Jennie berjalan santai membawa paper bag kecil ditangannya menelusuri lorong apartemen. Senyum menghiasi wajahnya sesekali ia bersenandung pelan dengan lagu yang ia ciptakan secara mendadak. Suasana hatinya sangat baik pagi ini.
Setelah sampai di depan pintu yan ia tuju. Gadis berpipi mandu itu menekan bel yang ada di samping pintu apartemen sederhana itu. Cukup lama sang pemilik tak membukakan pintu membuat Jennie sedikit kesal dibuatnya. Ia terus menerus menkan tombol kecil dengan sebalnya.
Senyum Jennie kambli mengembang ketika pintu dibuka secara kasar. Gadis berpipi mandu itu jika ia membuat sang pemilik marah, namun apa perdulinya, iapun merasa kesal saat tak langsung di buka kan pintu.
" Selamat pagi Lisa.." Sapanya dengan Gummy smile khas dari gadis Kim itu.
" Kenapa kau selalu mengganggu hari baikku. " Gerutu sang pemilik apartmen yaitu Lisa. Mengabaikan sapaan lembut dari gadis di hadapannya. Hari minggu adalah hari baik untuk Lisa karna ia bisa beristirahat lebih banyak. Namun siapa sangka akhir-akhir ini hari baiknya selalu di ganggu oleh gadis Kim itu.
Jennie mengerucutkan bibirnya. Lisa selalu menyambutnya dengan gerutuan. " Kau tak menyuruhku masuk.? "
Menghela nafas kesal. Gadis pendek itu menyebalkan. Dengan sangat terpaksa ia membuka lebar pintu apartemennya, mempersilahkan Jennie untuk masuk.
Jennie dengan senang hati memasuki apartemen Lisa, berjalan santai menuju dapur dengan Lisa di belakangnya. Lihatlah betapa sudah seperti rumah sendiri.
" Aku membawa sandwich pagi ini untukmu sarapan." Ucap gadis berpipi mandu seraya melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan setelah mengambil satu buah piring di tangannya.
Lisa duduk, memperhatikan Jennie yang membuka paper bag yang dibawanya tadi. kemudian mengeluarkan kotak makan yang berisi beberapa potong Sandwich dan menyimpannya di piring.
" Aku tahu kau belum sarapan. Harusnya kau berterimakasih padaku karna aku sudah baik padamu. " Jennie menyodorkan piringnya pada Lisa. Kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin dan mengambil kotak susu coklat disana.
" Aku tak pernah menyuruhmu, Jadi untuk apa berterima kasih. "Jawab Lisa santai namun tetap memakan sarapan yang di bawa Jennie.
Jennie mendengus kesal. Setelah ia ingat-ingat memang Lisa tak pernah mengucapkan terimakasih ketika ia datang dan membawa kan makanan untuk gadis berponi itu. menyebalkan sekali, Namun kenapa Jennie terus melakukan itu. Aneh.
" Kau memang menyebalkan. " Kesal Jennie menaruh gelas berisi susu coklat yang baru saja ia tuangkan ke hadapan Lisa. Lihatlah, meskipun dengan sikap Lisa yang sangat menyebalkan, Jennie selalu perhatian pada gadis berponi itu.
Lisa tersenyum tipis, menatap Jennie yang kini duduk di hadapannya. Gadis yaang memiliki pipi seperti mandu itu memang menakjubkan. Lihat saja, ia masih saja memperhatikan pola makan Lisa meskipun dengan gerutuannya. Lisa seperti memiliki pasangan yang pengertian.
Tunggu. Pasangan ? Jennie. ? Tidak mungkin, Kenapa Lisa berpikir aneh seperti itu. Lisa menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang tidak jelasnya sekarang.
" Wae .?" Tanya Jennie melihat Lisa yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lisa mendongak, ia menatap Jennie salah tingkah, merasa dirinya kepergok melakukan kesalahan. Lisa berharap Jennie tak akan mengetahui pikiran anehnya.
" Kau sudah sembuh. ? " Pertanyaan Lisa mengakhiri santapan potongan terakhir sandwichnya. Ia mengambil segelas susu dan meneguknya secara perlahan.
" Hmm.. kau tidak lihat aku sudah segar begini.? "
KAMU SEDANG MEMBACA
LISA ( Jenlisa )
FanfictionKetika menjadi seorang yang berbeda dengan yang sebenarnya. Sulit sekali. Hanya saja, waktu mengajarkan untuk menjadi terbiasa.
