fakta yang membahagiakan

59 40 3
                                        


"Kesabaran, hati, bahkan pikiranku sangat susah untuk diajak kerja sama"

"Tapi aku cukup bahagia mengetahui itu walaupun diucapkan melalui perantara"
.


.


Garry merebahkan tubuhnya di kasurnya, sekarang pikirannya kacau. Bukan karena Mara, melainkan dengan keluarganya. Terutama pada Rezi, kakak yang sangat dia sayang.

"kalau aku punya kakak laki-laki kayak kak Garry, aku pasti nggak akan kesepian"

Benar. Itu ucapan Garra yang terngiang-ngiang ditelinganya, bahkan sejak tadipun dia hanya diam, menyimak tampa berbicara sepatah katapun.

"Gue punya Abang, punya keluarga lengkap, tapi tetap aja kesepian" ucapnya pelan. setelah berguman pelan, Garry berdiri mengambil kunci motornya yang terletak di atas nakas, bahkan belum sampai beberapa menit dia berada di kamarnya, dia bahkan sudah sangat bosan.

...

Tok..tok..tok

Beberapa kali Garry, mencoba menotok pintu kos itu, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.

Clek

Suara pintu terbuka mengembalikan fokusnya, tapi ternyata bukan dari ruangan itu, melainkan dari kamar sebelah. Garry beru saja berniat untuk pergi tapi ucapan seseorang membuatnya menghentikan langkahnya.

"Nyari Rezi? Lo pasti adiknya kan?" Jujur saja, ucapan 'adik' membuat Garry terkejut, begitu banyak yang ingin dia tanyakan. Seperti, dari mana orang ini tau, apa orang ini mengenalnya atau mengenal keluarganya. Bahkan teman-temannya sendiri baru saja mengetahuinya.

"Iya, bang Rezi kemana?" Garry mulai bertanya, pandangnya fokus kearah pria yang tepat didepannya, bukan apa-apa, hanya saja seperti dia sangat dekat dengan Rezi.

"Kita bicara di depan saja" lanjutnya, sambil menunjuk kearah bangku yang ada di depan, Garry hanya mengangguk mengikuti langkah pria itu.

"Jadi benar, Lo adiknya?" Garry kembali mengangguk pelan, membenarkan pertanyaan pria itu.

"Gue nggak tau Rezi kemana, tapi akhir-akhir ini kosnya kosong, terakhir dia pulang kesini dua hari yang lalu, itupun diantarin sama teman-temannya. Kayaknya terjadi sesuatu, gue nggak tau apa. Tapi gue yakin dia nggak baik-baik, karena Setelah malam itu gue nggak tau dia kemana" ucapnya panjang.

Garry hanya memehami kata-demi kata yang keluar dari mulut pria itu. "Lu nggak usah khawatir, gue yakin Rezi bakal baik-baik aja" lanjutnya. Sedangkan Garry hanya mengangguk paham.

"Kalo boleh tau, Lo tau dari mana gue adiknya Rezi?" Akhirnya pertanyaan yang sangat ingin dia lontarkan keluar begitu saja dari mulutnya.

"Gue udah yakin Lo pasti Nanya soal itu" ucapnya menatap kearah Garry.

"Tapi, percaya nggak percaya, gue cukup dekat dengan Rezi. dia juga sering cerita soal Lo ke gue."

"Sangat sulit dipercaya." Ucapnya. "Gue nggak tau, apa yang terjadi di antara keluarga kalian, tapi Rezi pernah bilang, kalo dia punya adik walaupun hubungannya dengan adiknya bisa dibilang kurang baik, dan itu karena dia"

"Dia terpaksa harus benci sama Lo. Sorry gue cuman bisa cerita sampai situ, gw pergi dulu, mau kerja soalnya."

Diam, Garry hanya diam membeku di tempatnya, bahkan kakinya keram untuk meninggalkan tempat ini. Apakah dia salah dengar, atau orang itu hanya mengarang cerita? tapi tetap saja, dia tidak bisa menutup kemungkinan kalau dia sedang bahagia sekarang, tujuannya datang kesini nggak sia-sia.

GARRA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang