Jika hidup adalah pilihan, aku akan memilih untuk tidak mengetahui realita yang menyakitkan daripada dijatuhkan oleh angan-angan...
..ya, biarlah dipenuhi dengan kebohongan..
Harun menarik nafas panjang saat melihat anak dan istrinya sedang termenung di ruangan tamu, dia berfikir pasti mereka berdua sedang memikirkan anak itu. Dengan mengeluarkan sebuah senyuman Harun berjalan kearah mereka berdua, sambil memberikan ekspresi seperti membawa kabar gembira.
"Ayah kenapa? Kok kelihatannya sedang bahagia gitu?" Tanya Marra.
"Tebak, ayah ada sesuatu buat ibu sama Mara" jawab ayah. Mara bergumam seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Hari ini ayah menerima gaji ya?" Tanya Mara.
"Bukan, tebak lagi.."
"Ayah dapat bonus dari bos ayah?" Kali ini Intan yang menjawab.
"Bukan"
"Kalo gitu, ayah cerita dong, Mara sama ibu nggak tau" keluh Mara.
"Yaudah deh. Sebenarnya untuk beberapa hari ini ayah dikasih libur, jadi kita bisa jalan-jalan!" Ucap Harun dengan senangnya.
"Beneran yah!?" Tanya Mara memastikan, gadis itu tidak kalah senangnya, karena dia sangat jarang untuk bisa berlibur dengan keluarganya.
"Ayah nggak minta libur kan?" Tanya Intan. Seketika raut wajah Mara berubah, dia sangat senang sampai tidak memikirkan hal yang baru saja yang ibunya tanyakan.
"Ibu sama Mara tidak usah pikirkan hal itu, ayah selalu bahagia jika kalian bahagia." Jawab Harun.
"Tapi ayah nggak perlu segitunya buat kita senang, karena saat kita berkumpul seperti ini, sudah cukup buat Mara sama ibu bahagia. Iya kan Bu?" Mara menghadap kearah ibunya, Intan dengan cepat membenarkan ucapan Mara.
"Kalian dengarin ayah ya? Tugas ayah buat kalian bahagia, ayah kerja juga buat kalian, jadi nggak papa sekali-kali kita jalan-jalan, lagi pula ayah juga capek kerja butuh refreshing" ucap Harun.
"Yaudah deh. Mara minta maaf, kalo gitu kita mau kemana!?"
"Ada deh, rahasia"
"Ayah.., kasih tau Mara dong, kalo ibu jangan!" Mara mengayun-ayunkan tangan ayahnya.
"Nggak bisa gitu dong.. kalo Mara di kasih tau, ibu juga mau tau"
"Rahasia!" Harun menjulurkan lidahnya kearah Mara dan Intan. Mara yang melihat aksi ayahnya tertawa kencang karena lucunya.
...
"Ayah. kita nggak salah tempat kan.. tempatnya bagus banget, pasti mahal?" Tanya Mara
"Nggak papa, kalian tenang aja" jawab ayah Santi, Harun terdiam sebentar, Andai aja keluarganya tau, kalau restoran ini miliknya, mungkin ekspresi mereka nggak akan kaya gini.
Setelah beberapa menit, hidangan yang mereka tunggu akhirnya tiba, Mara tercengang melihat empat pelayan yang sedang berbaris ingin meletakkan hidangan di meja mereka, pandangannya menatap ayahnya Seolah sedang berbicara. "Ayah yakin?" Harun, paham, dia tersenyum membuat Mara sedikit lebih lega.
Meja makan yang hanya di isi oleh mereka bertiga terasa begitu rame dengan suara gelak tawa yang mereka keluarkan dengan lelucon semata, sebelum Intan- menyuruh mereka untuk berhenti tertawa dan melanjutkan makannya.
"Sudah dulu ketawanya, kalian makan dulu, mubasir" Mara mengangguk, begitu juga dengan ayahnya yang lansung melanjutkan untuk makan.
Mara mengambil beberapa tisu untuk menghapus sisa-sisa makanan dari bibirnya, sebelum berdiri dari duduknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARRA [REVISI]
Подростковая литература"Aku nggk sejahat itu buat ambil kamu dari Tuhanmu" "Kita hanya sekadar dipertemukan bukan untuk disatukan" "ini bukan perihal siapa yang kau cintai tapi ini tentang sebesar apa kamu mencintai" "kisah kita bahkan dimulai dari prolog dan diakhiri den...
![GARRA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/285150442-64-k495413.jpg)