahatan nama penginapan, lalu kau sampai."
Wangji menundukan kepalanya sedikit, "Terimakasih banyak."
Pria itu mengangguk sambil tersenyum, lalu menaiki kembali sepedanya dan meninggalkan Wangji setelah berpamitan.
Angin yang cukup kencang berhembus hingga membuat surai legam Wangji agak berantakan, membawa aroma rerumputan segar khas pedesaan memenuhi indra penciumannya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah hamparan sawah yang luas dan hijau di sisi kanan jalan aspal, ke arah gunung yang terasa begitu dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chateau de Wangxian
Kurzgeschichtenpenggalan kisah pendek Wangxian di era modern. Alternative Universe. disclaimer: I own nothing, whole characters inside are belong to MXTX
