🐱🧸
Lisa turun dari bus bersama Jennie disampingnya, berjalan lebih dulu meninggalkan Jennie yang berusaha menyamakan langkah lebar Lisa. Rintik hujan masih turun, namun tak sebanyak tadi.
" Apa rumahmu di sekitar sini ? " Tanya Jennie penasaran.
Pasalnya, Lisa ikut turun dari bus bersamanya. Ia pikir mungkin rumah gadis berponi itu dekat dengan daerah tempat tinggalnya.
Jennie mendesah karna tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya. Lisa terus saja melangkah tanpa memperdulikan Jennie yang kesusahan berjalan.
Lisa sebenarnya kenapa. Tadi saja di sekolah ia sangat baik. Menggendongnya bahkan sampai menaiki bus. Tapi lihatlah sekarang, gadis berponi itu sangat acuh padanya. Benar-benar tidak bisa di tebak.
Berjalan beriringan di trotoar. Akhirnya Jennie sampai depan rumahnya. Ia berhenti melangkah karna Lisa pun menghentikan langkahnya. Rumah Jennie berada di sebrang jalan yang tengah ia pijak saat ini.
" Aku sudah sampai. " Jennie membuka suara.
Lisa menoleh. Ia mengangguk pelan menatap Jennie. Tak ingin menjawab. Lisa kembali mengalihkan pandangannya ke depan pada rumah megah itu.
" Lisa-yaa.. apa rumahmu--"
" Masuklah. " Lisa menyela tanpa menatap gadis berpipi mandu itu.
Jennie mendengus kesal. Satu lagi kebiasaan Lisa yang di ketahui Jennie kini adalah menyela setiap ucapannya.
Jennie bergerak hendak melepaskan Hoodienya. Namun dengan cepat Lisa menahan pergerakannya. Pandangan mata mereka bertemu. Terdiam beberapa saat hingga Lisa lebih dulu menyadarinya.
" Tak perlu dibuka. Pakai saja. " Ucap Lisa tanpa ekspresi apapun diwajahnya. Tangannya bergerak menutupi kepala Jennie dengan Hoodienya.
Jennie termangu. Wajah Lisa yang datar serta suara dinginnya berbanding terbalik dengan apa yang ia lakukan saat ini.
Jantung. Jangan ditanya, sedari tadi bersama Lisa. Debaran jantung Jennie tak berhenti berdetak kencang. Sorot mata gadis berponi itu memang menakutkan namun Jennie akui mata Lisa sangat indah.
" Tapi--ahh. Ndee. " Jennie mengangguk pelan seraya mengulum bibirnya saat Lisa menatapnya tajam. Mungkin gadis berponi itu tak ingin di bantah. Menuruti apa yang Lisa pinta, adalah hal terbaik saat ini.
" Terimakasih kau sudah mau mengantarku. Selamat malam. " Jennie membungkukan badannya.
Setelah mendapat anggukan dari Lisa. Gadis berpipi mandu itu berjalan menyebrang jalan. Meninggalkan Lisa yang masih menatapnya dalam diam.
Jennie berhenti tepat di depan gerbang. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Lisa masih berdiri di tempatnya semula. Dengan tatapan mengarahnya.
Jennie tersenyum manis. Ia melambaikan tangannya pada gadis berponi itu. Setelahnya ia memasuki gerbang rumah mewah itu.
Lisa mendesah. Tak membalas senyuman Jennie. Setelah memastikan gadis berpipi mandu itu memasuki gerbang rumahnya. Lisa kini kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.
Jennie terdiam. Menatap Lisa yang berjalan menjauh. Tak habis pikir dengan apa yang di lakukan gadis dingin itu hari ini. Jennie sama sekali tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Lisa saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
LISA ( Jenlisa )
FanfictionKetika menjadi seorang yang berbeda dengan yang sebenarnya. Sulit sekali. Hanya saja, waktu mengajarkan untuk menjadi terbiasa.
