Perlahan mata itu mulai terbuka dan memandang langit-langit kamarnya sebelum beralih menghadap kesamping. Senyuman Mara mengembang saat melihat, Fanny yang tengah tertidur di pundak Hanif yang sedang duduk bersabar di salah satu sofa yang ada di depan ranjang.
Matanya beralih melihat jam yang berada diatas nakas dan kembali menatap Fanny dan juga Hanif.
"ternyata udah setengah tiga, pantasan mereka tertidur"
Sekilas ingatan tentang kejadian kemarin siang terlintas di benaknya. Mara mencoba untuk duduk disisi ranjang tapi kepalanya begitu sakit dan lansung mengurungkan niatnya.
Tapi lagi-lagi pikirannya mengarah kesana. Bertanya-tanya apakah pria itu (Garry) yang sudah menolongnya. Mara merutuki dirinya apakah dia merindukan Garry sampai-sampi di keadaannya yang sekarat pun dia malah membayangkan wajah pria itu.
"Damara sadar, apa yang sedang kau pikirkan"
Damara mengusap kepalanya yang kembali nyeri sebelum rintih itu keluar dari bibirnya. Mara mencoba memejamkan matanya untuk kembali tidur supya kepalanya tidak terlalu sakit. Dia hanya tidak ingin kalau Hanif ataupun Fanny terbangun mendengar rintihannya itu dia sudah sangat banyak merepotkan mereka.
...
Hanif memandang wajah pucat Mara yang sedang tertidur pulas. Pria itu tersenyum masam mengingat bahwa bukan dialah yang sudah menolong Mara tapi dia sangat bersyukur setidaknya Mara selamat walaupun dengan keadaan gadis itu sekarang.
"Seharusnya gue dari dulu sadar dengan prasaan gue, Mar" tangannya beralih memegang tangan gadis itu dan mengusap lembut sebelum kembali menundukan kepalanya.
"padahal dia hanya menolong tidak lebih tapi, kenapa gue sehancur ini? Gue merasa tidak berguna walaupun hanya menjadi sahabat kecil lo-tidak lebih"
Perlahan hanif melepaskan genggamannya dan bergegas untuk keluar. Hanif terkejut saat seseorang kembali menarik tangannya dan begitu takut untuk membalikan badanya.
Apa Mara mendengar semuanya?
"Hanif"
Hanif memejamkan matanya dan memberanikan dirinya untuk membalikkan badannya.
"l-lo uda-ah bangun?" Hanif terbata saat bertanya pada gadis itu. Mara tertawa kecil melihat tingkah Hanif yang sedikit menggemaskan.
"gue dengar ... Nggak masalah"lanjutnya.
Mara tau apa yang akan Hanif tanyakan padanya maka dari itu dia lansung menjawabnya walaupun dia sempat terkejut mendengar pengakuan Hanif bisa dibilang secara tidak lansung.
"tidak perlu dipikirkan, Mara"
Mara menarik nafasnya pelan dan menyuruh Hanif untuk duduk kembali.
"maaf ... Gue cuman bisa nyusahin lo" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"apapun akan gue lakuin buat lo Mar, kalo itu bisa buat lo senang"
Bukannya lega Mara bahkan kembali merasa bersalah mendengar ucapan Hanif. Dia merasa sangat tidak menyangka kalau Hanif suka padanya bahkan dia tidak tau langkah apa yang harus dia ambil.
Dia bahkan bingung dengan prasaan nya sendiri walaupun pikirannya beralih mengingat Garry-Pria yang seharusnya dia jauhi.
"gue nggak tau harus bilang apa ke lo, gue bingung"
Mara mengalihkan pandangannya ke jendela kamar memandang keluar sana seakan ada sesuatu yang menarik disana. Hanif kembali menggenggam tangan Mara sebelum kembali berucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARRA [REVISI]
Ficção Adolescente"Aku nggk sejahat itu buat ambil kamu dari Tuhanmu" "Kita hanya sekadar dipertemukan bukan untuk disatukan" "ini bukan perihal siapa yang kau cintai tapi ini tentang sebesar apa kamu mencintai" "kisah kita bahkan dimulai dari prolog dan diakhiri den...
![GARRA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/285150442-64-k495413.jpg)