05. See Your Eyes

606 69 7
                                        

Jika ada yang lebih indah dari senja, mungkin itu mimpiku

Pagi itu di hari kamis sekitar jam 9, mereka sedang melaksanakan pelajaran olahraga dengan baik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu di hari kamis sekitar jam 9, mereka sedang melaksanakan pelajaran olahraga dengan baik. Rhesa duduk di kursi sambil memakai sneakers putihnya sebelum berkumpul dengan yang lainnya untuk melakukan pemanasan. Materi yang akan diajarkan di jam itu adalah renang.

SMA Janitra memang salah satu sekolah terbagus, dimana mereka menyediakan fasilitas yang cukup lengkap untuk kemudahan pembelajaran, salah satunya adalah menyediakan kolam renang. Bahkan lapangan basket, sepak bola, dan voli saja dipisah. Lapangan sepak bola yang ada di depan sekolah, basket di tengah sekolah, dan voli ada di belakang sekolah. Sedangkan kolam renang ada di area dalam ruangan tidak jauh dari aula.

Rhesa berjalan sendirian menuju kolam renang sekolah. Setibanya di kolam renang sekolah, hampir semua teman kelasnya berkumpul, ia menatap siswa laki-laki sudah tidak sabaran yang terlebih dulu memasukan dirinya ke kolam renang. Sedangkan perempuannya sabar menunggu. Semua nampak membaur satu sama lain, kecuali Rizal yang hanya menyendiri di pojok tribun tanpa mau membaur dengan teman-teman seusianya. Entah belum terbiasa sebagai murid baru atau memang ia antisosial.

Tidak lama setelah itu, suara peluit yang dibunyikan terdengar. Semua tau jika itu adalah gurunya yang bernama Adnan. Beliau datang dengan papan bantu renang yang dipegang ditangannya.
         
"Ayo, Anak-anak, kita baris dulu lakukan pemanasan. Baris empat bersap!" perintah Adnan yang berdiri di pinggir kolam.
        
Para siswa maupun siswi pun berlari membentuk barisan untuk melakukan pemanasan sebelum masuk ke materi renang. Adnan sebagai pemimpin pemanasan melakukan pemanasan sekitar lima belas menit.
         
"Oke, sekarang materinya renang jarak jauh. Nanti kita buat kelompok, setiap kelompok ada empat orang. Nanti satu orang bakal lawan sama kelompok lainnya," jelas Adnan.
         
"Pak, ini kayak balapan renang gitu?" tanya David.
         
"Betul sekali, Mas. Ini kayak balapan. Bapak cuma mau lihat kemampuan kalian, siapa tau ada perenang cepat!" ucap Adnan. Saat itu semua murid mengangguk paham dengan penjelasan gurunya. "Khusus untuk Rhesa, kamu lihatin aja, ya. Kalo perlu apa yang bapak sampaikan dicatet." imbuh Adnan.

"Baik, Pak," balas Rhesa.

Adnan hanya tidak ingin jantung Rhesa kumat lantaran terkena air. Jadi akan lebih baik jika Rhesa duduk dan memperhatikan saja.
        
Semua orang kemudian bubar dalam barisan dan memasukan diri masing-masing ke dalam kolam renang. Setelah 20 menit berlatih, saatnya Adnan memberi penilaian. Semua siswa maupun siswi berenang sesuai apa yang tadi diajarkan oleh Adnan. Yang membuat Rhesa kagum dalam penilaian ini adalah ketika Rhesa melihat Rizal yang berenang begitu cepat layaknya seorang atlet. Bukan hanya Rhesa, semua teman kelas pun juga sama kagumnya. Bahkan, Adnan yang melihat Rizal berenang sampai tersenyum-senyum.

Hingga tiga puluh menit menuju jam pelajaran selanjutnya, satu per satu murid keluar dari ruangan untuk mengganti pakaian yang basah dan masuk ke dalam kelas. Begitu pun Rizal juga mengambil baju yang ditinggalkan di tribun, ketika Rizal hendak pergi meninggalkan tempat itu, Adnan tiba-tiba memanggilnya.
       
"Fahrizal!" panggil Adnan.
         
"Ada apa, Pak?" tanya Rizal.
         
"Wah, Bapak kagum sama kemampuan kamu yang bisa berenang. Bapak bisa lihat masa depan kamu. Pulang sekolah kamu ke ruangan Bapak, ya, ada yang mau saya bicarain" suruh Adnan.
         
"Iya, Pak, nanti saya ke ruangan itu."

DETAKAN ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang