Saat semuanya berhasil keluar dari rumah, mereka dikejutkan dengan munculnya kakek yang mereka temui dua hari lalu. Kakek itu tersenyum kemudian menyapa mereka ramah.
Yang disapa jelas ketakutan, karena kakek itu adalah orang yang mengejar mereka dengan jubah hitam dan kapak besarnya, kapak yang berhasil melukai Haruto.
Kedelapannya mengambil jarak dengan kakek tua itu, karena dikapaknya masih terlihat jelas bekas darah Haruto.
Walau jantungnya berdetak hebat, Asahi memberanikan diri untuk bertanya pada kakek yang sejak tadi tidak berhenti tersenyum. "Kakek ... emm ....Bisa bantu kita keluar dari sini?"
Kakek itu mengangguk singkat, "Ayo ikuti saya."
Kemudian kakek memimpin paling depan yang di ikuti delapan anak laki-laki yang masih siaga, takut jika nanti Kakek itu mengeluarkan jurus mautnya.
Langkah mereka terhenti pinggir rumah, mereka hanya berjalan sekitar lima langkah saja. Kakek itu tidak waras atau bagaimana? pikir Yedam.
"Kek? Ini mah bukan nganter pulang namanya!" protes Sunoo.
Kakek menjawab, "Ini tempatnya."
"Hah?"
"Gak salah?"
"Kakek nggak lagi bohongin kita, kan?"
"Kalian istirahat dulu disini sambil memecahkan cluenya," Kakek itu tanpa basa-basi kembali masuk ke dalam rumah.
"Lah? Malah ngelawak," ucap Junkyu.
"Dia gak ngelawak, orang dia baik bawa kita ke tempat ini." Asahi mencoba menenangkan teman-temannya.
Kini mereka hanya berduduk santai dengan beralaskan rumput. Pohon besar diatasnya sangat menyeramkan bagi mereka, tapi apa boleh buat, hanya tempat ini yang bisa dijadikan tempat untuk beristirahat.
"Laper banget perut aing," Sunghoon memegangi perutnya.
"Pohon ini pohon apa?" tanya Chenle. Disekitar situ tidak ada penerangan,yang membuat Chenle kesusahan.
"Pohon kecapi," jawab Sunoo.
Haruto sudah negatif thinking, "Kok lo tau?"
"Apa? Mau nuduh gue tau segalanya lagi?" Sunoo menatap Haruto tak suka. "Lo gak liat buahnya dadah-dadah?"
"Eh?" Asahi memukul kepala Haruto, malu dengan kebodohan temannya itu.
"Siapa yang bisa manjat?"
Jisung berdiri, ia memanjat pohon tanpa banyak bicara. Dengan hati-hati dan semangat dari pada suporter dibawah sana, Jisung mampu memetik sekitar sepuluh buah kecapi walau buah itu berada pada ujung dahan.
(*Kalian tau buah kecapi gak? Kalo enggak, coba search di google)
Jisung turun dengan perlahan, kemudian ia merapikan kembali bajunya yang agak berantakan. "Cukup, kan?"
"Sebenarnya sih enggak, masing-masing dari kita cuman kebagian satu dan ada juga yang dua. Tapi gapapa, kecapinya enak!" ucap Yedam.
"Lo gak makan?" tanya Chenel pada Jisung yang hanya diam menyaksikan.
"Gue gak doyan buah-buahan," jawab Jisung.
"Ada ya orang yang gak doyan buah?"
"Ada! Bahkan ada yang gak doyan nasi," Yedam berbicara dengan mulut penuh.
"Terus dia makannya apa?"
"Pakan lele," celetuk Sunghoon. Ia melemparkan kulit buah asal, tapi kulit buah itu malah mengenai wajah Sunoo.
"Wah ... ngajak bertarung."
"Sttttt! Udah! Mending kita bahas clue!"
"Ekor? Ekor-Ekor apa yang mirip Sunghoon?" tanya Sunoo random.
"Ekorang jelek sekali," jawab Sunghoon. Kemudian, semua pasang mata tertuju dirinya.
"Ekor? Ekor? Ekor?" Yedam mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.
"Oh!" Yedam mengejutkan yang lain.
"Apa!"
"Ya ekor," jawabnya santai.
"Bajingan!" Seketika mulut Yedam disumpelkan beberapa kulit kecapi sampai tersedak.
"Hilang sudah vibes horornya," ujar Asahi kecewa.
Entah angin darimana, Jisung terlihat tergesa-gesa menaiki pohon kecapi tadi. Anak itu menyipitkan mata, sedikit berjinjit, kemudian tersenyum puas.
"Gue nemu artinya!" Jisung kegirangan.
"Apa?"
Remaja bertubuh tinggi itu turun terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Yedam. "Halaman ini ibaratkan kepalanya, berarti ekornya ada di belakang rumah ini! Ayo kita temuin orang misterius itu!"
"Hah?"
"Gimana-gimana?"
Asahi, Junkyu, dan Sunoo celingukan. Mereka bertiga tidak paham dengan penuturan Jisung.
Chenle maju kehadapan ketiganya, "Otak boleh bego, tapi harus cool dong! Malu-maluin gue aja lo!"
"Udah pada siap, kan? Atau mau istirahat dulu aja?" tanya Yedam.
Dengan raut ketidaksukaan, Sunghoon menjawab. "Pelakunya cuma ngasih waktu malam ini juga!"
"Yaudah sih santai, jangan ngerem mulu."
"Yuk!" Mereka berjalan beriringan.
Tapi sangat disayangkan, ketujuh remaja itu tidak melihat jika salah satu dari mereka diam-diam tersenyum puas.
+×+
Whwhwhwhwhehhwhw ....Bentar lagi tamat T.T Pantengin sampe end yaa!
Karena cerita ini beberapa part lagi tamat, aku bikin cerita 10080 ver 2. Vibesnya hampir sama, tapi genre cerita lebih ke horor. Yakin gak penasaran? Ramein lapak Minus yuk!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Oh ya! Cerita ini pake nama-nama lokal kok, kelakuannya random ala-ala anak indo juga!