13. Angry

319 39 0
                                        

Jangan terlihat lemah di depan orang yang pura-pura kuat

Pagi itu Rhesa baru saja memasukan buku novel ke dalam ranselnya yang nanti akan dipilih untuk Rizal baca sesuai taruhan yang mereka sepakati tempo hari, karena menurutnya novel itu cukup menguras emosi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu Rhesa baru saja memasukan buku novel ke dalam ranselnya yang nanti akan dipilih untuk Rizal baca sesuai taruhan yang mereka sepakati tempo hari, karena menurutnya novel itu cukup menguras emosi. Begitu menutup raseleting kembali, hembusan napas malaspun dikeluarkan mentah-mentah, bagaimana tidak, ibunya dari kemarin tidak mau berbicara pada dirinya. Mina yang biasanya sangat perhatian tiba-tiba cuek, rasanya sakit sekali. Rhesa tau jika ibunya masih tidak mempercayai putri sulungnya meski ia sudah berkata 'Tidak'.


Rhesa lantas keluar dari kamar menuruni tangga sebelum menuju meja makan. Di sana ia mendapati Zidan dan Mina sudah lebih dulu melahap sarapannya, nasi goreng omelet. Rhesa pun ikut duduk dan ikut menghabiskan sarapannya. Saat di meja makan, hanya suara sendok yang beradu dengan piring terdengar, tidak ada satupun dari ketiganya yang angkat bicara.

Tidak hanya Rhesa, Mina bersikap sangat dingin pada kedua anaknya. Zidan yang tidakmenahu dengan permasalannya dilanda kebingungan, sengaja anak itu tidak diberi tau lebih dulu.

Dari bawah meja, Rhesa menendang betis Zidan, membuat anak itu menoleh. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil dagunya mengarah ke ibunya. Zidan yang masih bingung pun hanya menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahu. Kesal lantaran tidak mendapat jawaban memuaskan, ia kembali menginjak kaki adiknya.

"Sakit, kak!" cicit Zidan.

"Ajak ngobrol ibu!" balas Rhesa tidak kalah mencicit.

"Udah. Mana gue tau jadi diem."

"Ajak ngobrol lagi!" titah Rhesa lagi.

Zidan yang sama kesalnya pun akhirnya membalas menendang dan menginjak kaki Rhesa dari bawah meja. Begitupun Rhesa yang membalas injakan tadi.

"Jangan berkelahi! Habiskan sarapannya!" dingin Mina masih menginterupsi keduanya.

Baik Rhesa atau Zidan menelan ludahnya gugup, dan lantas menghentikan ultimatumnya. Mereka memilih melanjutkan sarapannya meski nuansa tegang dan horor yang menyelimuti, serasa ada aura hitam yang mengelilingi Mina saat wanita paruh baya itu sedang marah.

"Bu, aku berangkat sendiri. Dijemput sama temen, pulangnya magrib. Ada futsal." Zidan meminta izin.

"Iya." balas Mina.

Mendapati tanggapan seperti itu, membuat Zidan mengembungkan pipinya sambil menghela napas. Sudahlah, dia menyerah membuat ibunya mengoceh seperti biasanya.

Zidan berangkat dengan temannya, artinya hanya Rhesa yang Mina antar menuju sekolahnya. Ketika dalam perjalanan menghantarkan Rhesa menuju sekolah, Mina masih bersikap dingin pada Rhesa, membuat atsmosfer di dalam mobil terasa berbeda dari biasanya, nuansanya masih sama seperti saat di meja makan. Rhesa merasa jika perjalanannya terasa menyeramkan,

DETAKAN ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang