"Aku yang banyak menelan kenyataan pahit hanya mengharapkan masa depan indah menanti, bahkan sampai di ujung malam terakhir mimpiku. Dimanapun aku berada, jantungku berdetak karenamu."
Aku ingin tetap tersenyum meski itu lebih menyakitkan dari pada saat menangis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semalam Rhesa benar-benar sulit untuk tertidur, mengatakan pada Rizal tentang kepindahannya memang bukan ide yang bagus. Mencari tahu pelaku sebenarnya dalam seminggu membuat Rhesa menyerah bahkan sebelum mencoba, ia berpikir semuanya hanya akan menjadi sia-sia.
Sebelum jam menunjukan pukul 7 pagi, Rhesa berjalan sendirian di koridor menuju kelasnya hingga seseorang datang dari belakang dengan sengaja menepuk kepala Rhesa menggunakan buku dengan pelan. Rhesa menoleh dan mendapati Rizal berdiri sambil memegang buku novel miliknya. Rhesa sudah memasang raut wajah marah siap untuk memarahi pria yang menepuk kepalanya tadi,
"Heh! Sopan 'kah lo kaya gitu!!" pekik Rhesa.
Rizal berseringai ketika Rhesa marah sambil mengusap kepalanya yang habis ditepuk buku tadi.
"Gue udah baca yang bab 18. Lumayan juga baca novel ini." kata Rizal.
"Sekarang mana komik lo?" tagih Rhesa.
"Gue mau mastiin novel ini layak apa gak buat beradu sama komik gue." alasan Rizal.
Rhesa mendengkus kesal lantaran sudah sejak kemarin Rhesa meminjamkan komik pada Rizal, namun pria itu tidak kunjung membawa komiknya. Benar-benar tidak sesuai dengan kesepakatan, benar-benar lelaki yang tidak bisa dipercaya.
.
Selama pelajaran berlangsung, pandangan Rizal tidak pernah lepas dari buku novel milik Rhesa. Rhesa beberapa kali menoleh ke belakang juga sering kali tertawa kecil melihat Rizal yang fokus dengan novelnya. Dilihat dari sisi baiknya, ia tidak lagi tidur di kelas yang merupakan satu awal yang bagus untuknya menjadi murid teladan.
Hingga jam pelajaran telah selesai, Rizal masih terus membaca novel. Rhesa sedang menghadap ke belakang menatap Rizal yang sama sekali tidak berkedip selama membaca. Rizal sepertinya sudah tenggelam dalam dunia fiksi.
Hingga beberapa menit kemudian keluar liquid bening dari kelopak matanya. Kebetulan juga saat itu kelas sedang sepi, jadi tidak ada yang melihat Rizal sedang menangis karena terbawa suasana. Rhesa tertawa pelan karena ceritanya berhasil menguras emosi Rizal. Saat itu pula pria di hadapannya itu menutup kasar buku yang dipegangnya sambil membersihkan jejak air matanya yang sempat menetes.
"Jammica sialan! Gue gak rela anjir Putri Rosiland mati! Gimana sih nih Pangeran Edward jaga istrinya!" kritik Rizal.
"Jadi gimana? Gue menang, 'kan?" tanya Rhesa.
"Gue males baca novel lagi. Kok ada ya manusia yang liciknya kaya Jammica!" Rizal yang masih belum keluar dari portal imajinasinya.
"Rizal! Kalo orang tanya itu dijawab!" Rhesa meyahut.
Sang empunya nama yang dipanggil Rhesa tidak kunjung menginterupsi. Ia malah menggigiti jarinya, dimana dengan perlahan ia tersenyum aneh sembari menatap keluar jendela.