Sekarang, Jake dan Jaehyuk sudah kembali ke tempat yang seharusnya. Ya, rumah Jake yang dimana kedua temannya sudah menunggu sedari tadi.
Tanpa mengetuk, si tuan rumah langsung masuk dengan wajah sedikit pucat. Dia duduk, menenggak satu botol teh botol sampai habis.
"Temen lo gak dikasih minum apa?"
"Tadi sempet mampir dulu sambil ngabarin yang lain di grup, tadi Jake gak mau makan atau minum apa-apa."
Makhluk yang merasa terpanggil lantas menengok, bukan untuk membalas perkataan Jaehyuk, melainkan memperhatikan Sungchan yang tengah asik menonton drama di televisi.
"Chansung, sini dulu deh, kumpul dulu."
Sungchan nurut, dengan tak santai dia duduk bersebelahan dengan Doyoung.
"Jadi, tadi gue pas-pasan sama anak laki-laki yang kayaknya masih SMP."
"Terus?"
"Gue curiga. Tapi gak jadi."
"Lah? Kok gak jadi?"
"Mungkin itu anak pembantunya. Dan soal dugaan Sunghoon punya adik itu juga kayaknya cuma kecurigaan yang gak mendasar."
"Pembantunya cuma nyebut 'dua anaknya' berarti cuma ada Jeonghan sama Sunghoon," lanjut Jake.
Mereka manggut-manggut. Lain dengan Sungchan yang masih melirik televisi karena masih penasaran dengan drama yang ditayangkan. Doyoung tidak marah, lagipula telinga Sungchan masih sangat berfungsi dengan baik, dan mereka tidak melupakan fakta kalau Sungchan itu cepat tanggap walau agak ngeselin.
"Kita gak ada urusannya sama apa yang udah keluarga Sunghoon lakuin buat ngasilin kekayaan sedemikian banyak. Kita cuma fokus ke misi bales dendam."
"Tapi ya Doy, kalau gue jadi lo, gue bakal musnahin semua silsilah keluarga Sunghoon. Lagian, bokap lo bukan orang biasa, ngapain susah-susah kayak gini? Tinggal sewa orang, lenyapin tikus-tikus itu tanpa jejak. Beres."
Kali ini tatapan Doyoung tajam, sorotnya penuh rasa tak suka. "Kalau gue lakuin itu, berarti gue niru apa yang Sunghoon lakuin. Terus bedanya apa? Sama-sama buruk, kan?"
Ketiganya diam.
"Biar mereka membusuk aja dipenjara. Nanti juga mati sendiri. Ngapain repot-repot."
Alih-alih merespon, Sungchan berkata, "Soal rencana kita, gimana? Kalian siap?"
"15% lagi. Tunggu tanggal mainnya aja."
"Gue khawatir sama satu hal."
"Tentang?"
"Yedam, Jisung sama Sunoo ngerusak rencana kita."
"Bisa diatur," jawan Doyoung singkat.
+×+
Saat jam menunjukkan pukul 21.35 Yedam, Jisung dan Sunoo sudah siap siaga. Siang tadi, mereka memutuskan untuk tinggal di rumah Jisung dalam beberapa hari. Setelah mengetahui kalau anaknya masih hidup, orang tua Jisung memutuskan untuk kembali ke rumah mereka yang ada di luar pulau.
Detik terus berganti menit, mereka tidak menyalakan televisi, hanya ada hening. Cuaca agak dingin, angin mendesir pelan. Di atas kursi empuk, mereka duduk dan saling pandang satu sama lain.
Tiba-tiba, ponsel milik Yedam berdering.
"Hallo?" Kata Yedam sedikit takut. Di sebrang sana, si penelpon tidak menjawab tidak pula berbicara. Mereka kini duduk dengan jarak dekat, saling ingin tahu siapa dan apa maksud dari si penelpon.
"Ini siapa, ya?" Lagi, Yedam tidak mendapat jawaban apapun.
Singkat saja, mereka takut. Walau sudah mendapat bocoran dari Jake, rasa takut mereka masih tinggi.
"Matiin ajalah."
Yedam menurut. Panggilan tadi terputus. Setelahnya, ada cahaya senter yang menembus kaca depan rumah.
"GILA!" Sunoo berdiri. Dengan cepat dia membuka pintu dengan niat menangkap basah di pelaku.
"JAY- BAPAK LAGI NGAPAIN DI SITU?" Bukan Jay yang dia temui, melainkan dua bapak-bapak yang sedang menyoroti pinggiran rumah Jisung.
"Bapak nemu bercak darah. Bapak ikutin bercaknya dan berakhir di sini." Bapak yang kepalannya botak dan berkumis lantas memindahkan dua pot yang tak jauh dari pintu. "Nah. Ada kelinci mati."
"Kalian bunuh kelinci ini?"
Ketiganya membekap mulut masing-masing saat melihat kepala dan badan kelinci tadi terpisah. Darahnya masih segar.
"Kita gak tahu, Pak. Dari tadi pagi kita gak keluar rumah sama sekali. Mana mungkin satu dari kita bunuh kelinci itu?"
Bapak yang kedua menjentikkan jari. "Kalau bukan kalian. Pasti ada seseorang yang sengaja ngelakuin ini. Tapi siapa dan buat apa?"
Yedam mengangkat bahu. "Ya mana saya tahu, Pak."
"Ya sudah. Kalian kubur kelinci ini." Si bapak botak mengangkat kelinci tanpa takut. Kepala kelincinya malah jatuh dan menggelinding. Yedam melotot. "Pak!"
"Maaf, saya takut kena darahnya."
"Kami berdua pamit. Hati-hati, tadi ada bayangan yang lewat."
Kedua bapak berkumis tadi pergi. Jisung khawatir dengan kalimat yang keduanya katakan tadi. "Bayangan apa?"
"Eh, buang ajalah ditempat sampah. Besok kita kubur. Udah malem." Sunoo menyuruh dua temannya masuk, mengunci pintu dan berakhir mengintip lewat jendela. Setelah aman, Sunoo dan yang lain kembali duduk.
"Jay gak sih yang bunuh?" kata Jisung.
"Pasti. Ngapain bunuh hewan. Gila."
"Tidur ajalah. Jay gak-" sekelebat bayangan orang tertangkap basah oleh mata Jisung. Bayangan itu seperti berdiri dari balik pintu dapur.
"Jadi di teror." Sunoo sudah siap dengan gunting ditangan kanannya, sedangkan Yedam menggenggam cutter. Jisung tidak membawa persiapan apapun, dia tak gentar sama sekali.
"Sunoo, lo keluar terus masuk lewat pintu masuk. Yedam tunggu dibalik pintu. Gue mau cari serbuk cabe dulu di kamar." Tanpa ba-bi-bu Sunoo keluar dan Jisung naik ke lantai dua. Menyisakan Yedam sendiri, dia lalu memberanikan dirinya untuk ke dapur sambil berlari.
Tapi tidak ada apapun yang Yedam temukan namun setelahnya, sepasang tangan mencekik leher Yedam, dia berkata. "Lo bakalan mati ditangan gue. Nyawa dibalas nyawa. Ayah lo udah gue kubur tadi sore."
Yedam kehabisan nafas, untuk berbalik saja dia tidak bisa.
Suara anak tangga sukses membuat si pelaku menghentikan cekikannya, dia berlari menuju pintu depan karena dia tahu kalau lewat pintu belakang ada Sunoo.
"WOY SIAPA LO!" Jisung mengejar, tapi larinya kalah kenceng. "Bangsat!" Remaja bermarga Park itu lantas kembali ke dalam rumah. "Yedam! Lo dimana!"
"Jisung! Ke dapur!"
"Kenapa jadi begini?" Jisung bertanya setelah melihat wajah pucat pasih Yedam yang tengah terduduk lemas.
"Dam. Tadi siapa?" tanya Jisung pelan.
"Jay."
"Kenapa gak lo tangkep!" kata Sunoo tegas. Nadanya meninggi.
"Gue di cekik. Nafas aja gue kesusahan. Dan kalian tahu? Dia bilang kalau dia bakal bunuh gue. Ayah gue juga dibunuh! Gimana gue gak lemes, Sunoo."
"Maaf, gue gak tahu."
"Kalau aja gue gak ke sini tadi siang."
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Yedam."
Yedam tak menjawab.
"Ayok istirahat. Sunoo, pastiin pintu ke kunci semua. Kalau perlu ganjel pagi benda apapun yang berat. Gue bantu Yedam jalan."
+×+
Ini aku gak tau cara bikin orang deg-degan, maaf kalau kurang kerasa vibes horornya.
Aku bakalan belajar lagi
Terima kasih>33
KAMU SEDANG MEMBACA
10080 [Selesai]
Mystery / Thriller[ S E A S O N 1 - 3 L E N G K A P ] "Siapa dalangnya?!"
![10080 [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/290907463-64-k741955.jpg)