pertandingan antar sekolah

36 16 6
                                        

Happy reading.

.

.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua murid berbondong menuju SMA Negeri 1 Jakarta untuk menyaksikan pertandingan bola basket.

Mara yang sedari tadi berlari mencari keberadaan Garry, tapi dia tidak menemukannya. Sepertinya pria itu sudah berangkat dari tadi. Dengan terpaksa Mara kembali menemui teman-temannya untuk berangkat ke sana.

"Yuk gays" ajak Mara, pada teman-temannya yang berdiri disampingnya.

"Lo abis dari mana?" Tanya Fanny.

"Toilet" bohong Mara.

Mereka hanya ber oh ria, dan bergegas pergi untuk menonton pertandingan itu. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai, memang jarak SMA Candikia, dengan SMA Negeri 1 Jakarta tidak terlalu jauh. Dengan senang mereka bertiga berjalan menuju lapangan. Untungnya masih banyak tempat duduk yang kosong di bagian tengah. Mara, Fanny dan juga Aillen, mendudukkan dirinya disana, menatap ke depan sudah ada Garry, Kusuma, Rafar, Gema, dan juga satu lagi?. Mara memperhatikan permai baru yang membelakangi mereka dengan seksama. Bertapa terkejutnya saat tau siapa pemain yang menggantikan Agra.

"Hanif!.., jadi dia yang gantiin Agra?" Ucap Mara pelan, seakan mendengarkan ucapan gadis itu, Hanif mantap kearah Mara sambil melambaikan tangannya.

Suara peluit mengalihkan perhatian semuanya, sekarang pertandingan sekolah Candikia dengan SMA negeri 1 Jakarta akan segera dimulai, dilihat dari semuanya tengah berdiri sambil bersalaman sebelum memulai pertandingan.

Pada saat bersalaman, Rifel menatap remeh kearah Garry sambil berbisik. "Silahkan terima kekalahan Lo"

Garry yang mendengar itu membalasnya tersenyum remeh sebelum membalas ucapan Rifel.

"Gue nggak takut" 

setelah mengatakan itu Garry sedikit berlari mengambil posisinya, 'posisi ke-tiga' pada saat wasit melempar bola Garry dengan cepat mengambil bola dan lansung di hadang oleh Rifel. dengan kecepatan lincah Garry melakukan 'dribble' dengan lincahnya  langsung mengoper kearah Hanif yang berdiri diposisikan ke-empat 'power forward' tanpa basa-basi Hanif mengiring bola dengan memantulkan bola dilantai. Karena tubuhnya yang tinggi Hanif dengan mudahnya melemparkan bola kearah Kusuma tanpa meleset sedikitpun. Kusuma kembali mengiring sambil melihat satu persatu timnya dengan mengontrol bola bersiap melempar bola untuk mengecoh lawan dengan memberikan umpan kepada lawan.

Tidak sampai disitu saja, Rifel yang ternyata sudah tau lansung berlari kearah Gema dan langsung menguasai bola, tersirat senyum remeh dibibir membuat Kusuma menggenggamkan tangganya kuat, dengan posisi 'point guard' dia akan berusaha mencuri bola dari tangan Rifel. Karena biasanya posisi itu ditempati oleh Agra Kusuma tidak terlalu bisa mengontrolnya. Alhasil tim Rifel mencetak satu point.

Garry menepuk pundak Kusuma pelan memberi isyarat mereka pasti menang. Kusuma dengan semangatnya mengangguk dan kembali ke posisi semula.

Sekarang bola berhasil dipegang oleh Rafar penembak panjang terbaik atau bisa juga disebut 'Shooting Guard' dengan gagahnya bola berhasil memasuki ring. Waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi, Garry dengan teman-temannya berhasil mencetak rekor 30 - 25. Walaupun tidak beda jauh.

Garry kembali menguasai bola dimana posisinya Mempertahankan bola dengan satu lawan satu, 'one-on-one'. Benar saja Rifel berdiri didepannya untuk mencuri bola dari tangannya. Dengan agresifnya Garry berlari sambil mengiring bola untuk berjaga-jaga dengan Rifel, yang memiliki posisi yang sama dengannya. Saat Garry hendak mencetak poin Rifel langsung menendang tulang kering Garry dan lansung mendorongnya. Wasit membunyikan peluit nya saat melihat Rifel melakukan pelanggan. Bukannya panik, Rifel malah tersenyum remeh melihat kearah Garry. Kusuma yang menyaksikannya lansung berlari menarik Krah baju Rifel kuat.

GARRA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang