𝐒𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐚𝐮 𝐢𝐧𝐠𝐞𝐭𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐦𝐮𝐫𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐬𝐢𝐥 𝐢𝐦𝐚𝐣𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢. 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐨𝐭𝐨𝐦𝐚𝐭𝐢𝐬 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐢𝐦𝐚𝐣𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐤𝐢𝐧. 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐥𝐚𝐢𝐧, 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐫𝐚𝐭𝐮𝐬 𝐩𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧 𝐟𝐢𝐤𝐬𝐢. 𝐓𝐨𝐥𝐨𝐧𝐠 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐢𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐬𝐢 𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐚𝐬𝐥𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚.
𝐒𝐚𝐭𝐮 𝐥𝐚𝐠𝐢, 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐤𝐧𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐢𝐫𝐚𝐭. 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡~
10080
—Januari 2018. Sorak-sorai memenuhi seisi kantin. Tepat pada pukul sembilan lewat lima belas menit, seluruh murid keluar satu persatu, bergerak menuju kantin guna mengisi perut mereka masing-masing. Begitu pula dengan Yedam, Sunoo dan Jisung, mereka bertiga mencuri start lebih awal karena kelas mereka dekat sekali dengan kantin.
—FYI. Seminggu setelah libur tahun baru, ketiganya kompak memutuskan kalau mereka akan melanjutkan sekolah. Walau pada awalnya, mereka sudah dirumorkan meninggal. Wajar jika siswa-siswi yang lain terkejut bukan main kala tiga makhluk yang katanya sudah tewas itu datang ke sekolah. Yedam sudah tahu hal tersebut akan terjadi, oleh karenanya ia menempelkan sebuah klarifikasi di MaDing sekolah. Klarifikasi apa kira-kira? Entahlah, mungkin hanya meluruskan apa yang sebelumnya simpang-siur.
Kembali pada tiga manusia yang kini sedang terduduk manis sambil menunggu pesanan baksos datang. Mereka seperti tidak ada beban, berceloteh tanpa henti.
"Gue masih trauma," celetuk Jisung.
"Yang berlalu biarlah berlalu." Sunoo menepuk pundak kawannya. "Lupain, Ji. Hal kayak gitu gak ada gunanya diinget terus. Emang dengan kita inget kejadian kemarin, Haruto, Chenle, Asahi sama Junkyu bakalan hidup lagi? Enggak, kan?"
Tak ada balasan. Jisung malah asik melihat Yedam yang sedang mengutak-atik ponsel barunya.
"Nomor kalian berapa? Gue mau bikin grup."
Penuturan Yedam dibalas gelengan oleh Sunoo. "Gue belum berani punya HP lagi, Dam."
"Jisung?"
"Saya!" Jisung tersenyum sambil mengangkat tangan kanan ke atas.
"Iya tau. Lo Jisung, bukan Samsul. Maksud gue, nomor lo mana?" Yedam menatap manik coklat milik Jisung, menunggu pemuda itu memberikan ponselnya.
Tanpa basa-basi, Jisung merogoh saku kemudian melemparkan benda pipih itu asal. "Cari aja sendiri."
"Nama kontak lo ap—" Pergerakan Yedam terhenti kala seseorang berdiri di samping kanannya.
"Ini baksonya."
Seorang siswa dengan name tag Doyoung meletakkan pelan nampan berisi tiga mangkuk bakso dan tiga gelas es teh manis. Bukannya pergi, ia malah duduk di bangku kosong sebelah Sunoo.
"Kalian gak jadi matinya?"
Sunoo menatap Doyoung horor. "Lo aja yang mati, mau?"
Doyoung menggeleng cepat. "Nggak. Duluan aja."
"Ngapain, sih, masih di sini? Udah sana pergi!" sarkas Jisung.
"Mau liat mayat gak jadi," ceplosnya. Tak lama, tiga pasang mata tertuju pada Doyoung yang hanya terkekeh dengan wajah yang tidak merasa bersalah. "Numpang duduk doang."
"Lo bantuin siapa emang?"
"Bantuin Mang Toha, kasian dia udah tua."
Mereka bertiga mengabaikan Doyoung. Tapi, bukan Doyoung namanya jika tidak cerewet. "Kok kalian cuma bertiga? Yang lain kemana?"
"Kita cuma bertiga. Gak ada orang lain."
"Bohong."
"Siapa yang bohong?"
"Siapa lagi kalau bukan lo, Sunoo."
Sunoo menoleh cepat. "Kok lo tau nama gue?"
"Name tag lo, bego!"
"Mulutnya kayak gak pernah di sekolahin." Yedam mengusap dada pelan, tercengang dengan remaja berwajah polos namun lidahnya lebih pedas dari Bon Cabe level 20.
"Gue pengen temenan sama kalian."
"Mau banget?" tanya Yedam kegirangan.
"Banget. Banget."
"Tapi kita bego, gimana dong?"
Doyoung menjawab dengan tak kalah girang. "Mau temenan sama orang bego."
Wajah Yedam mendadak datar. Doyoung itu sebenarnya polos atau bodoh?!
"Yaudah. Lo temen kita sekarang. Sekarang, sebut nomer HP lo, biar gue save."
Yedam mengeluarkan lagi ponselnya, Doyoung pun mengikuti, mengeluarkan smartphone keluaran baru yang memiliki kamera tiga.
"HP lo bagus, dapet dari mana?"
"Hasil give away."
"Serius?" Yedam bertanya seolah percaya pada jawaban Doyoung.
"Beneran bego ternyata."
"Sumpah gue eneg sama kata itu! Please inimah, gak usah ngomong kasar."
"Temen lo, noh, mau aja di begoin." Wajah Doyoung terlihat sangat ketus. "Oh iya, gue punya tiga temen lagi, mau kenalan?"
"Nggak. Males, nanti bentukannya sama kayak lo."
"Mereka sangar-sangar. Cocok buat temen bales dendam."
Ketiganya membeku. Doyoung tahu kalau mereka akan membalas dendam? Wah. Menarik.
"Tunggu, lo, kok, tau?"
"Gak penting gue tau dari mana, yang jelas gue mau bantu kalian."
"Oke. Lanjut di WhatsApp aja. Jangan di tempat umum kayak gini."
Doyoung mengangguk, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Dia bukannya anak pengusaha yang terkenal itu? Kok otaknya mines, ya?"
10080
KAMU SEDANG MEMBACA
10080 [Selesai]
Misteri / Thriller[ S E A S O N 1 - 3 L E N G K A P ] "Siapa dalangnya?!"
![10080 [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/290907463-64-k741955.jpg)