26. She asks for help

1.5K 227 71
                                        

"Kau ingin kemana?"

"Ke Jepang, aku akan menetap di sana sampai pengobatan itu selesai."

"Kenapa? Bukankah pekan depan kau akan menikah?"

Berhenti melakukan aktivitasnya, Jaehyun menatap lekat manik mata sang adik dengan kedua netranya yang berkaca-kaca.

Tidak menjelaskan dengan kata, laki-laki itu menggeleng cepat kemudian mulai terisak mengeluarkan air mata sembari membereskan pakaiannya dengan tergesa-gesa.

"Seperti keinginan mamah dan papah, aku akan fokus dengan pengobatanku sebelum menikah. Itu yang mereka inginkan bukan sebagai syarat untuk hadir di pesta pernikahanku nanti?!"

"Oppa, apa Jisoo tau kau sedang—"

"Jangan beritahu dia!" Memekik kencang Jaehyun memotong secara mendadak, hingga Rosé terkesiap menatap teduh manik lelah sang kakak.

"Aku akan menjalani pengobatan itu mulai sekarang Rosé, aku akan mengikuti apa yang mamah dan papah inginkan. Tapi tolong, rahasiakan ini semua dari Jisoo. A-aku...a-aku tidak ingin dia—" mencengkeram kuat tangan Rosé sebagai tumpuannya untuk tetap berdiri, tak lama Jaehyun mulai kehilangan kesadarannya dan berakhir di sebuah kamar bernuansa putih dengan selang infus yang telah terpasang rapi pada tangan kirinya.

"Jisoo harus tau keadaanmu, dia harus tau kondisimu. Apa kemarin kalian bertengkar? Apa dia bersikap kasar padamu Oppa?"

"Tidak, Rosé kau terlalu berlebihan. Dia tidak seperti itu, kita putus dengan sangat baik." Jelas Jaehyun, menggenggam erat punggung tangan sang adik demi meyakinkannya dengan sepenuh hati.

"Lusa papah akan memberangkatkanmu ke Jepang, sekarang kau beristirahatlah di sini terlebih dahulu." Gumam Rosé, mengusap lembut lengan Jaehyun yang memucat sebelum melenggang pergi ke luar ruangan.

Di lain tempat Taehyung yang sedang mengurung dirinya sendiri di ruang kerjanya tidak lekas turun menampakan wajah di kediaman Jennie.

Membuat sang anak Chichi dilanda kegelisahan yang hebat kala tidak melihat sang ayah yang tak keluar ruang kerja sudah lebih dari dua hari.

"D-daddy, ini aku Chichi. Apa daddy masih marah denganku?"

Tidak ada sahutan ataupun balasan dari Taehyung, membuat sang anak beringsut mundur menuju dapur untuk menghampiri Jennie yang sedang sarapan pagi bersama Jaemin.

"Mommy, daddy tidak juga membuka pintunya." Rengek Chichi, seraya menarik-narik ujung baju Jennie dengan kuat bersama matanya yang sembab karena terus menangis.

"Noona, haruskah aku memanggilnya?" Jaemin bertanya, membuat Chichi menghentikan tangisnya untuk mendengar lebih jelas maksud dari ucapan pamannya tersebut.

Menggeleng kecil Jennie berucap. "Apa dia mau menginjakan kembali kakinya pada tempat ini?"

"Percuma Jaemin, Jisoo tidak akan mau kembali datang ke sini. Terlebih lagi karena laki-laki itu, sudah biarkan saja Taehyung seperti itu." Ucap Jennie.

Mendengar nama Jisoo, Chichi mengernyit samar kemudian menarik kursi untuk duduk tepat di samping sang paman, Jaemin.

Berlagak layaknya orang dewasa, ia hanya ikut mendengarkan tanpa membuka suara. Kemudian mulai menarik sebuah koran harian untuk dirinya baca, agar Jennie tidak curiga kalau dia sedang menguping pembicaraan mereka.

Jisoo adalah masa lalu Taehyung, itu yang dirinya tangkap. Tandanya sang ayah sudah mengenal gurunya dengan sangat baik. Kobaran api penuh kebencianpun semakin membesar, terlebih lagi saat Jennie mengatakan Taehyung sangat teramat mencintai Jisoo.

YOUR PROMISECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang