Intan menotok beberapa kali ruang kerja suaminya tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Keningnya berkerut karena tidak ada jawaban dari dalam dan mencoba memegang knop pintu ternyata tidak dikunci.
Dia menjulurkan sedikit kepalanya sebelum benar-benar melangkah masuk keruanggan itu dan melihat ke penjuru ruangan ternyata memenang kosong. Intan meletakkan kopi yang baru saja dia buat diatas meja kerja suaminya dan bergegas untuk pergi.
Langkahnya kembali terhenti saat melihat beberapa tumpukan map penting diatas meja kerja, Harun. Tanpa berfikir panjang pandangannya menghadap ke sisi meja, Sekali-kali melihat kearah pintu hanya untuk berjaga-jaga seakan takut kalau Harun akan muncul tiba-tiba.
Intan mengambil salah satu mab dan sedikit terkejut melihat tulisan kecil yang tertulis di sisi map
"Elea-nor..., Bukanya itu salah satu nama perusahaan Basysyar.? Tapi kenapa ini ada disini bukannya Harun bekerja di kantornya keluarga Prasatya?" guman intan, dia berniat untuk membuka salah satu mab itu tapi Intan mengulurkan niatnya.
Krek
Intan membulatkan matanya panik saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dia memejam matanya saat mndengar langkah kaki yang berjalan kearahnya begitu takut untuk berbalik melihat kearah orang itu.
"ibu?"
Intan menarik nafas lega sambil berbalik dan melihat, Mara yang sedang berdiri diambang pintu dengan wajah tanda tanya.
"kau Mengejutkan ibu saja" Intan membawa kembali kopi yang dia buat dan memperhatikan sesuatu dengan berjaga-jaga melihat kebelakang Mara sebelum menjawab pertanyaan Mara.
"ibu hanya membuat kopi untuk ayahmu"
"lalu kenapa ibu membawa kopinya?"
"ayah mu tidak ada disini..., makanya ibu bawa"
Intan menari nafas pelan, bersamaan dengan pikiran yang melintas di benaknya. Untuk apa dia panik seperti itu dia bahkan tidak melakukan apapun, dia bahkan tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Mara memberi jalan dengan memiringkan badannya saat ibunya melewatinya untuk menuju ke arah dapur. Mara merasa heran dengan sikap Intan yang sedikit aneh seperti itu.
.
.
.
"Garry..., tunggu"
Mara menatap punggung Garry dari jauh, dia yakin itu pasti Garry tapi apa yang dia lakukan di sini?. sebenarnya dia tidak mau memikirkan hal itu tapi kalaupun itu memang Garry kenapa dia pura-pura tidak mengenalnya.
Kakinya tiba-tiba melemah, langkahnya terhenti di sebuah taman kecil saat mengingat sesuatu.
"oke gue bakal kabullin permintaan lo, gue bakal jauhin lo, dan gue akan anggap kalo kita nggk pernah kenal!"
Dia menundukkan dirinya dengan menumpu badannya dengan kedua tangannya. Mara tertawa masam sambil memejamkan matanya.
"gue paham sekarang..., Mara kenapa lo bodoh seharusnya lo senang Garry jauhin lo bukannya ini yang lo mau?"
"tapi kenapa harus lo yang nolongin gue? Kenapa nggak Hanif aja?"
"lo nggak usah bilang makasih kalo nggak mau..., gue nolong lo tampa sengaja bukan untuk cari simpati."
Mara refleks berbalik dan bertemu dengan mata pria yang sedang menatapnya nyalang.
Matanya berkaca-kaca saat pria itu tiba-tiba berbicara seperti itu, baru saja satu langkah dia berjalan Garry berlalu begitu saja tanpa mempedulikan dia yang sedang memanggilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARRA [REVISI]
Fiksyen Remaja"Aku nggk sejahat itu buat ambil kamu dari Tuhanmu" "Kita hanya sekadar dipertemukan bukan untuk disatukan" "ini bukan perihal siapa yang kau cintai tapi ini tentang sebesar apa kamu mencintai" "kisah kita bahkan dimulai dari prolog dan diakhiri den...
![GARRA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/285150442-64-k495413.jpg)