25. Chapter twenty five

1.3K 145 31
                                        

🧸🐱

" Kau akan berangkat sekolah. ?" Tanya Jennie pagi ini ketika melihat Lisa tengah bersiap-siap. Gadis berponi itu mengecek isi yang ada di dalam ranselnya.

Lisa menoleh, mengangguk singkat kemudian menghampiri Jennie yang masih terbaring di ranjang.

Tangannya terulur untuk mengecek suhu tubuh gadis berpipi mandu itu. " Panasnya sudah turun. "

Jennie bangkit. Duduk menghadap Lisa yang kini duduk di tepi ranjang. " Aku ingin sekolah. "

Lisa mengerutkan keningnya. Ia menggeleng tegas. Bisa-bisanya gadis itu meminta pergi kesekolah ketika tadi malam saja panasnya cukup tinggi.

" Istirahat sampai pulih. Kau bisa sekolah jika tubuhmu sudah membaik. "

Jennie menghela nafas, ia akan sangat bosan berdiam diri rumahnya sendirian. Jennie ingin keluar.

Menatap Lisa dengan sendu. Terlihat jelas kantung mata di wajah gadis manis di hadapannya itu. Jelas saja, Lisa kurang tidur semalam karna harus mengurus Jennie. Gadis berpipi mandu itu menjadi tak enak hati sekarang.

" Lisa-yaa.. terimakasih untuk semuanya ? " Jennie berucap tulus. Menatap kedua bola mata Lisa dalam.

" Nde ? " Lisa di buat bingung dengan ucapan Jennie. Walaupun ia tahu kemana arah pembicaraan Jennie. Namun, Lisa pikir ia tak harus mendapat ucapan terimakasih.

" Dan.. maaf, karna aku, kau jadi kelelahan. " Lanjut Jennie.

Lisa terkekeh gemas, melihat Jennie yang terlihat sendu membuat senyum gadis berponi itu muncul.

Jika di pikir-pikir. Ini memang sangat lucu. Lisa yang sedari dulu selalu menjaga jarak dan bersikap dingin pada orang lain. Bahkan ia tak perduli dengan sekitarnya mendadak menjadi manusia hangat dan lembut.

Entahlah. Kata hatinya mengatakan jika ia harus merawat Jennie, dan perasaan kecilnya tentu senang melakukan itu. Mungkin karna ia tak tega melihat Jennie yang tengah sakit sendirian di rumahnya. Ah mungkin memang karna alasan tak tega.

" Aku sudah terbiasa bergadang. " Jawab Lisa. Ia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Kemudian menatap Jennie kembali. " Aku harus berangkat sekarang. Kau jangan lupa meminum obatmu. "

Jennie mengangguk saja. Tatapannya tak beralih dari Lisa yang kini mengambil jaket Hoodie coklat yang sejak kemarin ada dalam ranselnya.

Alis Jennie terangkat ketika tiba-tiba Lisa menyimpan Hoodienya di pangkuan Jennie.

" ku tebak kau belum mencuci Hoodie itu selama aku memberikannya padamu. " Lisa berucap. Menatap Hoodie hitam yang di pakai Jennie.

" Ahh--a--ak-ku mencucinya. " Elak Jennie malu. Pada kenyataannya Hoodie itu belum pernah ia cuci sama sekali. Bukan karna malas. Entahlah, Jennie tak ingin kehilangan wangi tubuh Lisa disana.

Lisa mendekati tubuh Jennie, kemudian mencium aroma yang ada di Hoodie hitam itu. " Ini masih bau tubuhku. "

Jennie mengulum bibirnya menahan malu. Kenapa Lisa bisa mengenalnya.  Jelas saja, karna itu wangi tubuhnya sendiri. Dan wanginya begitu khas. Jennie menyukainya.

LISA ( Jenlisa )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang