Beberapa menit lagi, bel sekolah akan berbunyi. Semua murid menyiapkan barang-barangnya ke dalam tas, tetapi Juna malah asyik menghadang jalan seorang semut. Dia memang sedang bosan dan bingung harus melakukan apa. Lagian, dia tidak membunuh semut tersebut. Juna berhenti usil kepada semut dan mulai memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat begitu serius, tidak seperti hari-hari biasa.
"Semut adalah makhluk sosial dan selalu terhubung dengan kolonial lainnya. Gue jahat banget kalo sampe kekang semut ini, apalagi kalo sampe membunuh hewan kecil bernama semut. Semut, lo terkekang sama gue, ya? Maaf!" ujar Juna sambil menarik tangannya dari meja supaya semut itu berkumpul dengan kolonialnya, "hewan kecil kayak semut aja bisa terkekang, apalagi Clara yang selalu gue kejar. Apa OSIS sangar itu udah terkekang banget sama gue karena dikejar terus?"
Semut yang tidak bersalah malah disuruh untuk berpikir, pantas saja beberapa orang menganggap kalau Juna adalah laki-laki aneh. Namun, apakah kalian sadar? Tidak banyak orang yang bisa mengambil hikmah dari tindakannya sendiri. Juna bisa berpikir tentang rasa 'terkekang' dari semut saja. Hm. Ternyata benar kalau manusia sengklek sepertinya, masih bisa berpikir dewasa.
Juna mendongak pada langit-langit kelas kemudian bergumam, "Engkau pasti capek melihat kejar-kejaran ini, 'kan? Tolong beri Hamba kesempatan! Siapa tahu, besok dapat IPhone dari hasil give away. Please, ya? Sekali aja! Hamba masih pengen kejar Clara karena lari-larian itu sehat dan akan memicu pembakaran kalori dalam tubuh."
Stres! Lebih baik, kalian tidak usah mengurusi hidup Juna. Dia mampu membuat siapa pun menjadi ikut pusing. Lebih baik, getok saja kepala laki-laki humoris itu menggunakan gayung milik Kakek Cangkul! Ketika Juna masih asik memikirkan Clara, gadis itu mendadak masuk ke dalam kelas dengan ekspresi culas.
Beberapa orang malas untuk melirik gadis itu, tetapi Juna sangat berbeda. Juna malah cengengesan seperti anak PAUD yang mendapatkan hadiah. Sejak zaman azoikum, dia tidak pernah bosan mengangumi gadis tersebut.
Setiap memandangi wajah Clara, Juna selalu mendapatkan kebahagiaan tersendiri. Wajah rupawan itu berhasil melancarkan haluannya. Namun, kebahagiaan langsung runtuh setelah dimaki oleh sang empu. Ketika asyik memandangi wajah gadis cantik itu, Clara langsung memutar mata karena merasa enek. Juna memang lucu, tetapi sering membuat Clara merasa malu.
Brak!
Clara meletakan tumpukan buku paket di meja sampai Juna tersentak kaget. Setelah tersadar dari lamunan, gadis itu duduk di sampingnya. Juna kembali melotot kaget karena tidak menyangka kalau Clara sudi duduk di sebelahnya. Gadis berambut pendek ini membuka beberapa lembar buku dan ingin menagih janji Juna untuk mengajari dirinya. Ada banyak rumus sulit yang ingin ditanyakan. Semoga saja otak Juna tidak sengklek di sela-sela pembelajaran.
"Buset, gue belum belajar pelet halal di sepertiga malam, kenapa cewek ini berubah kayak utusan malaikat?" ujar Juna sambil menampar pipi sendiri, "Ra, lo enggak sakit, 'kan? Siapa tahu, otak lo miring ke atas sampai berubah jadi alim gini. Lo tahu enggak, Ra?"
"Gak tahu, orang lo belum kasih tahu gue," balas Clara sambil menggapit rambut pendeknya menggunakan jedai.
"Orang yang makan daun kecubung bisa mabuk sampai tertawa kenceng atau bertingkah aneh. Pasti lo udah mabuk angin sampai bertingkah aneh kayak orang gila begini," tuduh Juna dengan wajah memelas seperti mengkhawatirkan keadaan Clara.
Clara menoleh dengan tatapan datar kemudian menjawab, "Emang apa hubungannya daun kecubung sama mabuk angin? Ck, kayaknya lo yang udah gila!"
"Betul. Tanpa makan kecubung pun, gue udah tergila-gila sama lo," balas Juna sambil menyeka sehelai rambut yang menghalangi wajah rupawan Clara.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUNA AG ( TAMAT )
Teen FictionTAMAT - PART MASIH LENGKAP. ✅ 'Playboy jahil itu siap mengubah suasana kelas seperti neraka!' Tragedi 30 September menciptakan trauma bagi keluarga korban. Murid cerdas sekaligus humoris bernama Juna AG berusaha setengah mati untuk menutupi luka. Ma...
