23. Chapter twenty three

1.4K 173 5
                                        

🐱🧸

Jennie memasuki kelasnya, ia memejamkan mata ketika melihat Lisa sudah duduk rapih di tempat. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat ketika memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti.

Menghembuskan nafasnya pelan. Jennie mengangguk meyakini dirinya sendiri jika ia bisa berhadapan dengan Lisa tanpa gugup.

" Selamat pagi Lisa.. " Sial ! Suara Jennie terdengar bergetar. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol sikapnya di depan gadis berponi itu.

Lisa menoleh. Ia meremas tangannya sendiri di balik meja. Mencoba bersikap biasa saja di hadapan Jennie. Jika Jennie pikir hanya dirinya saja yang gugup, maka ia salah. Lisa pun sama gugupnya sekarang. Namun gadis berponi itu bisa mengontrol dirinya.

Jennie duduk. Tersenyum tipis kemudian membuka ranselnya. Mengeluarkan kotak sarapan berwarna biru dan menyerahkannya pada Lisa. Meskipun perasaannya sedang tak menentu. Jennie tak akan melupakan sarapannya untuk Lisa.

" Aku membuat gimbap hari ini. Rasanya enak, kau akan suka. " Ucap Jennie seraya membuka kotak makan itu. Sebenarnya ia menghindari kontak mata dengan Lisa.

Lisa tersenyum tipis. Kemudian mengangguk pelan. Mengambil satu dari beberapa potong gimbap yang ada di kotak makan.

Lisa menikmati sarapannya. Jennie benar, gimbap ini terasa enak. Ahh... Lisa baru menyadari jika apa saja yang di buat oleh Jennie terasa cocok di lidahnya.

" Kau sudah sarapan ? " Tanya Lisa. Memperhatikan Jennie yang sibuk sendiri. Kini gadis berpipi mandu itu mengeluarkan satu botol air mineral dari dalam tasnya.

Jennie mengangguk, kemudian tersenyum kaku. Membuka tutup botol dan menggesernya ke hadapan Lisa. Sungguh sikapnya membuat hati Lisa menghangat. Tak pernah ia di perlakukan sebaik ini oleh siapapun.

" Kau sakit. ? Wajahmu terlihat pucat. " Lisa bertanya. Ia memperhatikan wajah gadis berpipi mandu itu. Terlihat memang sedikit pucat dari biasanya.

Jennie menggeleng pelan. Sebenarnya ia sedikit pusing, mungkin efek dari semalam. Namun itu tak masalah. Hanya saja jantungnya yang bermasalah sekarang melihat tatapan Lisa begitu teduh padanya.

" Benar ? " Lisa memastikan. Dalam hati ia cukup khawatir, akan sangat merasa bersalah jika Jennie sakit karnanya.

" Benar. Hanya sedikit pusing. Tapi aku sudah meminum obat. " Jawab Jennie dengan senyum manisnya. Kegugupannya telah menghilang sekarang.

Lisa manggut-manggut menanggapi ucapan Jennie. Bersyukur jika Jennie tak sakit yang begitu serius.

" Biasakan, lain kali jika keluar kau bawa pakaian tebal. " Lisa berucap, seraya memasukkan gimbapnya yang terakhir. Entah ada dorongan darimana. Lisa sendiri merasa bingung saat ia memberikan perhatiannya pada oranglain.

" Kemarin kau tak meminjamkan baju hangatmu. " Jennie membela diri. Menatap Lisa yang tengah minum seraya meliriknya.

" Aku lupa. "

" Itu artinya salahmu. "

Lisa menghela nafas pelan, kemudian mengangguk. Menyimpan botol minumnya ke tempat semula. Lisa merubah posisi duduknya menghadap gadis berpipi mandu itu.

LISA ( Jenlisa )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang