"Aku yang banyak menelan kenyataan pahit hanya mengharapkan masa depan indah menanti, bahkan sampai di ujung malam terakhir mimpiku. Dimanapun aku berada, jantungku berdetak karenamu."
Hanya bermodalkan gosip, orang-orang beranggapan seakan tau segalanya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semenjak Rizal melihat Rhesa digertak oleh Liza dan teman-temannya, Rizal selalu saja ingin dekat dengan Rhesa karena merasa ingin melindunginya. Namun Rhesa selalu berusaha untuk menjauhi siapapun. Terutama Rizal. Rhesa masih kesal dengan Rizal sejak malam itu. Rhesa menjadi lebih introvert sekarang. Dia malas melakukan sesuatu di kelasnya, tidak berbicara dengan siapa pun, dan rasanya ingin menyendiri, menyendiri, dan menyendiri.
Meskipun Rhesa sudah berusaha menjauhi semua orang dan menjadi pendiam, Liza dan teman-temannya selalu saja mengusik Rhesa, mengintimidasinya. Begitu pula Rizal yang panas ketika Rhesa diperlakukan seperti itu oleh Liza.
Tetapi, dua minggu belakangan, kelas itu menjadi bahan pembicaraan guru-guru BK. Banyak laporan guru dari kelas itu tentang kenakalan mereka. Kemarin ada siswa dan siswi di kelas itu yang dibawa ke BK karena pacaran di dalam kelas, mereka berpacaran tidak sewajarnya, dan akhirnya mereka terkena marah. Ada siswa yang bolos sekolah dilaporkan. Ada sebuah perundungan dilaporkan. Siswa yang merokok pun terkena sanksi.
Dan yang paling parah saat ulangan harian, hampir semua murid di sini menyontek. Sebagai hukumannya, satu kelas disuruh membersihkan seluruh lingkungan sekolah. Pernah suatu hari Liza bertanya pada guru dari mana mereka mengetahui kenakalan kelas ini. Namun, mereka menjawab jika seseorang yang telah mengirim rekaman vidio dan foto pada guru bk. Mereka semua tidak tau siapa orang itu.
Pagi itu sebelum bel masuk berbunyi, semua teman kelasnya berkumpul dengan emosi yang tidak stabil. Mereka sedang membahas tentang peristiwa yang dialami pada kelasnya.
"Siapa yang ngaduin, sih!" pekik Arya setelah memukul meja.
"Kayaknya pelakunya ada di kelas kita. lihat aja, semua bukti foto atau vidio di ambil di kelas ini," alibi Maura.
"Awas aja kalo sampe ketangkep! Gue bakal jadiin dia bubur penyet," geram Arya.
"Widih, enak tuh," sahut Fajar.
"Diem, njir!" ketus Arya.
"Rhesa!!!" teriak Hera.
Rhesa yang sedang diam pun terkejut ketika Hera meneriakan namanya. Hera mendekati Rhesa dengan tatapan marah, gadis itu kemudian berdiri di depan meja Rhesa dan langsung memukul mejanya dengan keras. Dan untuk yang kedua kalinya, Rhesa terkejut.
"Ada apa, Hera?" tanya Rhesa.
"Ada apa? La nanya ada apa, hah!! Ini pasti semuanya gara-gara lo, kan!! Ngaku!!" tekan Hera.
"Ngelakuin apa?" tanya Rhesa lagi.
Hera memiringkan senyumannya, ia berpikir jika gadis di depannya hanya pura-pura tidak mengetahuinya. Karena kesal, Hera lantas menarik rambut Rhesa dengan kuat hingga gadis itu merintih kesakitan.
"Lo pasti yang udah ngaduin semuanya, kan?" Hera langsung menuduh.
"Bukan gue, beneran, " balas Rhesa.
"Siapa lagi kalo bukan lo? Lo pasti kesal sama kelas ini, 'kan? Lo muak karena lo pikir gue sama teman-teman membully lo, ‘kan? Lo balas dendam dengan cara kaya ini? Iya, ‘kan!! Ngaku!!" Hera berusaha memojokannya.
"Bukan gue yang ngelakuin!" bela Rhesa.
Karena muak, Hera mendorong tubuh Rhesa begitu saja hingga tersungkur di lantai. Hera mendekati Rhesa kembali. Tetapi, dari samping, Maura mendekati Hera dan memegangnya dari belakang.
"Udah, Hera. Lo tau ‘kan pelakunya dari kelas kita? Nanti kalo dia ngerekam lo gimana? Lo nanti kena sidang," kata Maura.
"Hizz!! Awas lo Rhesa!!" geram Hera.
Maura lantas menarik tangan Hera agar pergi dari hadapan Rhesa. Mereka memilih untuk duduk di mejanya.
Hingga tidak terasa, bel masuk berbunyi. Semua siswa-siswi duduk di tempat masing-masing. Selang beberapa saat kemudian, seorang guru datang memasuki kelas mereka. Beliau langsung mendudukkan dirinya di meja guru. Tetapi, ada yang aneh dengan guru itu. Tatapannya terlihat marah.
"Oke, Ibu sudah hilang kesabaran. Ibu muak dengan kelas ini. Kenakalan kalian, kecurangan kalian, dan semua itu kalian lakukan terus menerus. Ibu benar-benar tidak menyengka kalian ternyata senakal ini!?" sembur Ayu memarahi seisi kelas.
Semua kelas terdiam disaat Ayu memarahi kelas itu. Ditambah saat Ayu mengatakan Muak. SMA Janitra harusnya menjadi sekolah terbaik, namun karena perilaku murid-muridnya membuat nama sekolah itu tercemar.
"Hera! Liza! Bagus kalian, ya! Ini udah ketiga kalinya kalian nyakitin Rhesa. Kalo ada masalah bicarain baik-baik! Memangnya Rhesa berbuat apa ke kalian, hah?" tanya Bu Ayu.
Si Hera dan Liza hanya terdiam dengan kepala menunduk, bahkan menatap guru etika itu saja tidak berani. Di tempat duduk, Hera mendecak malas. Dia sampai memaki-maki Rhesa dalam batinnya karena merasa semua memang kesalahannya.