四 |Pertengkaran awal

223 64 6
                                        

Koridor laboratorium Biologi yang disinggahi Yedam membuatnya sedikit merinding, kerangka tulang lengkap dari kepala sampai kaki terlihat jelas melalui jendela. Desir angin bahkan terasa lebih dingin dari biasanya. Wajar jika aura di sana sedikit minus, pinggir laboratoriumnya saja kamar mandi yang jarang dipakai oleh siswa.

Yedam memilih untuk masabodo, tidak berani memikirkan hal yang seram-seram. Cukup kejadian beberapa minggu lalu saja yang seram, kedepannya jangan.

"Gue jadi inget cerita Sunoo dikamar mandi hotel dulu," monolognya sambil terus scroll Instagram. Tangan pria jangkung itu terus menelusuri beranda, melihat-lihat apa yang sedang hangat diberitakan.

Seolah tak puas tenggelam dalam berita yang tak akan ada habisnya, mata Yedam malah tak sengaja melihat kejanggalan pada salah satu postingan.

Postingan dari salah satu akun misterius itu benar-benar janggal, terlihat seperti teka-teki yang memamerkan lokasi yang tak asing bagi Yedam. Namun, saat Yedam ingin lebih dalam mencari tahu siapa dibalik itu semua, suara gaduh dari lantai atas terdengar sampai rungunya sakit.

"Siapa, sih? Masih pagi udah pada ribut!" Yedam lantas melangkah, bergerak cepat ke arah tangga dan naik dengan tak santai.

Di lorong paling belakang, terlihat dua orang yang sangat Yedam kenali. Dua manusia itu tak lain adalah Doyoung dan Sunoo. Mereka berdebat,  Sunoo dipojokkan sampai tangannya menyentuh pembatasan yang terbuat dari batu dan semen itu.

"Doyoung! Nanti Sunoo jatoh!" Teriakan dari Yedam hanya dianggap seperti suara nyamuk semata, tak di gubris oleh keduanya.

Tanpa banyak berpikir, Yedam menarik kasar seragam Doyoung sampai jahitan kerahnya koyak .

"Gausah ikut campur!" Doyoung kembali maju, Sunoo dengan cepat mengubah posisi dan berdiri di belakang Yedam, seolah membentengi dirinya sendiri.

"Kalian kenapa sebenernya?"

"Dia bikin gue emosi, Yedam. Gue ke kelas ini niatnya baik, mau tanya-tanya soal hotel yang kalian tempati waktu itu."

Kedua alis Yedam menyatu, dahinya bahkan mengerut. "Gue, Jisung sama Sunoo gak pernah bilang ke siapapun tentang hotel. Lo tahu dari mana kalau—"

"Gak penting gue tahu dari mana. Yang jelas, sebelum dia minta maaf, gue gak bakalan bantu kalian."

Sunoo mendorong tubuh Yedam keras, maju ke hadapan lawan bicaranya. "Gue sama yang lain berusaha buat lupa sama kejadiannya, dan lo? Orang yang bahkan kita kenal baru kemaren siang sok-sokan kepo tentang ini itu? Otak lo dimana, huh?"

Doyoung emosi lagi, kesabarannya sudah memasuki level akhir. Sikap Sunoo yang selalu berpegang teguh pada pendirian sangat menyusahkan Doyoung untuk mencari informasi lebih.

"Gue belum bisa dapet kesimpulan dari perdebatan kalian, tolong diem dulu! Satu-satunya ngomongnya."BYedam juga bukan orang yang pandai mengenali situasi, terlebih saat keadaannya penuh dengan api amarah seperti ini. Kepala Yedam rasanya ingin pecah. Sungguh.

"Gak ada yang mau jelasin?" Sepasang mata mereka memancarnya kilat yang berbeda, seolah ada pembatasan diantara mereka.

"Sunoo? Gue tau lo dewasa. Jelasin cepet! Supaya gue gampang ngasih kalian jalan tengah supaya kalian damai."

Sunoo akhirnya mengalah juga.

"Dia terus-terusan nanya gue tentang hotel itu, Yedam. Wajar kalau gue emosi. Dia berlebihan."

Suasana kembali panas.

"Gue cuma pengen tahu supaya gue bisa lebih gampang bantu kalian."

"Kalau gitu caranya sama aja lo nyuruh gue buat puter ulang kejadian yang paling suram buat gue,  Doy!"

"Lo yang sensian!"

"Lo ke—"

"Udah!" Yedam menengahi. "Sekarang gue tahu masalahnya apa. Gue gak mihak sama salah satu dari kalian sekalipun Sunoo temen baik gue." Yedam melanjutkan kalimatnya. "Kalian berdua salah. Doyoung, lo seharunya tanya point pentingnya aja, jangan suruh Sunoo buat ceritain kejadiannya dari awal sampe akhir! Sunoo juga salah karena gak bisa nahan emosi."

Kedua orang yang tadi berselisih itu hanya diam. Tidak ada tanda-tanda kalau perkelahian tadi akan berlangsung lagi.

"Udah, kan?"

Sunoo dan Doyoung tak menjawab.

"Masalah kecil jangan dibikin besar-besarin.. Ayok! Balik ke lab, yang lain udah nunggu."

Yedam tadi tak sengaja mendengar suara berat milik Jisung dari bawah. Dia rasa, Jisung dan yang lain sudah menunggu. Obrolan ringan Jisung tadi bahkan terdengar sampai lantai dua.

"Gue punya berita bagus. Kalau gak mau ikut, gapapa."

Sunoo lalu membuntuti Yedam, diikuti oleh Doyoung yang diam-diam melangkah walau dengan sedikit emosi yang bercampur gengsi.

10080 [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang