"Aku yang banyak menelan kenyataan pahit hanya mengharapkan masa depan indah menanti, bahkan sampai di ujung malam terakhir mimpiku. Dimanapun aku berada, jantungku berdetak karenamu."
Orang yang tidak pernah merasakan bahagia, adalah mereka yang lupa caranya bersyukur
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi sudah menjelang menunjukan sang surya yang masih malu-malu menampakan dirinya di ufuk timur. Sembari memakai jam tangan, Rhesa yang sudah rapi menggunakan seragam sekolahnya berjalan menuruni tangga usai keluar dari kamarnya. Menoleh kanan kiri saat suasananya terasa sunyi, biasanya pagi-pagi Mina ataupun Zidan sudah mengoceh. Mungkin karena Rhesa bangun lebih awal.
Manik Rhesa tertuju di sofa saat mendapati ibunya yang masih lelap tertidur, di atas meja juga terdapat laptop yang masih terbuka. Dapat dipastikan wanita paruh baya itu ketiduran saat sedang menyelesaikan pekerjaannya. Sejenak ia menarik napas sebelum menarik senyuman tipisnya, kemudian berjalan mendekati ibunya.
Niat hati ingin membangunkannya, namun tertahan ketika melihat beberapa lembaran di pangkuan wanita berusia 39 tahun yang berkedok ibunya. Mengambil beberapa kertas tersebut yang ternyata isinya sebuah cek pembayaran, biaya angsuran, penjualan saham, serta nota-nota biaya pengobatan Rhesa sendiri.
Tatapannya kembali menatap dengan sendu sang ibunda yang terlihat sangat kelelahan, tugasnya sebagai kepala keluarga, tulang punggung keluarga, serta ibu rumah tangga pasti tidak mudah.
Suara leguhan terdengar pertanda Mina bangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya sekejap, sedikit terkejut memang saat dirinya ketiduran saat menyelesaikan pekerjaannya. Juga menolehkan pandangannya ke samping saat melihat si sulung yang duduk sambil menangamati beberapa lembar kertas.
"Jam berapa ini? Adikmu udah bangun belum?" tanya Mina, yang setelah itu langsung menguap.
"Sudah dibilang jangan pikirin itu. Urusan ibu itu!" Mina meninggikan nada bicaranya. Ia tidak suka jika anaknya mulai khawatir, baik tentang penyakitnya atau biaya pengobatannya. "lagian dua persen, gak ngaruh." imbuh Mina berseringai.
Baru saja Mina beranjak berdiri, anak gadisnya terlebih dahulu langsung memeluk perut hingga membuat Mina bergeming sejenak.
"Kalo Tuhan angkat penyakit ini, kakak janji bakal balas semua yang ibu lakuin selama ini." tutur Rhesa.
Mina masih mematung, entah mengapa rasa haru sekaligus senang menyeruak saat mendengar perkataan tadi. Senangnya karena Rhesa sedang tidak sedih atapun mengkhawatirkan tentang penyakitnya. Baginya biaya pengobatan itu tidak masalah, tabungannya masih banyak, juga sisa harta peninggalan Rehan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pengobatan. Lagi pula, Mina bukan pengangguran, jadi ia bekerja untuk menambah keperluan tunjangan untuk hidup.
"Udah, Rhes. Kalo masalah uang itu urusan orang dewasa. Tugas kamu belajar aja. Janji sama ibu kalo kamu bakal sembuh." kata Mina.
Rhesa lantas melepaskan pelukannya dan kembali menatap ibunya. Ia mengangguk kemudian. "Iya, aku akan sembuh demi ibu."