09. Ada yang salah!

62 28 4
                                        

Tak terasa waktu untuk kembali menimba ilmu memaksa daksa Jeongwoo untuk bangkit lebih pagi. Semalam dia tidak bisa tidur dengan tenang sampai sang Fajar menyongsong. Untuk sekadar mandi saja rasanya malas, mata Jeongwoo terasa susah untuk diajak kerja sama.

Langkah gontai bahkan menemaninya sampai anak itu sudah siap dengan seragam lengkap, juga tas yang terpasang di bahu kanan.

Walau tubuhnya sedikit lemas, dia paksakan untuk lebih dulu membuka fentilasi agar cahaya matahari masuk memenuhi sudut rumah. Tapi lagi-lagi, Jeongwoo berhasil dikejutkan oleh sebuah robekan kain yang cukup tebal.

Dia diam sejenak, mencoba menerka kemungkinan-kemungkinan kenapa bisa robekan sebuah kain ada di jendelanya padahal dia tidak pernah punya baju dengan warna dan bahan yang seperti itu.

"Gue yakin ini bukan kain yang biasa dipake buat baju." Jeongwoo lantas memutar tas ranselnya ke arah depan. Menyamakan kain yang dia temukan apakah sama dengan kain yang dipakai pada tasnya. Dan semuanya akurat, bahannya sama persis.

"Gue gak pernah bawa tas ke deket jendela kecuali hari ini." Dalam otaknya hanya ada satu pertanyaan besar, siapa orang yang bertamu di rumahnya padahal rumah dalam keadaan kosong sebab orang tua Jeongwoo pergi untuk liburan.

Karna sudah siang, Jeongwoo memilih abai lalu pergi setelah mengunci semua pintu. Dalam perjalanan sampai tiba di depan pagar, pertanyaan mengenai siapa dan mengapa terus menggerogoti kewarasannya padahal dia sama sekali belum makan nasi sejak kemarin.

Tubuh yang terasa tidak sinkron dia bawa menuju kantin sekolah. Mungkin, ada satu dua orang bertanya mengapa dia tidak semangat seperti biasanya atau apa yang menjadikan Jeongwoo yang cerewet menjadi sosok paling diam?

Entahlah, Jeongwoo saja tak mau ambil pusing. Lebih memilih untuk duduk menyantap satu piring nasi goreng dan segelas es teh hangat, dengan harap tubuhnya bisa baikan dan rasa kantuknya segera hengkang.

Hingga pada suapan ke tiga, Jungwon dan Gaku datang menghampiri. Alih-alih menanyakan kabar, mereka berdua malah sibuk menyeruput teh hangat milik Jeongwoo.

"Kayak orang yang gak tidur semaleman lo, Woo." Jungwon terkekeh setelahnya, menertawakan mata sayu temannya dengan seenak jidat.

"Nonton film horor sendirian ya semalem?" Gaku menebak, Jeongwoo malah menggelengkan kepala.

Obrolan terhenti, Jungwon sibuk dengan ponselnya entah sedang bertukar pesan kepada siapa sampai bocah itu terlihat sangat serius. Kalau Gaku, dia pergi menemui Jo di lantai dua.

"Lo tau gak sih, Jeongwoo? Semalem, pas terakhir gue kirim chat ke lo, ada orang yang ngejar sampe tas gue copot." Jungwon menunjukkan tas barunya.

Saat Jungwon membahas tentang tasnya yang rusak, ada sedikit kecurigaan dibenak Jeongwoo. Tapi dia menepis rasa curiganya karena Jungwon selalu memakai tas serut, yang dimana kainnya pasti tak sama dengan kain yang dia temukan, dan sejak kapan Jungwon punya tas dengan warna ngejreng? Warna hijau pula. Jadi tidak mungkin kalau kain tadi adalah robekan dari tas Jungwon.

"Semalem jendela kamar gue kebuka sendiri, Won. Gue kira ada maling, mangkanya gue susah tidur. Sekarang jadi ngantuk berat."

"Selagi ada gue di samping lo, Gaku dan Jo. Kalian berdua bakalan aman."

Jeongwoo tak mendengar jelas perkataan Jungwon tadi, sibuk membereskan bekas makannya dan mengajak Jungwon pergi untuk menemui Jo dan Gaku di kelas Baekseung yang memang ada di lantai dua.

Jeongwoo memilih untuk berjalan lebih lamban dari Jungwon, membuat dia bisa lebih jelas memperhatikan gerak-gerik Jungwon. Entah kenapa dirinya sangat menaruh curiga, padahal Jungwon sama sekali tidak melakukan apa-apa.

×+×

Baekseung datang paling awal sebelum murid lain menjejaki tanah subur sekolahnya. Dia bahkan datang pagi-pagi buta karena alasan yang tak jelas. Dari lantai dua, tempat dia melamun, sesosok pria jangkung berjaket hitam perlahan mendekat.

Saat sosok itu berada lebih dekat lagi, Baekseung memanggil dengan suara cukup keras. "Woy! Jo! Sini!"

Si empu mendongak lalu mengangguk. "Bentar taro tas dulu!"

"Ok!"

Kata ok tadi hanya terlewati beberapa menit sebab Jo sudah berdiri di depan Baekseung sambil memperhatikan lapangan dari atas.

"Tumben?"

"Apa?"

"Ngapain manggil gue?"

"Oh, ada cerita!" Baekseung melirik ke segala arah, takut kalau ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka berdua.

"Kemarin, sikap Jeongwoo aneh banget. Gue pergi karena males ribut, tapi lo tau?"

Jelas jo menggelengkan kepalanya.

"Jeongwoo ngikutin gue dari awal sampe gue terang-terangan labrak dia."

Jo sedikit tak paham, selisih kepergian Baekseung dan izin Jeongwoo untuk pulang itu cukup lama. Tak mungkin Jeongwoo bisa mengikuti Baekseung sejak awal.

Ingin menjelaskan kalau itu hanya kekeliruan, Jo takut Baekseung mengira dia membela Jeongwoo. Pada akhirnya, dia terus mendengarkan sampai Baekseung berkata lagi.

"Dia bilang dia takut gue kenapa-kenapa, tapi sumpah muka dia aneh banget kayak orang kerasukan."

"Seung, Jeongwoo emang sering kayak gitu kalau orang tuanya lagi gak ada di rumah, yang dalam artian Jeongwoo lagi bahagia."

"Itu beda, gue sampe takut sekaligus curiga!"

"Coba kita dengerin dari sudut pandang Jeongwoo nanti."

Tak lama, Gaku datang. Jo mengedarkan pandangannya, tak percaya kalau waktu terlewati cukup cepat padahal mereka hanya berbincang sebentar.

"Baekseung! Makin bersemangat aja kayaknya, udah nemu titik terang kasus pembunuhan itu yaaa?" Gaku menyenggol pelan bahu Baekseung.

"Belum." Mata Baekseung melirik kesana-kemari. "Jeongwoo sama Jungwon kemana?"

"Di kantin, Jungwon nemenin Jeongwoo sarapan."

Mereka bertiga tidak bertukar obrolan atau apapun. Sibuk dengan pikiran masing-masing sampai Jeongwoo dan Jungwon ikut bergabung.

Baekseung yang melihat Jeongwoo datang malah menjaga jarak, masih menaruh curiga usai kejadian kemarin.

Jeongwoo yang sadar itu menautkan kedua alisnya. "Lo kenapa, Baekseung?"

"Gapapa."

"Soal kamarin, ya?" Jeongwoo lantas tertawa ringan. "Kemarin gue liat lo sendirian di depan minimarket, waktu lo buang sampah, ada orang yang ngeliatin lo terus dari balkon ruko."

Penjelasan dari Jeongwoo mampu membuat Baekseung tertarik pada obrolannya.

"Dia ngarahin kamera ponselnya ke arah lo, gue takut lo di jegat di jalan sama orang yang lo gak kenal. Mangkanya gue ngikutin lo dari belakang."

Apa Baekseung percaya? Tentu tidak. Baekseung lebih percaya dengan apa yang dia lihat, bukan percaya pada omongan orang lain.

"Jangan saling curiga kalau lo mau tetep kerja sama bareng kita berempat." Itu kata Jungwon.

Karena ingat pada tujuan awalnya, Baekseung menghela nafas kasar dan berkata, "Maaf gue udah curiga sama lo, Jeongwoo."

"Santai." Lepas itu, mereka berpisah karena bel berbunyi tanda jam pelajaran akan segera dimulai.







+×+
Aku usahain buat update rutin kayak kemarin-kemarin, maaf karena ngaret pisan:(
sehat sehat yaa!

10080 [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang