Seperti biasa murid SMA Cendikia berdatangan begitu juga dengan gadis itu yang sedang buru-buru dikarenakan bel yang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Mara berjalan hati-hati saat melihat isi kelas dari jendela apakah gurunya telah datang? benar saja semua sudah mulai untuk belajar.
Dia memberanikan diri untuk masuk ke kelas dengan hati-hati tidak lupa mengucapkan salam, seketika semua mata mengarah kepadanya begitu juga dengan pak Budi.
Pak Budi melihat jam tangan nya dan menggelengkan kepalanya saat melihat gadis itu sudah sangat terlambat.
"kenapa kamu terlambat dan mana surat izin masuknya?"
"Maaf pak, tidak ada" ucapnya hati-hati.
"Saya minta maaf tapi kamu tidak bisa masuk ke kelas tanpa surat izin,"
"maaf pak,kalo begitu aku permisi pak."
"Silahkan"
Mara berjalan menuju ruang piket tapi langkahnya terhenti, karena ternyata ada beberapa orang yang terlambat termasuk juga Garry. walaupun sedikit kesal dia terus melangkahkan kakinya demi mendapatkan surat izin masuk.
"Maaf kak aku boleh minta surat izin masuk?"tanyanya. seketika pandangan semuanya mengarah ke arahnya, tapi satu dari mereka melangkah mendekati Mara.
"Lo terlambat?" tanya seorang cewek yang Mara yakin dia kakak kelas yang sok berkuasa di sekolah ini.
"Iya kak" lagi-lagi cewek itu menatap Mara bingung.
"Dari mana lo bisa masuk? Manjat pagar?.
Tapi kayaknya nggak mungkin deh"
"Aku masuk lewat depan kak, aku bisa masuk karena tidak ada bapak satpamnya"
"Hmm, lo mau surat nya kan?" tanyanya lagi sambil tertawa remeh. Sedangkan Mara hanya meng-iakan.
"Boleh sih tapi lo harus ngerjain tugas lo dulu, dan tugas lo itu menyapu lapangan basket sampai bersih. kalo udah, suratnya akan gua kasih"
"Aku sendiri kak?"
"Yaiyalah sama siapa lagi?"
"Sama gue" ucap salah satu dari mereka, dia adalah Garry. "Gue bakal bantuin dia buat bersihin lapangan basket" ucap garry.
"Tapi lo itu kan ketu--"
"Gue nggak peduli lagipula gue juga terlambat jadi gue boleh dong bantuin dia"
"Ngga usah Garry, gue bisa sendiri kok"
"Lo diam aja gue benci penolakan, ayok"ajaknya
Tiba-tiba Garry lansung menarik tangan Mara untuk pergi dari ruang piket. Mara menatap lapangan basket sangat bersih sama sekali tidak ada yang harus dibersihkan, dia menarik nafas lega seenggaknya dia tidak jadi repot-repot membersihkan lapangan ini.
Setelah merasa aman Mara bergegas pergi dari sana, tapi tangganya lansung ditahan oleh Garry.
"Mau kemana lo?"
"Balik ke ruang piket lah mau minta surat izin masuk gue capek diluar."
"Lo bego apa gimana sih? Kalo lo kesana yang ada lo dikasih tugas lain, ini lo udah untung lapangan sudah dibersihkan" Mara memikirkan semua yang diucapkan Garry, laki-laki itu benar kalo dia minta sekarang bukannya dapat bakal dapat kerjaan baru.
"Terus gue harus gimana" Mara menatap Garry serius, Garry yang ditatap tersenyum kepada Mara dan menuntun Mara agar duduk dibangku yang telah tersedia.
"Lo disini aja dulu"
"Tapi__"
"Udah percaya sama gue" Garry berucap sambil memegang tangan Mara"
KAMU SEDANG MEMBACA
GARRA [REVISI]
Teen Fiction"Aku nggk sejahat itu buat ambil kamu dari Tuhanmu" "Kita hanya sekadar dipertemukan bukan untuk disatukan" "ini bukan perihal siapa yang kau cintai tapi ini tentang sebesar apa kamu mencintai" "kisah kita bahkan dimulai dari prolog dan diakhiri den...
![GARRA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/285150442-64-k495413.jpg)