Lampu itu sudah remang-remang, tetapi seorang pemuda masih sibuk membaca serta menghitung soal MTK. Andai waktu bisa diputar lebih lama, mungkin Juna akan menghafalkan semua rumus tersebut. Dirinya sudah mengantuk, tetapi memaksa untuk terus belajar.
"X¹ dikurangi Y² sama dengan 7⁴. Berapakah jumlah kubus ruang CD?" Enggak sopan banget soal-soal ini? Masa harus belajar tentang CD?" cerca Juna sambil menggebrak meja.
Brak!
Laki-laki humoris ini sangat fokus pada tugas-tugas dan tidak peduli terhadap suara dentuman dari arah ruang tengah.
"Karena memikirkan rumus ini, otak gue bisa ikutan gila. Aish!"
Brak!
Suara dentuman kembali terdengar, tetapi Juna masih bisa santai karena terbiasa mendengarkannya. Saat di ruang tengah, Juna sempat menatap keadaan Ibunda.
Ibu Hesti masih belum tidur. Tangan kanan yang baru sembuh dari stroke sedang melempar beberapa gelas plastik. Siapa pun akan merasa risi, tetapi juna sama sekali tidak emosi.
Laki-laki humoris itu tersenyum simpul lalu bergumam, "Mama udah sembuh, tapi trauma Mama sulit disembuhkan. Semoga Mama bisa sembuh dari penyakit dan trauma itu!"
***
Juna meraih selimut di kamarnya, lalu berjalan menghampiri sang Ibu. Dia memberi selimut dengan hati-hati padahal Ibu Hesti sudah bertingkah seperti wanita tidak waras. Beberapa detik berlalu, Ibu Hesti langsung melotot tajam lalu melemparkan selimut itu menuju kaki anaknya.
Sakit!
Tidak ada seorang pun anak yang mau diperlakukan seperti itu, tetapi Juna terus bersabar. Juna duduk di samping tubuh sang Ibu kemudian mendengarkan setiap keluhan tanpa menyela.
"Hewan buas benar-benar ada ... contohnya di sisi saya!" balas Ibu Hesti dengan nada serak, tetapi Juna masih mampu mendengarkannya.
"Mama kalo mau mengeluh, boleh. Juna siap dengerin keluhan Mama," ujarnya sambil memijat kaki kanan Ibu Hesti yang masih mengalami stroke ringan.
"Sebelum kamu datang, saya tidak sial."
"Sebelum Mama sakit, Mama selalu kasih nasihat supaya Juna belajar giat," sela Juna.
"Mau mati juga saya gak peduli."
Ibu Hesti memberi tatapan tajam, tetapi laki-laki humoris itu malah cengengesan bagaikan anak idiot yang ingin menjaga perasaan ibunya.
"Tadi Juna udah belajar, kok, Ma. Besok, ada ulangan di sekolah. Tolong doakan supaya ulangannya lancar, ya?" Juna masih tetap mengatakan kalimat positif.
Semenjak keluarga mereka bangkrut karena Ibu Hesti mengalami stroke, Juna sering diperlakukan seperti itu. Namun, tidak mengapa.
Laki-laki kuat adalah dia yang mampu menjaga perasaan Ibu dan beberapa perempuan di sekitarnya. Juna akan selalu menjaga perasaan sang Ibu, walaupun ibunya tidak pernah ingin melihat Juna hidup.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam, tetapi Ibu Hesti baru bisa tertidur pulas. Setelah Ibu tercinta menutup mata, Juna baru membaringkan tubuh di samping ibunya dalam keadaan meringkuk kedinginan.
"Selamat malam, bidadari. Semoga lekas sembuh! Selama Mama selalu bahagia, Juna enggak pernah terluka," ungkapnya sambil memegangi tangan kanan Ibu Hesti, tetapi segera ditepis secara kasar.
***
Juna berjalan santai padahal sudah jam tujuh. Dia memang sudah gila, tidak heran apabila guru-guru selalu memarahinya. Laki-laki tanpa akhlak itu tidak berjalan menuju gerbang. Mungkin kepalanya bisa dipenggal guru BK karena selalu telat berangkat sekolah.
Ketika sudah di dekat tembok belakang sekolah, Juna langsung berkacak pinggang karena melihat seorang gadis cantik yang ikut panjat tembok bersamanya. Namanya adalah Natasha, salah satu penghuni geng paling unik di alam semesta, yaitu Sanggara Geng.
"Kenapa bisa telat, Tata binti Natasha?" goda Juna sambil berjalan mendekati gadis itu.
Natasha menoleh dengan ekspresi memelas kemudian menjawab, "Jun, lo bisa bantuin gue panjat tembok ini enggak?"
"Bisa, tapi cium gue dulu!" seru Juna sambil mendekatkan pipinya menuju Natasha, tetapi langsung ditempeleng sekuat tenaga.
"Jangan ngadi-ngadi lo! Gue bilangin ke Emak lo, ya!"
Natasha menunjuk wajah Juna karena laki-laki tersebut selalu menyebalkan. Juna langsung terkekeh karena wajah temannya sangat menggemaskan. Dia segera mencubit pelan pipi Natasha sambil tersenyum simpul.
"Gue enggak akan jadi cowok kayak gitu, lo jangan takut!" ungkapnya sambil menarik pergelangan tangan Natasha.
Mereka berjalan mendekati tembok secara beriringan dan Juna langsung berjongkok di dekat rok temannya. Wajahnya terlihat bagaikan laki-laki mesum sampai membuat Natasha menjauh karena ketakutan.
"Lo jangan ngintip rok gue!" pinta Natasha sambil menutupi roknya.
"Ya Ampun, santai aja! Gue lebih suka nonton Betmen daripada nonton isi rok lo."
"Gue pites otak lo kalo ngomong lagi!"
"Sini, lo naik ke paha gue! Gue janji enggak akan ngintip. Lo pikir, gue itu apaan?"
"Lo tukang bohong, tukang gombal, ngeselin banget deh pokoknya!"
"Gue gak akan melecehkan perempuan di sekitar gue, Sha. Santai aja!"
Juna segera berjongkok kemudian menutup matanya rapat-rapat. Dia memang kurang waras karena selalu mengatakan kalimat konyol, tetapi dirinya masih tau cara menghormati seorang perempuan.
Setelah berhasil memanjat tembok, Natasha segera tersenyum manis lalu berteriak, "Terima kasih karena mau menghormati perempuan! Clara akan jadi cewek paling beruntung kalo bisa jadi pasangan lo."
Natasha langsung meninggalkan Juna karena di balik tembok itu ada anak tangga yang disiapkan murid nakal untuk membolos. Setelah gadis itu pergi, Juna langsung tersenyum kecut.
"Gue terlalu tarak-takdung untuk dia," ujar Juna sambil mengambil ancang-ancang.
Tap!
Juna berhasil melompati tembok itu dalam sekali percobaan.
***
Juna terlihat percaya diri padahal telat masuk di pelajaran pertama. Dia duduk di lorong kelas lalu meraih buku matematika. Laki-laki tersebut melotot kaget ketika melihat Clara sedang membawa banyak buku dengan ekspresi memelas.
Juna mendekat lalu berdiri di depan Clara untuk menawarkan bantuan. Namun, tubuh mereka malah tidak sengaja saling bertabrakan dan membuat seluruh buku yang dibawa Clara berserakan di atas lantai.
Clara menatap Juna dengan ekspresi jengkel. Dia lelah membawa banyak buku, tetapi Juna malah mengacaukan semuanya.
"Ngapain lo berdiri di depan gue? Lo sengaja membuat buku-bukunya berantakan, ya?"
"Ra, gue enggak sengaja. Maaf banget, ya? Tadinya gue mau bantuin lo," ujar Juna sambil menyatukan tangannya di depan dada.
"Mata lo enggak buta? Ngapain lo berjalan di depan gue padahal jalanan masih lenggang?"
"Jangan marah lagi, Clara! Kalo lagi marah, lo mirip kayak Rapunzel saat kesandung biji durian," celoteh Juna sambil memegangi telinganya sendiri, "gue janji gak akan lakuin kebodohan tadi lagi! Gue berani dikutuk jadi milyuner kalo berbohong!"
KAMU SEDANG MEMBACA
JUNA AG ( TAMAT )
Fiksi RemajaTAMAT - PART MASIH LENGKAP. ✅ 'Playboy jahil itu siap mengubah suasana kelas seperti neraka!' Tragedi 30 September menciptakan trauma bagi keluarga korban. Murid cerdas sekaligus humoris bernama Juna AG berusaha setengah mati untuk menutupi luka. Ma...
