12. Painful Surprise

2.4K 313 102
                                        

"Hari ini aku harus pulang ke apartemen, maaf tidak bisa menemani-mu malam ini." ujar Jaehyun kala dirinya telah mengantar Jisoo sampai selamat di depan rumah.

"Hmm, tidak apa-apa. Sejak kemarin kau sudah menemaniku di rumah, terima kasih untuk penampilan hari ini. Kau sungguh luar biasa." balas Jisoo, memberi dua jempol yang mengacung di udara kepada Jaehyun.

"Kau menyukainya?"

Jisoo mengangguk dengan cepat, seraya berucap. "Tentu saja, kau sungguh berbakat dalam bermusik."

Jaehyun terkekeh kecil, menimbulkan seulas senyum dengan lesung pipi samar. Ia kemudian mengacak lembut pucuk kepala Jisoo.

"Aku pulang sekarang, sayang. Ingat, setelah ini langsung bersih-bersih dan tidur. Tidak perlu menunggu kabarku, dan hubungi aku kalau insomnia mu kumat. Jangan minum pil tidur itu lagi."

Jisoo berdeham sambil memejamkan matanya sejenak, Jaehyun benar-benar cerewet dan bawel dalam menjaga kesehatan dirinya.

Tapi Jisoo bahagia, kehadiran Jaehyun yang mencemaskan sekaligus mengkhawatirkannya membuat dirinya mendapat penuh banyak perhatian.

"Aku mencintaimu Jisoo." ucap Jaehyun sebelum benar-benar melangkah pergi meninggalkan rumah Jisoo.

Tangan Jisoo tidak henti-hentinya melambai ke arah Jaehyun yang semakin mengecil dalam pandangannya.

Sejenak ia merasa lega, kendati demikian sekelebat perasaan cemas dan takut masih menghantui pikirannya.

Entahlah apa yang seharusnya dia takuti sekarang, pikirannya memang tidak pernah lepas dari bayang-bayang Jennie dan tentu saja dengan Taehyung.

Mereka berdua menghantui pikiran gadis itu. Jisoo memejamkan matanya sejenak, selepas membersihkan tubuh dan mengecek kamar Jaemin.

Ia kembali masuk ke dalam kamar miliknya dengan pikiran yang melalang buana. Sambil memandang kosong langit-langit kamarnya, Jisoo terus berdoa. Ia berharap, janji Taehyung tadi benar-benar ditepati oleh pria itu. Sungguh—sejak tadi, hanya ada pikiran itu dalam kepalanya.

Tak lama ponselnya berdering, satu pesan masuk datang dari Jaehyun yang mengabarinya telah sampai rumah.

Jisoo ingin membalas, tapi sepertinya dia harus mengurungkan niat tersebut untuk memanipulasi Jaehyun bahwa dirinya sudah beristirahat. Karena dengan begitu, Jaehyun tidak akan terus-terusan terlalu mencemaskan Jisoo.

Jisoo meletakan ponselnya di atas nakas. Ia kemudian mencoba memejamkan matanya untuk tertidur.

Lima belas menit telah terlewati, meski matanya terpejam, dirinya masih tetap terjaga. Terpaksa ia keluar dari kamar untuk mengambil segelas air demi menenangkan dirinya sendiri.

Huh, kalau ada Jaehyun, Jisoo yakin dia tidak akan begadang sendirian. Laki-laki itu akan membuat Jisoo terhipnotis dengan kehadirannya.

Seolah ada sihir yang ada di diri Jaehyun, karena dengan memeluk tubuh kekarnya saja Jisoo dapat tertidur dengan sangat nyenyak.

Kedua sudut bibir Jisoo mulai terangkat, ia bersyukur Jaehyun hadir dalam kehidupannya dan menjadi pondasi penyemangat dirinya untuk tetap hidup.

Di saat dulu Jisoo sempat depresi, menginginkan untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari atas gedung tinggi.

Laki-laki itu datang, mencegat tangan Jisoo. Mengucapkan beberapa kalimat yang sampai detik ini masih berbekas di dalam ingatan gadis tersebut.

"Hidupmu terlalu singkat jika diakhiri seperti ini. Berbahagialah terlebih dahulu sebelum kau mengakhirinya."

YOUR PROMISECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang