28. Chapter twenty eight

1.1K 143 13
                                        

Lisa meneguk sodanya sedikit terburu-buru. Bukan karna ia haus, hanya saja Lisa ingin melampiaskan amarahnya. Jika saja alkohol sudah legal ia konsumsi, mungkin saat ini Lisa akan menenggak minuman itu. Bebeda dengan rokok yang ada di tangannya sekarang. Gadis berponi itu cukup tak berani dengan minuman beralkohol itu.

Setelah pulang dari rumah sakit siang tadi. Lisa kembali ke apartemennya bersama Jennie dan juga Jinhwan. Dengan keadaan yang cukup kacau. Lisa pun sempat memarahi Jennie ketika sampai di apartemen perkara gadis berpipi mandu yang berurusan dengan ayahnya. Kedua gadis itu sempat beradu mulut hingga akhirnya Lisa mengalah.

Jennie yang keras kepala dan merasa dirinya tak salah jika berbicara seperti itu pada ayah Lisa tentu kesal ketika Lisa memarahinya, padahal Jennie sudah membela gadis itu. Namun disisi lain, Lisa hanya tak ingin Jennie terkena imbas dari permasalahannya.

Hembusan dari asap rokok itu mengudara di sore hari ini. Lisa yang berada di balkon apartemennya menatap sendu langit sore yang saat ini terlihat cerah. Pikirannya sangat kalut. Belum tuntas masalah keuangannya, kini beban pikirannya bertambah dengan sakitnya Chaeyoung.

Lisa sudah mengetahui alasan mengapa kakak kembarnya itu melakukan aksi bunuh diri. Ternyata Lisa yang menjadi alasannya. gadis berponi itu mengetahui hal itu dari Bibi Ahn. Maidnya menceritakan semuanya dengan jelas pada Lisa. mereka bertemu di lorong rumah sakit ketika Lisa hendak pulang dan memutuskan untuk ke kafetarian sebentar untuk mengobrol.

*

Jennie terbangun dari tidurnya. Ia menguap seraya menegakkan tubuhnya. Matanya menjelajahi isi kamar. Ternyata ia masih berada di apartemen Lisa. Setelah beradu mulut dengan gadis berponi itu, Jennie yang kelelahan langsung tertidur di sofa. Tapi tunggu, kenapa sekarang dia berada di atas kasur milik Lisa. Siapa yang memindahkannya, pasti Lisa. Karna Jinhwan pulang setelah mengantarkan Lisa dan Jennie tadi.

Memikirkan tentang Lisa, Jennie mencium bau asap rokok yang berasal dari balkon kamar. Gadis berpipi mandu itu menoleh. Ia menghela nafas kasar melihat Lisa yang tengah menghisap nikotin itu dengan santai disana. Dengan cepat ia turun menghampiri Lisa.

" Langit sore yang indah. " Gumam Jennie tepat di belakang Lisa. Tersenyum manis menampilkan Gummy Smilenya menatap langit yang berwarna jingga itu.

Lisa tersentak dengan suara yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah ia menikmati kesunyian. Ia menoleh dan mendapati Jennie disana.

Tak menghiraukan gadis berpipi mandu itu. Lisa kembali menatap hamparan langit di depannya. Itu lebih nyaman.

Jennie duduk di samping Lisa. Mengikuti pandangannya, memang secantik itu pemandangan yang ada dihadapannya sekarang.

" Bisakah kau matikan rokoknya. Aku terganggu dengan asap itu. " Ucap Jennie sebal. Gadis itu benar-benar terganggu dengan asap yang menguar ke udara.

Lisa menoleh dengan kerutan di keningnya. " Pergi saja. Kau yang mengangguku. "

Jennie berdecak sebal. Kemudian menatap sebungkus rokok yang tergeletak di meja di hadapannya. Dengan seringai yang menghiasi wajah cantik itu, Jennie mengambil satu batang rokok dan korek apinya.

Lisa terheran melihat apa yang di lakukan gadis di sampingnya. " YA! Apa yang kau lakukan ? "

Jennie menghindar ketika Lisa hendak mengambil rokok yang kini ada di tangannya.

" Kau tahu, rokok itu lebih berbahaya untuk perokok pasif sepertiku, jadi aku akan mencoba menjadi perokok aktif. Aku tidak mau rugi. " Ucap Jennie santai. Sejujurnya ini hanya gertakannya saja agar Lisa mematikan nikotin yang sedari tadi gadis berponi itu hisap.

LISA ( Jenlisa )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang