"Aku yang banyak menelan kenyataan pahit hanya mengharapkan masa depan indah menanti, bahkan sampai di ujung malam terakhir mimpiku. Dimanapun aku berada, jantungku berdetak karenamu."
Aku hanya pemeran figuran yang datang menemanimu ketika tokoh utama pergi
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Laporan yang Rizal berikan pada kantor KPK sudah benar faktanya, karena keesokan harinya tepat di kediamannya Hendra, petugas KPK menahan pria berusia setengah abad itu dengan tuduhan penggelapan uang. Meski dulu-saat tau-ia tidak bisa melaporkan langsung, ia menunggu waktu untuk bisa memahami perhitungan tabel akuntansi, takutnya salah melapor dan berujung fitnah. Tapi akhirnya ia lega karena laporannya memang akurat.
Hari rabu saat itu berjalan lancar seperti biasanya. Mungkin suatu hari Rizal akan menyesal karena telah mengirim ayahnya sendiri ke tahanan, tapi ia mencoba tidak terlalu mengkhawatirkannya. Penyesalan memang datang diakhir, maka dari itu selagi masih diawal bersenang-senanglah dulu selagi menunggu waktu penyesalan itu tiba. Hari itu juga Rizal kembali bersemangat dari sebelumnya karena Rhesa baru saja datang ke sekolah selama dua minggu tidak hadir. Meskipun hadirnya Rhesa ke sekolah hanya untuk masa percobaan sebelum nanti ia menerapkan sistem homeschooling, jadi satu minggu itu mereka akan membuat kenangan untuk terakhir kalinya di SMA Janitra.
Jam istristirahat ketiga telah berbunyi, baru saja Rhesa selesai menulis rangkuman di buku tugasnya. Ia menutup buku-bukunya dan memasukan semua alat-alat tulisnya di tempat pensil. Jam tangannya seketika berbunyi menandakan waktunya untuk menelan obatnya. Ia pun mengambil beberapa kapsul dari kotak obatnya untuk segera menelannya.
Sementara di ambang pintu, Rizal mendapati gadisnya sedang meneguk air mineral dari botolnya. Menarik senyuman sekilas sebelum akhirnya melangkah mendekatinya. Ia kemudian mendudukan dirinya di bangku di depan Rhesa. Ditatapnya sejenak bungkusan-bungkusan obat yang berserakan di atas meja.
"Mau ke kantin, gak?" ajak Rizal.
"Enggak." tolak Rhesa enteng.
Menghela napas kecewa, sebelum sorot matanya kembali menatap pil yang ada di atas meja. Rizal lantas mengambil salah satu wadah kecil yang sendari tadi menjadi objek pengelihatannya.
"Hmm, gimana, ya... Obat itu fungsinya buat nambah detupan jantung. Soalnya jantung aku sering lambat kalo memompa darah." jelas Rhesa.
"Wah, kebalikan dong!" celetuk Rizal. Pria itu lantas merogoh saku almamaternya mengambil sebuah wadah kecil berisi pil berwarna biru. "Ini namanya benzodiazepine. Fungsinya buat lambatin detak jantung."
"Kamu konsumsi?" tanya Rhesa.
"Buat jaga-jaga aja sih kalo lagi kena serangan panik, jantungnya bakal berdetak lebih cepat. Jadi harus makan obat ini biar pernapasannya normal." giliran Rizal yang menjelaskan.