tuhan kalian berbeda

57 41 19
                                        


Happy Reading

Haruskah aku memulai? walaupun kecil kemungkinan untuk bersama.

...

"tumben lo kesini, gimana keadaan lo?" Hanif menggeser posisinya sedikit kesamping lalu memukul pelan tempat duduknya dan mengisyaratkan untuk gadis itu duduk disampingnya.

"gue baik" jawabnya. Mara terdiam sesaat sebelum mulai berbicara, sedangkan Hanif hanya menunggu gadis itu berbicara.

"sebenarnya gue kesini pengen ngomong sesuatu sama lo" Hanif menarik alisnya bingung tidak seperti biasanya Mara minta izin terlebih dahulu padanya, biasanya dia akan lansung berbicara tanpa berfikir panjang.

Hanif melihat raut bingung di wajah Mara padahal dia belum berbicara apapun, jujur saja itu semakin membuat Hanif penasaran.

"ngomong aja Mara" ucapnya meyakinkan.

"gue takut lo kecewa, Nif"

Sekarang tatapan Hanif sepenuhnya mengarah dihadapkan gadis itu, menatapnya dengan seksama kalau dia tidak kenapa-napa.

"lo lihat gue, emang nya gue kenapa?... Gue nggak papa kan?"

"ini tentang prasaan gue sama Garry"

Hanif terdiam, benar yang Mara katakan, walaupun dia belum menceritakan apapun tapi hatinya begitu perih saat gadis yang dia suka membicarakan prasaannya pada orang lain.

Hanif berusaha bersikap biasa, meyakinkan kalau dia tidak apa-apa sekarang.

Sedangkan gadis itu dia tau apa yang membuat pria itu tiba-tiba terdiam walaupun sedikit memperlihatkan senyumannya itu tidak sedikitpun membuat Mara tertipu kalau pria itu Sedang memikirkan sesuatu.

Mara merasa tidak enak, tapi dia sama sekali tidak tahu harus bercerita kesiapa, bisa saja dia memendamnya sendiri, tapi dia butuh pendapat seseorang. Ke Fanny? Mara benar-benar tidak berani bercerita ke temannya itu, dia takut kalau Fanny kecewa padanya yang ternyata benar-benar menyukai Garry, tapi ini hanya tiba-tiba dan dia tidak pernah menyangkal kalau prasaan datang begitu cepat pada pria itu.

Haruskah dia menyalahkan perasaannya?
Bukan hanya itu Mara juga takut Fanny berpikiran sama dengan Aillen tentangnya, dia begitu takut menceritakan semuanya.

Sebelum itu Mara juga berfikir untuk menceritakan ke ibunya, tapi dia mengurungkan niatnya walapun dia tau ibunya tidak akan marah hanya saja, dia takut ibunya kecewa padanya, mengingat masalah yang dia hadapi. Karena itu dia tidak mau nantinya ibunya berakhir kecewa padanya.

Satu-satunya tempat cerita yang tepat hanya hanif, tapi Mara teringat saat Hanif mengungkapkan perasaannya bisa dibilang secara lansung padanya, Mara bingung, dia kembali berfikir apakah dia jahat kalau menanyakan hal ini pada Hanif.

Bahkan dia baru mengucapkan nama garry tapi raut mungka hanif tiba-tiba berubah walaupun dia berusaha menutupinya.

Sekarang dia semakin bingung tidak tau apa yang harus dia katakan.

Mara melamun sangat lama dan itu membuat Hanif bingung lalu melambaikan tangan didepan wajah Mara sambil memanggil nama gadis itu.

"Mara, hey. Lo nggak papa?"

Mara yang menyadari itu sedikit terkejut dan sedikit gugup untuk berbicara.

GARRA [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang