07. Take

414 52 5
                                        

"Kamu Berharga." ucapkan itu pada dirimu sendiri, dan buat hidupmu lebih baik dari sekarang

" ucapkan itu pada dirimu sendiri, dan buat hidupmu lebih baik dari sekarang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kak, pinjem novel, dong. Bosen, nih, main HP terus," sahut Zidan yang tiba-tiba mendatangi Rhesa dan Mina di sofa ruang tamu.

Rhesa yang sedang mengobrol santai dengan ibunya sempat terkejut mendengar suara pekikan dari Zidan yang mengatakan bosan dengan ponselnya. Biasanya adiknya sanggup menatap ponselnya seharian, bahkan Zidan pernah mengatakan tidak bisa hidup tanpa ponselnya.

"Lo kesambet apa, Dan?" tanya Rhesa.
         
"Baca buku materi lah," saran Mina.
         
"Kurang seru, Bu," balas Zidan.

Saat Zidan mengatakan tentang novel, Rhesa teringat dengan satu novel yang ia incar sejak lama di toko buku. Hari ini buku itu ada diskon yang membuat Rhesa lebih bersemangat mendapatkan buku tersebut. Rhesa segera berdiri dari duduknya dan berlari menuju kamarnya untuk mengambil uang serta mengganti pakaiannya sebelum dirinya kembali turun.

"Mau ke mana, Kak?" tanya Mina.
         
"Mau ke toko buku bentar," balas Rhesa.
         
"Pinjemin gue novel?" sahut Zidan.
         
"Ambil aja di kamar Kakak. Tapi jangan sampai berantakan. Awas lo!" seru Rhesa sambil berlari.

"Kak! gue nitip komik Boboiboy Galaksi!" teriak Zidan saat Rhesa baru keluar dari rumah.
       
Rhesa segera mempercepat langkah kakinya menuju ke toko buku. Jarak toko buku dari rumahnya memang tidak begitu jauh, jadi Rhesa mampu berjalan menuju tempat tersebut. Sesampainya di toko buku dan memasuki tempat itu, ia melihat-lihat buku lain sebelum mengambil novel incarannya sebulan yang lalu sebelum ada diskon. Rhesa membaca beberapa buku atau novel yang sekiranya bagus. Setelah sudah mendapatkan dua novel di tangannya, ia kemudian berjalan menuju tempat di mana novel incarannya itu diletakkan. Setelah tiba, Rhesa langsung mengambil novelnya disalah satu rak buku. Gadis itu tersenyum saat melihat harganya tidak semahal dulu.
         
"Haaa, akhirnya Rahasia yang Tidak Bisa Dikatakan jadi punya gue," seringai Rhesa penuh kegembiraan.
         
Baru saja Rhesa akan ke kasir untuk membayar belanjaannya, ia teringat dengan pesanan Zidan. Gadis itu menghela napas malas karena dia mengingatnya. Ia lantas memutuskan untuk kembali ke rak berisikan komik. Di sana ia terus mencari keberadaan komik asal Malaysia tersebut diletakan. Hingga lamanya mencari, ia akhirnya menemukan komiknya di bagian paling atas rak.
        
Karena rak tinggi, gadis itu berjinjit untuk mendapatkan komiknya, namun sebelum Rhesa mendapatkannya, dari arah sebaliknya ada tangan terulur dan mengambil komik tersebut. Rhesa terkejut, gadis itu lantas berlari pada bagian samping rak untuk bertemu orang yang mengambil komiknya.
         
"Hey! Itukan gue dulu!" teriak Rhesa.
         
Orang yang mengambil komik tadi merupakan seorang pria. Ketika ia menoleh ternyata pria tadi adalah Rizal. Rhesa sedikit terkejut kerena bertemu teman kelasnya, namun apapun itu komik itu tetap harus menjadi miliknya.
         
"Ini? Bukannya gue dulu yang ambil?"  Rizal berucap dengan kalimat retorisnya.
         
"Apa masih ada lagi di atas sana?" tanya Rhesa.
         
Rizal menatap sejenak tempat dimana ia mengambil komik itu. Tetapi, sudah tidak ada lagi yang tersisa. Yang dipegangnya hanya tinggal satu-satunya yang ada.
         
"Gak ada," cerca Rizal. Rizal berbalik meninggalkan Rhesa di tempat dan pergi menuju kasir untuk membayar komiknya.

"Nanti!" pekik Rhesa.

Suara itu mengiterupsi Rizal dan membuat ia membalikan tungkainya menatap gadis yang memanggilnya tadi.

"Tadi siang...di kantin. Gue serius nanya lo kenapa?" tanya Rhesa masih memiliki tanda tanya tentang Rizal saat di kantin.

Memastikan saja Rizal, ia ingin tau apakah pria itu memang punya penyakit yang sama dengannya atau tidak. Jika tidak ada pun syukur, jika memang ada mungkin mereka bisa berbagi pengalaman. Begitulah imajinasinya.

"Lo punya penyakit jantung, ya?" sosor Rhesa tidak basa-basi lagi.

"Enggak, lah." tangkis Rizal. Huh, jangan sampai ia terkena penyakit itu.

"Terus, lemas, dada sakit, keringat dingin itu apa?" Rhesa masih mencecar pertanyaan, kondisi yang biasa orang sakit jantung rasakan (yang dilihat secara eksternal).

"Apaan sih. Gak jelas. Gue gak sakit apa-apa. Gue sehat." sungut Rizal mulai emosi dengan gadis di depannya.

Setidaknya secara fisik.

"Terus tadi kenapa kaya orang kesakitan? Pergi tiba-tiba." Rhesa masih menanyai.

Pertanyaan itu membuat Rizal memutar otaknya. Tatapannya menyapu seluruh penjuru ruangan seperti sedang mencari alasan. Hingga tatapannya lantas tertuju pada sebuah buku yang ada di tangan Rhesa, buku bertulisankan Wolfgang atau sebuah novel yang menceritakan tentang sekumpulan manusia serigala. Rizal tersenyum tipis melihatnya, hendaknya ia melangkah ke depan lebih dekat lagi dengan Rhesa dengan tubuh sedikit dicondongkan.

"Gue mau berubah jadi manusia serigala." bisik Rizal.

Terkejut ditemani bulu kuduk yang meremang mendengarnya. Ayolah, Rhesa memang suka filem twilight dan Ganteng-ganteng serigala. Tapi salah satu fakta mengatakan jika manusia serigala tidak nyata dan hanya dongeng.

"Lo serigala?" beo Rhesa.

Dibalas angguka oleh Rizal. "Iya, serigala."

Mungkin maksudnya sering gila.

Rhesa terlihat membuka mulut lagi, hendak mencerocos hal-hal aneh untuk kesekian kalinya. Rizal yang lelah sendiri menjawab pertanyaannya memilih berbalik pergi meninggalkan tempat untuk membayar komik yang dipilihnya tadi. Belum saja pria itu meletakkan komiknya di atas meja kasir, Rhesa mendahuluinya terlebih dulu dengan meletakkan ketiga novelnya. Setelah melakukan transaksi pembayaran, Rhesa keluar dari toko buku itu.

Rhesa tidak langsung pulang, ia sedang berdiri di samping pintu menunggu Rizal untuk keluar. Bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan komik pesanan Zidan lantaran jika permintaannya tidak dituruti, anak itu akan menjadi nakal yang terus menjahili kakaknya dengan berbagai cara yang bisa membuat Rhesa kesal.

Dirasa yang lewat selanjutnya adalah Rizal, Rhesa langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan merentangkan kedua tangannya dihadapan Rizal. Pria itu nyaris tidak memperdulikan gadis dihadapannya. Ia mencoba mencari celah untuk lewat, namun Rhesa seakan berhasil membuat Rizal gagal untuk melewatinya.

"Minggir!" ketus Rizal.
         
"Gue bakal bayar dua kali lipat buat komik itu," kata Rhesa, yang dibalas decakan malas dari bibir Rizal, juga bola mata yang diputarkan secara malas. Rizal bukan lelaki murahan yang dengan gampangnya dibayar oleh seorang gadis sok kaya seperti yang ada dihadapanya.
        
"Ayolah, itu buat adik gue," pinta Rhesa.
         
"Ini juga buat ... A–Abang gue," kilah Rizal.
        
"Kakak lo suka Boboiboy?" tanya Rhesa.
         
"Ya, apa masalahnya? Adik lo juga suka, 'kan? Udahlah, lagian suka atau enggaknya bukan urusan lo juga." tangkis Rizal. Pria itu lantas pergi meninggalkan Rhesa di tempat. 
         
"Kalo gitu, gue boleh pinjem setelah lo baca itu?"  sahut Rhesa.
         
Rizal yang tadinya berjalan seketika menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Rhesa.
        
"Apa jaminannya?" tanya Rizal.
         
"Gue... bakal... Ngelakuin apa aja yang lo mau," balas Rhesa.
         
"Oke, setuju. Tapi nanti, kali ini gue lagi nggak butuh apa-apa," ucap Rizal yang kemudian pergi meninggalkan Rhesa.

"Mati gue." gumam Rhesa menatap punggung Rizal dengan nyalang.

Rhesa pun segera pulang dengan perasaan gundah. Bahkan saat berada di dalam kamarnya, ia langsung mendudukkan dirinya di kursi meja belajar karena memikirkan kata-kata yang diucapkannya pada Rizal tadi. Tidak seharusnya seorang perempuan mengatakan akan melakukan apa saja yang diinginkan pada seorang laki-laki. Rhesa saja tidak mengenal bagaimana sifat asli Rizal. Yang ditakutkan adalah jika nanti Rizal meminta hal yang bukan-bukan padanya.

Dengan pikiran yang kacau, ia mengubur wajahnya di atas meja sambil terus mengeluh dan mengusap wajah serta rambutnya frustasi. Ia harap hal buruk tidak akan terjadi menimpanya.

To be Continued....

DETAKAN ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang