"Aku yang banyak menelan kenyataan pahit hanya mengharapkan masa depan indah menanti, bahkan sampai di ujung malam terakhir mimpiku. Dimanapun aku berada, jantungku berdetak karenamu."
Kebanyakan manusia lebih suka menilai orang berdasarkan 'katanya' daripada 'faktanya'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di hari selanjutnya dimana semesta berjalan seperti biasanya, bel istirahat pertama di SMA Janitra telah berbunyi yang membuat semua siswa berhamburan untuk sekadar membeli makanan atau bermain dengan teman-temannya, sedangkan Rhesa hanya duduk menyendiri dibangku miliknya sambil membaca buku novel di hadapannya. Gadis itu gemar sekali membaca buku fiksi karena dengan cara itulah pikirannya menjadi lebih tenang.
Namun menit-menit yang menenangkan sirna baginya setelah mendengar suara orang bernyanyi di sepanjang koridor yang terdengar hingga kelasnya. Mereka bernyanyi lagu 'Eaa' dari coboy junior yang pernah populer pada masanya. Itu adalah suara nyanyian dari Aji dan Jusuf yang bernyanyi sangat keras dan sumbang. Aji datang bersama Gasta dan teman-temannya memasuki ruang kelas yang Rhesa singgahi.
"Alliza Virendra!!! Where are you!" Panggil Gasta yang mencari keberadaan Liza.
"Keluar," sahut Yumna, salah satu siswi kelas itu.
Gasta mendengus kesal karena orang yang dicarinya tidak ada di kelas. Pria itu lalu menyapu pandangannya pada seisi kelas dan atensinya langsung terpaku pada Rhesa yang sedang fokus membaca novel, dia nampak tidak peduli dengan kehadiran Gasta dan kawan-kawannya, padahal beberapa hari yang lalu setiap mereka bertemu Rhesa selalu menanyakan sepedanya pada Gasta.
Pria itu menunjukan senyuman aneh ketika menatap Rhesa, ia lantas berjalan mendekati gadis itu yang diikuti oleh Jusuf, Chandra, dan Aji dibelakangnya.
Gasta mendudukkan dirinya di atas meja Rhesa, menatapnya dengan tersenyum miring. Sama halnya dengan Jusuf, Chandra, dan Aji yang mendudukkan dirinya di samping Rhesa dengan memakai kursi kosong yang berada di sekitar bangkunya, tentu gadis itu menatap ke empat laki-laki yang mengerumuni bangkunya mendadak bingung sekaligus takut. Rhesa lantas menutup bukunya dan meletakkannya di laci meja. Jujur saja gadis itu masih traoma kejadian kemarin, saat mereka membantai sepeda miliknya hingga tidak terbentuk lagi.
"Kalian mau apa?" tanya Rhesa terdengar naif.
"Oh, enggak pa-pa, cuma mau lihat lo aja. Gak nyangka lo ternyata sekelas sama Liza. Ngomong-ngomong lo lagi baca buku apa?" tanya Gasta lalu menopang dagunya, masih dengan senyuman tengilnya.
"Eh, kalian inget gak sama teriakan cewek ini? Gak tau kenapa teriak, padahal gue cuma angkat tangan satu. Ha-ha-ha," seloroh Jusuf.
"Cengeng! Sepedanya rusak aja nangis. Noh Alyan yang motornya kebakar aja masih cengar-cengir," kelakar Aji. Sebenarnya gibah, toh tidak ada Alyan di situ, doi katanya lagi solat duha di musolah.
"Umminya marah, njir. Kasihan seminggu gak dibolehin main sama kita. Kesepian gue gak ada dia." tutur Jusuf.
Untuk kesekian kalinya, Rhesa sakit hati dengan ucapan Aji. Gadis itu menahan tangisannya agar tidak keluar, ia tidak ingin orang-orang dihadapannya itu melihatnya menangis lagi.