Terkadang kegagalan terbesar adalah tidak dianggap oleh keluarga sendiri dan muncul rasa benci.
Suara petikan gitar terdengar disisi ruangan. Garry laki-laki itu yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada dikamarnya, petikan gitar itu seketika berhenti dan tersenyum saat mengingat kejadian kemarin.
Garry meletakkan gitarnya dan berjalan kearah ranjangnya dan lansung merebahkan tubuhnya di kasur. "Kenapa gue kebayang Mara terus" gumannya sambil memejamkan matanya, tapi belum sampai beberapa menit terdengar suara ketokan dipintu kamarnya, pria itu menari nafas kasar sebelum melangkah kearah pintu. "Siapa sih"
Klek
"Aileen.. Gue kura siapa" tanpa menjawab kata-kata garry, Aileen lansung menarik tangannya untuk membawanya keluar dari kamar.
"Tunggu.. Lo ngapain si, Len?" Garry melepaskan tarikan Aileen di tangannya. Sedangkan Aileen yang begitu kesal juga ikut melepaskan genggaman tangannya.
"Lo diam bisa. nggak Gar? Gue kesini cuman mau bilang kalo Rezi jatuh dari motor." ucap Aileen final.
Garry yang terkejut lansung berlari ke kamarnya untuk ngambil jaketnya tanpa menghiraukan panggilan Aileen dia bergegas kerumah sakit.
"Garry tungguin gue! Emangnya lo tau Rezi dirawat dirumah sakit mana?" Garry yang mendengar ucapan Aileen seketika berhenti. Benar dia tidak tau Rezi dirawat dimana.
"Yaudah cepatan!" triak Garry. Sedangkan Aileen yang bingung berjalan kearah Garry dan menatap laki-laki itu.
"Lo ngapain bengong? ayuk katanya mau ikut" lanjut Garry, Aileen yang mengerti lansung naik di sepeda motor Garry.
"Lo tau dari mana kalo Rezi jatuh dari motor?" Garry bertanya sedangkan pandangan nya tetap lurus kedepan dan menunggu Aileen menjawab pertanyaannya.
"Tadi si Agung nelfon gue katanya Rezi jatuh saat balapan katanya dia sudah hubungi lo, tapi lo nggak aktif" Aileen menatap Garry dari belakang dan laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya, dia sudah tidak heran dengan kakaknya itu.
.
.
.
"Ngapain lo kesini? Pergi!"
"Zi gue cuman mau lihat keadaan lo" Garry menatap Rezi yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Gue nggak butuh kasihan dari kalian, lebih baik lo pergi!" Rezi beralih menghadap adiknya.
"Gue nggak akan pergi gue akan temanin lo disini gue nggak mau lo kenapa-napa"
"Lo begok atau gimana? GUE BILANG PERGI!!"
"Oke, oke gue bakal pergi tapi izinin gue kasih tau keadaan lo ke bokap biar mereka yang jagain lo." ucap Garry memohon. Mendengar itu Rezi mengangkat tubuhnya untuk duduk sedangkan Garry yang melihat ingin menolong kakaknya itu tapi lansung ditepis olehnya Rezi.
"Bisa nggak si, kali ini Lo nurut?" Lagi-lagi Garry menatap abangnya sedikit kesal. Rezi yang mendengar ucapan Garry yang tadi tertawa remeh.
"Lo pikir dengan lo ngasih tau keadaan gue ke orang tua lo itu, dia bakal kasihan sama gue?, nggak. Lo tau kan apa yang gue dapat kalo sampe mereka tau?" Lagi-lagi Rezi tertawa remeh sebelum melanjutkan ucapannya.
"gue tau itu kan yang lo mau? melihat gue menderita.? Lebih baik lo pergi dari sini gue muak melihat lo yang sok baik sama gue!"
Garry terdiam mendengar ucapan Saudaranya itu, tanpa menjawab Garry berdiri dari duduknya.
"Gue minta maaf Zi. gue pergi, jaga diri lo Baik-baik.. Lo tenang aja gue bakal rahasia-in keadaan lo."
Garry benar-benar keluar dari ruangan tempat Rezi dirawat langkahnya terhenti saat melihat seorang yang dia kenal terduduk disalah satu bangku.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARRA [REVISI]
Teen Fiction"Aku nggk sejahat itu buat ambil kamu dari Tuhanmu" "Kita hanya sekadar dipertemukan bukan untuk disatukan" "ini bukan perihal siapa yang kau cintai tapi ini tentang sebesar apa kamu mencintai" "kisah kita bahkan dimulai dari prolog dan diakhiri den...
![GARRA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/285150442-64-k495413.jpg)