23. Clara Memilih Dirinya.

13 7 9
                                        

Tanpa pikir panjang, Juna berdiri tegap untuk menyusul kepergian Clara. Untung saja semua buku sudah dimasukkan ke dalam tas. "Ra, ingus gue keluar lagi, lu nggak mau susut ingus gue apa?" teriak Juna sambil mengacungkan satu pak tisu ke udara.

***

Hujan mulai turun secara mendadak padahal gadis berambut pendek ini ingin pulang secepatnya, ada banyak tugas dari Bu Hana. Dirinya terpaksa menunggu hujan reda di halte angkot yang sudah sepi. Tidak lama berlalu, matanya tidak sengaja melihat orang aneh sedang berlari mendekat. Di bawah guyur hujan, Juna berjinjit bagaikan dugong yang menghindari percikan air.

Tangan kanannya membawa payung, entah dari mana. Setelah sampai di halte bus, Juna cuma cengengesan sambil berkata, "Sendirian aja, Ra?"

"Gue lagi berdua sama makhluk tak kasat mata," jawab Clara sambil memutar mata, malas menjawab ocehan Juna.

Juna melirik ke kanan-kiri, kemudian berujar, "Tidak kasat mata artinya setan. Di sini enggak ada setan, Ra."

"Lo setannya!" celetuknya sambil menahan tawa sehingga membuat Juna ikut terkekeh.

Bukannya mereda, hujan malah turun semakin lebat. Tidak ada satu pun kendaraan umum yang lewat. Bus ber-AC yang selalu disediakan sekolah bahkan sudah meninggalkan mereka berdua. Sekarang, Clara cuma bisa menunggu hujan reda. Dia tidak bisa menerobos hujan karena buku-buku akan basah.

Clara segera menaruh tas di dekat kursi karena akan aman dari rintik hujan. Dia pun menunggu bus lewat di samping tubuh Juna. Badannya tampak sedikit menggigil, tetapi berusaha untuk tetap kuat. Kalau Juna sampai tahu dirinya sedang menggigil, maka laki-laki humoris akan mengatakan hal-hal nyeleneh.

"Hujannya terlalu lebat. Lo enggak kedinginan?" tanya Juna dengan nada dilembut-lembutkan, tangan kirinya berusaha meraih pergelangan tangan Clara.

Clara langsung menjauh, beberapa langkah. "Gue gaplok kalau lo berani memeluk gue!" ancam Clara untuk ke sekian kali.

Juna menghela nafas panjang karena tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Ternyata Clara masih tidak percaya kepadanya.

"Kalau gue mau ajak lo ke pelaminan, boleh?" Juna mengedipkan sebelah matanya.

"Gak!" jawab Clara dengan begitu tegas sambil membetulkan posisi pin OSIS yang terpasang di dada sebelah kiri.

Di saat keduanya asyik mengobrol, sebuah mobil berwarna hitam melaju di depan mereka dengan kencang. Air dari tanah langsung menyembur ke segala arah dan hampir membasahi rok sekolah Clara, untungnya Juna mau menjadi dinding di depan tubuh Clara. Gadis ini melotot kaget karena masih ada mobil songong yang selalu mengemudi bagaikan kerasukan roh halus.

"Woy! Kalo bawa mobil itu hati-hati! Lo pikir, jalanan ini milik roh halus? Enak banget kalo injak genangan air di jalan!"

"Nah, iya, betul!" Juna mengompori keadaan sehingga makin memanas.

"Lihat! Rok gue jadi basah, 'kan?" sergah Clara sambil menunjuk mobil hitam yang sudah sedikit menjauh.

Juna mengangguk, tetapi wajahnya mendadak berubah menjadi kecut. "Tapi, Ra, gue yang terkena air lebih banyak dari lo."

"Sss, diam!" pekik Clara sambil melirik mobil hitam, "heh, anak mana lo? Mau gue bantai, hah? Berhenti, conge!"

Juna langsung terdiam karena Clara begitu menyeramkan kalau sedang marah. Gadis ini tidak ada bedanya dengan Mbak Kuntilanak yang sedang berganti daster, sama-sama seram. Laki-laki humoris sampai bergidik ngeri. Kalau terlalu ikut campur, dia pasti akan disemprot juga.

Lebih baik, Juna duduk manis di tempat tunggu bus. Ketika Clara masih asyik mengeluh, mobil hitam itu mendadak putar arah, kemudian mendekati dua remaja yang sedang berteduh.

Clara melotot kaget saat melihat Danu keluar dari mobil tersebut. Danu membawa payung di tangan kiri sambil tersenyum sinis karena saingannya hanyalah laki-laki biasa dan tidak memiliki mobil mewah.

"Kenapa lo enggak pakai mobil aja, Ra?"

"Suka-suka gue! Ngapain sok-sokan bertanya gitu?"

"Gue kasihan banget sama lo. Lo adalah anak orang berada, ngapain mau dekat-dekat sama kuman kayak Juna?"

Juna mendelik, ucapan Danu memang terlalu indah sampai dirinya ingin melemparkan sedotan pada mata Danu. "Kuman pala kau! Gue bukan kuman, tapi jigong!"

Danu tertawa kecil, lantas menjawab, "Lo dengar sendiri, 'kan, Ra? Juna itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan gue! Ayo, ikut gue naik mobil aja! Perjalanan lo akan lebih aman."

"Jangan banyak omong, lebih baik lo pergi, mulut lo yang bau jigong, Danu!" usir Clara sambil memalingkan wajahnya.

Tangan kanan langsung ditaruh untuk menutupi mulutnya. Ucapan Clara memang selalu berhasil membuat Juna ingin tertawa terbahak-bahak. Ada saja kalimat yang lebih nyeleneh dari gadis sinis ini. Mental Danu pasti sedang down sehingga bibirnya terus maju sepanjang dua senti.

"Ngapain masih mau sama si kere?" sindir Danu di dekat mobil karena takut disemprot oleh Clara.

"Oh, jadi lo adalah pemilik mobil yang songong?" sergah Clara sambil meraih handphone dari saku dan hendak melemparkannya, "ngeselin banget, sih? Bukannya minta maaf malah sombong kayak gitu. Mau gue tabok pake iphone? Hah? Sini, maju lo!"

Juna tercengang kaget karena para remaja yang sekolah di Legantara High School sangat nekat kalau sudah marah, terutama Clara. Handphone berharga puluhan juta mau dilempar begitu saja.

Tangan kanan Juna segera menarik paksa handphone Clara, "Jangan dilempar juga HP mahal ini, Ra! Sayang banget, mahal, enggak murahan kayak mulutnya si Danu. Kalau lo mau lempar sesuatu, lempar ini aja, nih!" ujar Juna sambil meraih sebuah batu berukuran besar lalu menaruhnya di telapak tangan Clara.

Danu melotot kaget karena Juna sudah membuat nyawanya hampir melayang. Dia segera masuk ke dalam mobil. Mobil kembali melaju kencang, meninggalkan mereka di tempat sepi. Juna langsung menghela nafas lega karena Clara tidak meninggalkannya di tengah hujan seperti ini.

Tidak lama kemudian, Clara segera meraih payung milik Juna sambil berujar, "Yuk, pergi bareng aja! Hujannya akan bertahan lama."

"Lo tahu dari mana kalau hujan akan bertahan lama?"

"Gue anak dukun!" balas Clara dengan nada ketus.

"Wah, pantesan gue tergila-gila sama lo, gue pasti udah terkena pelet."

"Ck, sinting! Gue tahu hujan akan bertahan lama karena ciri-cirinya udah muncul, suasana semakin dingin. Ayok, kita pulang! Gue enggak mau nginep di tempat kumuh kayak gini."

Tubuh Clara sudah menggigil. Gadis yang memiliki sikap dingin, ternyata mampu kedinginan. Juna tersenyum kecil ketika menaruh jaketnya di atas pundak Clara. Gadis ini tidak menolak jaket tersebut, tangannya masih tetap memegangi payung.

Setelah Juna menaruh jaket di pundak Clara, keduanya langsung berjalan beriringan, memecah hujan di sore hari. Susana dingin tidak melelehkan kehangatan dalam hati Juna. Percikan air seakan menambah kesan istimewa antara dua remaja yang memiliki sikap bertolak belakang.

Ketika baru beberapa langkah, Juna malah tidak sengaja menginjak batu besar sampai membuatnya jatuh di jalanan yang sedang basah. Suara kencang berhasil menyadarkan Clara bahwa temannya masih tertinggal di belakang. Kasihan sekali Juna, tas dan seragamnya basah kuyup.

"Ra, tolongin gue? Aspalnya nakal, masa pipi gue dicium tanpa izin," celoteh Juna dalam keadaan tengkurep.

Clara bergegas menghampiri Juna dengan wajah memelas, kemudian bertanya, "Astaga, kenapa lo bisa jatuh kayak gitu?"

"Kaki gue ditengkas makhluk halus," jawabnya dengan begitu asal.

"Aish, nyusahin aja! Ayo, cepat bangun!" perintah Clara sambil mengulurkan tangannya yang lain. Juna pun menerima uluran tangan tersebut, kemudian berdiri tegap.

JUNA AG ( TAMAT )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang