Meski dikelilingi banyak orang, aku tetap merasa kesepian

Dari semalam memang Rizal berada di rumahnya sendiri, lalu paginya ke rumah Rhesa dan kembali lagi ke rumah miliknya bersama Zidan. Sorenya ia kembali ke rumah Naya. Sore itu Rizal sedang mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. Ia duduk ditemani secangkir coklat hangat sambil menatap ponselnya. Ia membuka galeri untuk melihat kembali foto-foto yang ia ambil bersama Rhesa pagi tadi. Sembari melihatnya, pria itu tersenyum tidak jelas. Benar-benar mirip seperti orang yang sedang ditenggelamkan dalam lautan asmara.
Dari jarak lima meter Naya melihat keponakannya yang sedang berseringai sendirian di ruang tamu, Naya pun lantas berjalan mendekat dan mendudukan dirinya di sofa di depan Rizal. Suara Naya mengalihkan atensi remaja berusia tujuh belas tahun itu. Rizal lantas keluar dari beranda galeri dan berhenti untuk berseringai saat Naya duduk di sofa yang ada di depanya.
"Hayo, lagi ngapain tuh senyam-senyum sendiri?" goda Naya.
"Lagi lihatin foto-foto tadi pagi sama Rhesa," balas Rizal.
"Lihat dong." tintah Naya.
Rizal kemudian menyerahkan ponselnya pada Naya. Naya menggeser-geser layar ponsel sembari melihat-lihat foto keponakannya bersama gadis yang disukainya. Sama halnya dengan Rizal, Naya pin tersenyum sendiri melihat foto-foto itu. Rasanya baru kemarin ia melihat Rizal masih memakai baju putih merah, sekarang malah dia terjebak dalam adegan romansa.
"Nanti bawa dia main lagi. Saya kemarin belum sempet ngobrol sama dia, kamu main bawa aja!" ucap Naya sedikit ketus.
Rizal menanggapinya dengan tersenyum lagi. Memang saat Rhesa berkunjung hari itu, Rizal langsung menyeret membawanya lebih jauh dari rumah itu hingga di pinggir sungai.
"Oh ya, Rizal, ada yang mau saya bicarakan tentang ibu kamu."
"Apa?"
"Sebelum Niata meninggal, dia sakit-sakitan. Saya udah nyaranin dia buat pergi ke rumah sakit, tapi Hendra melarangnya." Final Naya.
"Kenapa?" tanya Rizal.
"Hendra bilang, bakal ada suster yang jagain Niata. Tapi kamu tau gak siapa suster itu?" tanya Naya.
"Siapa?"
"Dia adalah istri ayah kamu yang sekarang."
"Manda?" tebak Rizal.
Naya mengangguk memberi tanggapan positif pada Rizal. Mendengar hal itu pun, Rizal membulatkan kedua bola matanya karena sempat kaget. Semenjak dia dirawat di rumah sakit memang ia tidak mengetahui apa-apa pada keluarganya, bahkan ibunya meninggal saja dia tidak tahu. Bagaimana bisa ibunya Gasta menjadi perawat? Rizal merasakan ada kejanggalan dibalik semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAKAN ✔
Novela Juvenil"Aku yang banyak menelan kenyataan pahit hanya mengharapkan masa depan indah menanti, bahkan sampai di ujung malam terakhir mimpiku. Dimanapun aku berada, jantungku berdetak karenamu."
