八 |Username!

208 58 7
                                        

—16.00 WIB. Rumah sederhana yang ditepati oleh Jake kedatangan banyak tamu. Bahkan sekarang, para tamu-tamu tidak tahu diri itu sudah duduk bagaikan raja-raja yang sedang menunggu jamuan.

"Jake? Boleh minta minum gak?"

Jake yang sedang berganti baju lalu keluar cepat dari kamarnya. "Boleh. Tunggu di sini."

"Ikut dong!"

"Jangan!" Jisung tersentak. Nada bicara Jake seperti nada bentakan.

"Kenapa? Kok muka lo pucet?"

"Gapapa. Kalian tunggu aja di sini, jangan kemana-mana. Gue gak lama kok ambil minumnya."

Mereka menurut. Jake menghela nafas lega. Kalau sampai salah satu dari mereka ikut dengan Jake ke belakang untuk mengambil minum, sesuatu yang sejak dulu Jake rahasiakan akan terbongkar.

Tidak bisa dipungkiri kalau Jake adalah orang yang selalu menepati ucapannya. Hanya beberapa menit sendirian di dapur, Jake kembali dengan nampan yang sudah berisi beberapa gelas es jeruk lengkap dengan makanan ringan yang dijinjing menggunakan kantung plastik. "Kalian laper gak? Kalau laper, nanti gue pesenin nasi Padang."

"Nggak usah ngerepotin, Jake. Kalau bisa rendangnya dua, ya?" Yedam memamerkan deretan giginya.

"Oke kalau gitu. Lauknya samain aja." Jake lalu membuka sebuah aplikasi untuk memesan nasi Padang langganannya. Padahal, rumah makannya terletak tak jauh dari rumah Jake. Entahlah, mungkin Jake malas berjalan atau—lupakan saja.

"Jake? Gue Numpang ke kamar mandi."

Si pemilik rumah menunjuk sebuah ruangan kecil dengan pintu biru. "Itu."

Sepasang alis Jisung beradu. "Gak salah? Biasanya kamar mandi itu adanya di belakang lho, deket dapur."

"Yang punya rumah siapa?"

"Elo," ujar Jisung cepat.

"Yaudah. Jangan banyak protes."

Jisung berpasrah. Kesabaran Jake Sim sepertinya hanya setipis helaian benang. Pemuda itu pergi ke tempat tujuannya, sambil melirik kesana-kemari. "Rumah Jake kok agak aneh, ya?" gumamnya.

Sembari menunggu Jisung usai, orang-orang yang tersisa saling mengobrol. Mereka tidak membicarakan misi balas dendam, hanya obrolan-obrolan ringan saja.

"Lo tinggal sendiri, Jake?"

"Iya. Biasanya di temenin Sungchan, Jaehyuk sama Doyoung. Rumah gue berasa markas," Jake terkekeh. Rumahnya memang sederhana, tapi isi dan penghuninya lah yang berharga. Katanya sih begitu.

"Berarti kalian berempat udah kenal lama dong?"

"Pasti. Udah kayak saudara sendiri juga." Doyoung berbicara sambil terus mengunyah ciki. "Kalian sekarang udah jadi temen kita. Anggap aja kita semua saudara kalian."

Sunoo manggut-manggut. "Kalau misalkan kita dalam bahaya. Kalian mau nolong?"

"Tergantung. Kalau kita dirugikan, ngapain repot-repot?"

Yedam mematung, mencerna perkataan Jaehyuk barusan.

Sedangkan Sungchan masih asik dengan benda pipih pintarnya. "Akun yang kemarin ilang!"

Dengan kaki yang bahkan masih basah, Jisung ikut berlari, ingin tahu juga.

"Kok bisa? Coba cek lagi. Salah username kali."

"Nggak mungkin, Doy. Gue inget banget username-nya."

Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk. Pesan dari akun misterius yang tadi dinyatakan hilang oleh Sungchan.

 Pesan dari akun misterius yang tadi dinyatakan hilang oleh Sungchan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ketujuh remaja itu saling bertatapan. Seolah memiliki pemikiran yang sama.

"Gue gak salah liat, kan?"

"Udah-udah. Jangan panik, mungkin Sungchan beneran lupa username-nya."

"Tapi—"

"Udah, Jisung. Gausah bikin panik diri sendiri."

"Gimana kalau—"

Ketukan pintu dan ucapan salam memotong ucapan Sunoo. Jake keluar, mengambil pesanannya.

Mereka tak melanjutkan obrolan tadi, memilih untuk makan dengan tenang tanpa memikirkan hal yang janggal tadi.

10080 [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang