"Heh, apa kamu gila?" sergah Ibu Hesti sambil melepaskan pelukan itu, kemudian melotot tajam, "rumah ini enggak jauh dari lokasi kejadian. Apa kamu enggak menggunakan otak saat mencari rumah ini?"
"Rumah ini terlalu kecil, Bu! Di gapit sama dua apartemen mewah. Semua orang akan fokus menatap apartemen dibandingkan rumah kumuh ini! Saya dan Ayah mencari keluarga korban di semua apartemen. Yang kami tahu, pakaian korban itu mewah. Banyak sekali gaya beliau. Kami berpikir bahwa korban kecelakaan adalah orang kaya yang hidup sebatang kara karena enggak ada satu pun keluarga yang menjemput korban di rumah sakit dalam kurun waktu dua puluh empat jam. Otomatis, kami berinisiatif untuk mengubur jasad beliau di TPU dekat sini."
Clara menjelaskannya sambil berurai air mata. Dia tidak tahu bahwa orang yang ditabrak Ibu kandungnya adalah kepala keluarga sekaligus ayah dari sahabatnya sendiri. Ayah dari orang yang selalu membantu, menemani, dan juga melindunginya. Pecah sudah air mata tersebut. Tidak tertahan dan langsung mengalir deras pada pipi.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Clara, Ibu Hesti cuma tertegun kaget. Tidak ada tetesan air dari mata indahnya. Dirinya melirik gadis ini dengan perasaan tidak percaya dan juga syok. Ini adalah anak dari pelaku kecelakaan yang selalu dicari oleh Juna.
"Nyawa harus dibayar nyawa!" ujar Ibu Hesti dengan tatapan sinis dan tangannya sudah bersiap melakukan sesuatu.
"Apa? Ibu mau melakukan apa?" tanya Clara sembari menatap balik dengan tatapan tidak kalah sinis, "Ibu pikir, kami tidak kehilangan nyawa? Ibu kandung saya juga kehilangan nyawa setelah dibawa ke rumah sakit."
Semua amarah dalam hati mendadak lenyap. Ibu Hesti langsung duduk di samping Clara. Ekspresinya terlihat sedih serta bingung. Menuntut balas pun rasanya percuma. Nyawa dari orang yang menabrak sudah diambil Sang Kuasa. Sekarang Ibu Hesti tidak bisa melakukan apapun, selain diam membisu.
"Saat itu, Mama kasih amanat ke saya. Katanya, 'Clara, Bapak selingkuh. Nak, jangan pernah mempercayai siapapun, termasuk Bapak kamu! Sayang, kamu dengarkan Mama! Sekolah yang rajin! Buktikan pada Bapak kalau kita bisa punya banyak uang. Kita enggak perlu bar haram lagi. Kamu harus menjadi pribadi yang kuat!' Itu adalah kalimat terakhir dari Beliau," ungkap Clara sambil meneteskan air mata.
Ibu Hesti menoleh, kemudian mengangguk pelan. Pantas saja Clara tidak pernah mau mencintai siapa pun. Di balik sikap judes yang ditunjukan oleh Clara, ternyata gadis ini memiliki ambisi kuat untuk membantu mengganti pekerjaan ayahnya sebagai pemilik bar ilegal.
"Setelah mengucapkan motivasi itu ke saya, beliau pergi keluar dalam keadaan marah. Bu, siapa pun akan marah kalau ada yang mengadu suaminya sedang mabuk bersama gadis SMA di bar ilegal."
Clara berhenti bercerita lalu menghela nafas panjang.
"Di tengah perjalanan, beliau malah menghembuskan nafas terakhir. Bu, bukan cuma Juna yang kehilangan kasih sayang orang tua, Clara pun sama. Dia adalah Ibu kandung saya. Saya sangat mencintai beliau," lanjut Clara sambil tersenyum kecut.
Begitulah kesaksian Clara, gadis yang menjadi korban atas tragedi tanggal satu september. Tragedi mengerikan itu sangat membekas di benak kedua korban, termasuk Clara dan Juna. Ibu Hesti sudah tidak bisa menghakimi siapa pun. Dalam hal ini, Clara sama sekali tidak bersalah.
Tok! Tok!
Pintu rumah diketuk secara perlahan. Mereka menoleh dengan perasaan terheran-heran. Ketika Ibu Hesti akan membukakan pintu, Clara bergegas menggenggam tangan kanan beliau, kemudian mencegahnya.
"Biar saya aja yang membuka pintu, Bu."
"Saya aja. Kan, kamu udah tahu kalau saya bisa jalan. Saya akan pura-pura sakit kalau ada Juna doang."
KAMU SEDANG MEMBACA
JUNA AG ( TAMAT )
Teen FictionTAMAT - PART MASIH LENGKAP. ✅ 'Playboy jahil itu siap mengubah suasana kelas seperti neraka!' Tragedi 30 September menciptakan trauma bagi keluarga korban. Murid cerdas sekaligus humoris bernama Juna AG berusaha setengah mati untuk menutupi luka. Ma...
